Menu Close

Kebijakan Anies batasi TransJakarta blunder: ini 3 cara menghindar tertulari COVID-19 di kendaraan umum

Kereta komuter di Jakarta, 15 Maret 2020, kosong setelah pemerintah DKI menutup lokasi wisata dan sekolah dua minggu mulai Senin kemarin untuk menekan penularan COVID-19. EPA/ADI WEDA

Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengurangi jumlah armada, frekuensi dan waktu layanan transportasi publik (TransJakarta, MRT, dan LRT) untuk menurunkan potensi risiko penyebaran COVID-19 justru menuai kritik keras.

Sebab pada hari pertama (Senin kemarin) pemberlakuan kebijakan tersebut justru melahirkan antrean panjang penumpang di stasiun yang menyebabkan mereka berkerumun dalam jarak dekat satu sama lain.

Setelah dikritik banyak pihak termasuk dari Presiden Joko Widodo, tiga jenis transportasi publik itu mulai hari ini kembali normal tapi dengan pembatasan penumpang per gerbong untuk mengurangi jarak kontak antarpenumpang.

Alasan pembatasan transportasi publik itu sebenarnya masuk akal jika semua pekerja yang biasanya pulang-pergi naik angkutan umum bekerja di rumah. Masalahnya, imbauan pemerintah lebih baik kerja di rumah tidak diikuti oleh semua perusahaan swasta sehingga banyak pekerja tetap harus kerja di kantor-kantor di Jakarta. Penumpang harian Transjakarta, yang biasanya hampir 800.000 orang, dan MRT sekitar 80.000 orang, masih tetap berebut naik angkutan tersebut.

Selain itu, kereta komuter dari kota-kota penyangga ke tengah Ibu kota yang tiap hari mengangkut penumpang lebih banyak (sekitar 1,1 juta) dibanding tiga moda transportasi tersebut tetap beroperasi normal. Ini artinya kebijakan bidang transportasi di Jabodetabek tidak seragam sehingga efektivitasnya mencegah penularan SARS-CoV-2, jenis coronavirus yang menyebabkan penyakit COVID-19, sangat diragukan.

Kerumunan penumpang justru potensi melahirkan malapetaka karena bisa mempercepat kemungkinan penularan jika ada penumpang yang terinfeksi. Masyarakat yang antre tidak mengetahui status kesehatan satu sama lain karena adanya kasus-kasus underreported (tak terdeteksi/tak dilaporkan).

Dalam konteks ini, pembatasan layanan transportasi tanpa pertimbangan matang dan tanpa koordinasi yang baik antara pemerintah Jakarta dan pemerintah daerah-daerah penyangga serta pemerintah pusat malah bisa jadi kontraproduktif dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Mengapa transportasi dibatasi

Transportasi publik (dalam konteks ini kereta api dalam negeri) di daratan Cina berperan besar dalam menyebarkan SARS-CoV-2 pada Desember 2019 dan Januari 2020.

Peneliti Cina mempelajari perjalanan coronavirus di Wuhan dengan model matematika yang memperkirakan jumlah penyebaran yang eksponensial alias penularannnya begitu besar dalam waktu cepat pada fase-fase awal wabah. Orang yang terinfeksi dapat menularkan virus melalui permukaan benda-benda seperti tempat pegangan tangan, gagang pintu, dan berbagai pegangan di area moda transportasi publik.

Virus ini dapat menular melalui tetesan atau percikan pernapasan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Tetesan ini dapat mendarat di mulut atau hidung orang yang berada di dekatnya, mungkin terhirup ke dalam paru-paru, atau menempel pada benda-benda di sekitarnya.

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa coronavirus bisa bertahan di permukaan benda-benda mati dari dua jam sampai sembilan hari. Kontak antarmanusia maupun penularan virus melalui permukaan benda-benda ini diduga mempercepat penyebaran.

