Menu Close

Indonesia bisa hemat hingga Rp 1 triliun jika vaksinasi PCV pakai kemasan multi-dosis

Seorang murid menerima vaksin di sekolahnya di Banda Sakti di SDN1 Lhokseumawe, Aceh. ANTARA FOTO/Rahmad/ama.

Meski hampir 300.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus, seperti meningitis, bronkitis, pneumonia, dan sinusitis, pemerintah Indonesia belum juga memasukkan vaksin yang mencegah infeksi bakteri pneumokokus yang disebut PCV (Pneumococcus Conjugated Vaccine) ke dalam program imunisasi rutin nasional.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengakui bahwa PCV adalah salah satu vaksin yang paling mahal. Hal tersebut yang menjadi alasan utama pemerintah belum memasukkan ke dalam program imunisasi nasional. Sementara pemberian vaksin harus diulang pada usia 2, 3, dan 12 bulan.

Untuk mengatasi hal ini, riset kami merekomendasikan pemberian PCV dalam kemasan multi-dosis yang terbukti lebih ekonomis ketimbang dosis tunggal.

Indonesia saat ini memberikan PCV hanya dalam dosis tunggal. Pemberian multi-dosis rencananya akan dimulai pada 2024 ketika PCV ditargetkan masuk ke dalam program imunisasi nasional.

Namun, riset kami menghitung bahwa pemerintah bisa menghemat hingga US$70 juta atau sekitar Rp 1 triliun dengan pemberian vaksin dalam kemasan multi-dosis pada program pemberian PCV di Indonesia selama periode 2019-2024.

Dengan penghematan ini, pemerintah bisa menggalakkan pemberian PCV dan memasukkannya dalam program vaksin nasional lebih awal.

Multi-dosis lebih ekonomis

Dari studi di beberapa negara di Asia sejak 2009 hingga 2020, kami menghitung elemen biaya vaksinasi PCV dan menemukan bahwa pemberian vaksin PCV kemasan multi-dosis lebih murah dibandingkan dengan dosis tunggal.

Harga PCV di seluruh dunia sangat bervariasi, dari US$3,30 (sekitar Rp 50.000) hingga US$159 per dosis.

Vaksin PCV ada yang dalam bentuk dosis tunggal dan ada yang multi-dosis atau beberapa dosis dalam satu tabung.

Di Indonesia, harga vaksin PCV13 (dosis tunggal) dengan mekanisme pembelian melalui kontrak antara Kementerian Kesehatan dengan produsen vaksin berkisar sekitar Rp 250.000 per dosis. Harga tersebut menjadi jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di pasar bebas yang bisa mencapai Rp 750.000.

Pembelian melalui kontrak antara Kementerian Kesehatan dan produsen vaksin ini diinisiasi pada 2017.

Namun sejak 2021, Indonesia berhak mendapatkan PCV melalui mekanisme advanced market commitment (AMC) yaitu pembelian yang melibatkan UNICEF sebagai operator untuk pendistribusian vaksin dari GAVI. GAVI merupakan hasil kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk memastikan distribusi vaksin menjangkau negara-negara yang kurang mampu.

Melalui mekanisme ini, harga vaksin PCV13 (dosis tunggal) berkisar sekitar Rp 47.850 per dosis. Sedangkan vaksin yang sama dalam sediaan multi-dosis melalui mekanisme GAVI harganya hanya US$2,9 (sekitar Rp 39.150). Ada tiga jenis vaksin PCV multi-dosis yang harganya bervariasi, mulai dari US$ 2 hingga US$3,05.

Saat ini, ada lima produk PCV yang dapat diperoleh negara-negara yang difasilitasi oleh GAVI melalui UNICEF Supply Division (SD) pada 2020, termasuk Indonesia. Vaksin ini adalah PCV13 dosis tunggal (satu dosis/tabung) dan multi-dosis (empat dosis/tabung), PCV10 produk A multi-dosis (empat dosis/tabung), PCV10 produk B dosis tunggal (satu dosis/tabung) dan multi-dosis (lima dosis/tabung).

Harga PCV dalam multi-dosis lebih murah daripada dosis tunggal karena produsen dapat menghemat biaya pengemasan dan distribusi.

Dari segi efektivitas, PCV10 dan PCV13 menunjukkan dampak dan efektivitas yang sebanding secara keseluruhan. Kedua jenis vaksin ini memiliki profil keamanan yang baik dan tidak menimbulkan efek samping yang serius

Hasil riset kami menunjukkan bahwa pengalihan penggunaan PCV dari dosis tunggal ke multi-dosis akan berpotensi menghemat sekitar US$0,4 sampai US$ 1,5 untuk satu kali pemberian. Jika dihitung total, maka penghematan yang diraih bisa mencapai US$70 juta dari 2019 hingga 2024.

Keuntungan pemberian imunisasi PCV

Riset kami juga membuktikan bahwa pemberian imunisasi PCV kepada anak di bawah satu tahun bisa menghemat biaya perawatan yang harus dikeluarkan negara untuk penyakit yang disebabkan bakteri pneumokokus.

Bakteri pneumokokus pada anak-anak di bawah 5 tahun dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, mulai dari dari meningitis, bronkitis, pneumonia, dan sinusitis yang bisa membebani pemerintah sekitar US$4 juta atau sekitar Rp 58 miliar. Angka ini diambil berdasarkan penelitianperkiraan penghematan biaya perawatan akibat penyakit tersebut dalam jangka waktu 6 tahun (2019–2024) dengan pemberian imunisasi PCV.

Jumlah itu setara kira-kira setara dengan dana alokasi khusus dari pemerintah pusat untuk operasional kesehatan, pembangunan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), obat, dan jaminan persalinan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Selama ini, pemerintah telah mengintensifkan strategi pencegahan dan pengendalian di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit melalui kampanye pemberian ASI eksklusif dalam enam bulan pertama kehidupan dan perbaikan gizi. Juga ada kampanye pencegahan berat badan lahir rendah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat pneumonia pada anak-anak bawah lima tahun.

Sebenarnya, dibandingkan situasi pada 1990, kematian anak akibat pneumonia kini telah dapat berhasil ditekan hingga 87%. Menurut data Kementerian Kesehatan 2020, jumlah kasus pneumonia pada bayi berusia kurang dari satu tahun menurun dari 175.437 pada 2017 menjadi 167.665 pada 2018 dan 153.987 pada 2019.

Jumlah kasus pneumonia pada anak berusia 1-5 tahun pun menurun dalam rentang waktu yang sama, dari 338.201 pada 2017 menjadi 337.666 pada 2018 dan 314.455 pada 2019.

Memberikan vaksin adalah upaya pencegahan lainnya yang dapat mengurangi biaya perawatan yang harus dikeluarkan saat sakit dan mencegah kematian anak-anak akibat bakteri pneumokokus.

Artikel ini terbit atas kerja sama The Conversation Indonesia dan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 146,800 academics and researchers from 4,380 institutions.

Register now