Hiu berjalan Halmahera, mengapa spesies endemik Maluku Utara ini makin rentan

Spesies hiu berjalan Halmahera. Yoppy Jutan, Author provided (No reuse)

Dalam tiga dekade terakhir, penangkapan hiu di perairan Indonesia meningkat pesat. Sejak 2000, penangkapan hiu telah mencapai lebih dari 100 ribu ton per tahun. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi tren penurunan eksploitasi hiu.

Dengan demikian, paling tidak dalam sejam terdapat sekitar 11 ton hiu yang ditangkap di perairan Indonesia, termasuk untuk hidangan lezat dan mahal di meja makan para penggemar hiu di Asia dan Pasifik.

Pada era sebelumnya, antara 1976 dan 1990, penangkapannya mencapai 80.000 ton per tahun. Level kenaikan tangkapan ini merupakan yang tertinggi di dunia sehingga Indonesia masuk dalam daftar 20 negara penghasil hiu.

Kenaikan tangkapan level nasional ini sejalan dengan kenaikan produksi hiu skala global. Data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO)2016 menunjukkan bahwa eksploitasi hiu secara global pada 1950-an mencapai 300.000 ton setahun. Puncak penangkapan terjadi pada 2000, mencapai 888.000 ton per tahun. Data terakhir pada 2013, masih pada angka 800.000 ton.

Lembaga konservasi menyebut keadaan ini sebagai tangkap lebih karena penangkapan hiu telah melebihi potensi lestarinya sehingga konservasi tidak berjalan di perairan Samudera Hindia Timur dan Pasifik Barat Tengah, yang merupakan wilayah perairan Indonesia.

Padahal secara biologis hiu berkembang sangat lambat dan spesies ini ikut menentukan produktifitas perairan karena memiliki peranan penting dalam mengatur keseimbangan ekosistem di suatu perairan.

Perikanan hiu tergolong unik karena hampir 70% merupakan hasil tangkapan sampingan (by-catch) dari pengoperasian berbagai alat penangkapan ikan. Saat ini, hiu telah menjadi sumber pendapatan masyarakat karena hampir seluruh bagian tubuh hiu dapat dimanfaatkan baik sirip, daging, tulang, kulit dan hati. Hal ini yang menjadi pemicu terjadinya peningkatan produksi hiu secara global dan konsumen terakhir adalah orang-orang yang bisa membeli ikan hiu.

Minimnya informasi biologi serta tingginya “eksploitasi” hiu yang tidak disertai data yang akurat, akan menyulitkan dalam upaya pengelolaan hiu secara lestari. Hal inilah yang mendorong konservasionis internasional lebih memusatkan perhatiannya pada penelitian dan konservasi sumber daya hiu di Indonesia, terutama pada jenis-jenis hiu yang dilindungi dan terancam punah.

Riset saya menunjukkan bahwa hiu berjalan Halmahera tergolong sebagai spesies endemik lokal perairan dangkal Halmahera, Maluku Utara. Statusnya rentan bahkan terancam kritis jika tidak segera ditetapkan sebagai spesies prioritas nasional yang dilindungi.

Asal Usul hiu berjalan Halmahera

Survei Allen dan Erdmann (2012) dalam Limmon dkk. menempatkan perairan Halmahera dengan tingkat keragaman relatif ikan karang tergolong “excellent” dengan nilai Coral Fish Diversity Index(CFDI) 327. Perairan ini memiliki jumlah record species ikan karang yang pernah ditemui sebanyak 974 spesies dari perkiraan 1.271 spesies, termasuk spesies endemik.

Salah satu spesies hiu yang pernah ditemukan di perairan Halmahera, Maluku Utara adalah hiu berjalan Halmahera, dikenal dengan sebutan Walking Shark Halmahera (Hemiscyllium halmahera).

Untuk riset ini, saya menganalisis DNA untuk melacak asal usul (natural history) hiu berjalan Halmahera. Hasil temuan menunjukkan hiu ini tergolong sebagai spesies endemik lokal. Rentang distribusinya sempit, hanya di perairan dangkal Halmahera. Spesies ini tidak pernah dilaporkan atau diidentifikasi di perairan lain di seluruh dunia.