Jika penerbangan udara dapat menularkan virus antarnegara/benua, maka transportasi umum darat diduga kuat menjadi salah satu penyebab cepatnya penularan SARS-CoV–2 di sebuah negara, daerah atau kota. Migrasi manusia baik di dalam kota, maupun antarkota, bisa mempercepat penularan secara eksponensial.

Bila kita melihat kasus Wuhan, Cina, episentrum awal penularan COVID-19, pemerintah di sana menghentikan total semua moda transportasi dalam kota. Dampaknya, orang-orang tidak bepergian selama wabah terjadi. Pelarangan total transportasi umum di Wuhan menghambat kecepatan penyebaran penyakit di daratan Cina.

Perlu dicatat bahwa alat transportasi hanya satu variabel dalam penularan virus. Masih ada variabel lain seperti potensi penularan di komunitas, ketahanan tubuh, penyakit bawaan sebelum terkena virus dan faktor lainnya.

Jadi, dampak besar akan terasa jika semua transportasi publik dilarang selama wabah dan sebagian besar warga beraktivitas di dalam rumah selama masa wabah sehingga penularan di komunitas juga sedikit. Namun, dua variabel ini tidak terjadi bersamaan di Indonesia.

Lalu bagaimana cegah penularan virus di transportasi publik?

Mudah bagi siswa dan pekerja sektor publik di Jakarta untuk tidak menggunakan transportasi publik karena sekolah-sekolah di Ibu Kota ditutup dan kantor pemerintahan mengizinkan pegawai kerja dari rumah.

Tapi di sektor swasta imbauan bekerja di rumah itu ditanggapi beragam. Sekitar 3,8 juta dari 4,7 juta penduduk berusia di atas 15 tahun di Jakarta bekerja di sektor jasa yang mayoritas memanfaatkan jalur-jalur transportasi umum.

Pemerintah sampai sejauh ini hanya meminta dan mengimbau mereka untuk lebih banyak bekerja di rumah.

Menimbang situasi ini, pengoperasian kembali transportasi publik secara normal di Jakarta sudah benar untuk menghindari penumpukan penumpang yang antre. Untuk menghindari penularan virus di transportasi publik, pengelola dan pengguna transportasi publik harus menjalankan beberapa strategi.

1. Desinfeksi

Di Amerika Serikat, beberapa kota menerapkan desinfeksi pada transportasi umum. Saat di luar sel inangnya, virus ini cuma seperti debu, bukan makhluk hidup, tapi juga tidak bisa dibilang mati. Satu hal yang pasti, saat di luar sel inang, coronavirus mudah dirusak oleh zat desinfektan.

Dalam penerbangan ada proses desinfeksi pesawat sebelum landing atau ketika parkir, yang bisa ditiru lebih sering untuk diterapkan dalam bus Transjakarta atau MRT.

Kereta komuter telah melakukan hal ini sejak awal Maret lalu.

Bagi penumpang, bawa cairan desinfektan untuk diusap ke tangan sesudah menyentuh berbagai permukaan dalam perjalanan menuju tempat tujuan. Dan hindari menyentuh mulut, hidung, dan mata dengan tangan Anda.

2. Area bebas orang demam

Pengelola moda dapat melarang naik bagi penumpang yang suhu badannya lebih dari 37,5 derajat Celcius untuk mengurangi risiko penularan. Pemeriksaan suhu badan semestinya di setiap pintu masuk moda transportasi dan setiap orang yang akan naik mesti dicek.

Bagi penumpang yang merasa demam, sebaiknya istirahat dan diam di rumah. Jangan naik transportasi publik sampai benar-benar sembuh.

3. Jaga jarak antarpenumpang

Bagi orang yang sehat, saat naik transportasi umum jaga jarak dengan orang lain sekitar 1-2 meter. Ini tidak mudah tapi Anda bisa memilih waktu bukan pada jam sibuk/sesak saat naik transportasi publik. Atau lebih aman lagi jika Anda berdiam di rumah saja. Kalau pun tetap harus pergi bisa juga pakai transportasi pribadi yang telah disemprot disinfektan.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 117,200 academics and researchers from 3,789 institutions.

Register now