Penelusuran data bioinformatik hiu ini terhadap gen bank National Center for Biotechnology Information (NCBI) menunjukkan bahwa hiu berjalan Halmahera memiliki tingkat akurasi kekerabatan atau kesamaan secara genetik hanya 92% dengan spesies Chiloscyllium griseum yang pernah ditemui di perairan India, Pakistan, dan Thailand. Jadi keduanya sama pada tingkat family, tapi berbeda pada genus dan spesies.

Sebelumnya, sebuah riset pada 2016 menyatakan hiu berjalan Halmahera mempunyai kekerabatan dengan 8 spesies hiu lainnya dari famili Hemiscylliidae yang ditemukan di perairan Australia, Papua Nugini, Papua, dan Kepulauan Aru.

Hiu berjalan Halmahera di ambang perairan Teluk Kao, Maluku Utara. Yoppy Jutan, Author provided (No reuse)

Selama satu tahun, antara Maret 2017-Februari 2018, saya melakukan penyelaman malam sebanyak 296 kali pada kedalaman laut antara 10 hingga 20-an meter di ambang perairan Teluk Kao, Maluku Utara. Saya menemukan sebanyak 604 hiu berjalan Halmahera dengan panjang antara 16,9-79 centimeter yang diduga berumur maksimal sekitar 7 tahun.

Pertumbuhan ukuran ikan ini tergolong cepat di usia muda dan mencapai dewasa saat berusia di atas 2-3 tahun, tepat saat mulai pertama mengalami matang gonad (kelenjar seks). Hasil analisis terhadap laju pertumbuhan populasinya di alam tergolong “moderat” atau “sedang”.

Terancam oleh merkuri

Dinamika pertumbuhan individu dan populasi Hemiscyllium halmahera terkait erat dengan tingkat kesehatan ekosistem terumbu karang. Siklus hidupnya, sejak pemijahan, perkembangan embrio menjadi juvenil (muda) hingga mencapai dewasa, membuktikan bahwa ikan ini penghuni terumbu karang dangkal dengan kondisi tempat hidupnya sedang berada dalam status terancam.

Hasil analisis kandungan logam berat berbahaya seperti merkuri pada kulit, sirip jalan, daging serta organ pencernaan dalam tubuh ikan hiu ini menunjukkan nilai kandungan merkuri telah melebihi ambang batas yang ditetapkan, terutama pada organ pencernaan.

Status Konservasi

International Union for Conservation of Nature (IUCN) menggariskan bahwa upaya konservasi perlu didukung dengan sejumlah informasi bioekologi yang memadai terkait karakteristik spesies target baik aspek alamiah maupun aspek dinamika populasinya. Data bioekologi berguna sebagai basis kebijakan konservasi hiu berjalan Halmahera.

Hingga kini hanya terdapat 8 spesies hiu yang mirip dan masih satu famili dengan spesies hiu berjalan Halmahera yang terdaftar pada IUCN Redlist dan memiliki status konservasi.

Sedangkan hiu berjalan Halmahera belum masuk dalam daftar spesies yang dilindungi karena belum memiliki ketersediaan data yang cukup. Dengan demikian, hingga saat ini belum pernah ada upaya pengelolaannya secara lestari.

Konservasi dan nilai tambah ekonomi

Tantangan terbesar dalam perikanan hiu di Indonesia adalah bagaimana membuat model konservasi secara berkelanjutan. Model pengelolaan sumber daya hiu di Indonesia seharusnya dapat menjadi pilar pembangunan ekonomi secara nasional, dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekologi, budaya serta ancaman terhadap hiu di alam liar.

Species Hemiscyllium halmahera merupakan spesies prioritas nasional yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, saya mengusulkan kepada pemerintah segera menetapkan model pengelolaan kawasan konservasi perairan. Salah satu model usulan pengelolaannya dapat dilakukan dengan pendekatan pengelolaan Taman Wisata Alam Laut Tobelo seluas 60.000 hektare yang berbasis masyarakat.

Dengan demikian, hiu berjalan Halmahera bukan hanya sebagai spesies unggulan yang harus dilestarikan tapi juga dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari.