Lukas Coch/AAP

Krisis iklim merupakan Perang Dunia III - berikut 4 senjata yang bisa kita gunakan

Artikel berikut merupakan bagian dari seri ide-ide radikal The Conversation untuk menangani krisis iklim


Tahun 1896, seorang Ilmuwan Swedia bernama Svante Arrhenius menerka apakah temperatur Bumi dipengaruhi keberadaan gas penyerap panas di atmosfer. Ia memperkirakan, jika konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat dua kali lipat maka temperatur global bisa meningkat hingga 5℃ – lebih tinggi di daerah kutub.

Sekitar satu abad kemudian, dunia sudah setengah jalan mengarah pada prediksi Arrhenius. Jika kita tetap di proyeksi ini, Bumi akan menghangat hingga 4.8℃ - di lebih panas dibanding zaman pra-industri - pada tahun 2100.


Read more: I've seriously tried to believe capitalism and the planet can coexist, but I've lost faith


Kami adalah sekelompok ahli dalam bidang fisika, geologi, pendidikan sains, terumbu karang, dan ilmu perubahan iklim. Kami yakin bahwa ketiadaan inisiatif oleh pemerintah untuk mengurangi emisi global berarti kita semakin membutuhkan solusi-solusi nyata.

Kita harus melawan perubahan iklim selayaknya ini adalah Perang Dunia III – serta bertarung di berbagai garis depan. Berikut, kami sampaikan empat cara yang bisa dilakukan.

Emisi dunia makin meningkat, meski sudah banyak peringatan untuk aksi. STEVEN SAPHORE/AAP

1. Tanam banyak pohon

Penanaman pohon sangat berpotensi membantu kita mengatasi masalah krisis iklim. Sebuah penelitian terbaru memperkirakan dunia dapat meningkatkan tutupan hutan hingga 900 juta hektare - di luar hutan, lahan ternak, dan area urban yang sudah ada – cukup untuk menahan 25% emisi karbon keluar ke atmosfer. Hutan juga berperan untuk meningkatkan awan dan hujan, serta menurunkan suhu.

Sebuah proyek di Australia Barat, Gondwana Link, bisa menjadi model yang bisa kita lakukan. Proyek ini berupaya menghubungkan kembali ekosistem-ekosistem yang rusak dan menciptakan koridor lahan semak sepanjang 1.000 km.


Read more: Want to beat climate change? Protect our natural forests


Kegiatan pembukaan lahan besar-besaran harus dihentikan dan program-program masif penanaman pohon harus segera digalakkan di semua area yang memungkinkan.

Program ini bisa membuka kesempatan lapangan kerja. Ini membutuhkan insentif dan kemitraan yang dibiayai melalui pajak karbon.

Desalinasi bertenaga energi terbarukan mungkin dibutuhkan di beberapa tempat, untuk menyediakan air bagi penanaman pohon di kondisi kering. Hal ini juga terkait dengan sebuah teknologi penting baru: mineralisasi karbon.

Jutaan hektare hutan yang ditanam bisa menahan emisi karbon lepas ke atmosfer. CHRISTIAN BRUNA/ EPA

2. Ubah karbon dioksida menjadi mineral

Mineralisasi karbon merupakan usaha mengubah karbon dioksida menjadi mineral karbon dengan mengambil proses cangkang kerang dan batu kapur yang terbentuk alami.

Teknik ini sudah banyak diteliti dan diajukan. Contohnya, menyerap gas karbon dioksida dari pembangkit listrik dan dipadatkan melalui air asin konsentrat tinggi dari desalinasi, atau menangkap karbon dalam pemisahan biji nikel menggunakan bakteri.

Proses ini bisa menyerap banyak CO₂ dan menghasilkan material yang berguna sebagai bahan bangunan sebagai produk samping.

Sebuah pembangkit listrik percontohan sedang dicoba di Australia dengan harapan bisa mempercepat proses untuk komersialisasi.

3. Buat permukaan bumi lebih reflektif

Pengelolaan radiasi matahari merupakan teknik-teknik untuk merefleksikan energi matahari (sinar matahari) kembali ke ruang angkasa dan menurunkan pemanasan planet.

Mengubah reflektiftas permukaan, seperti mewarnai atap hitam menjadi putih akan menurunkan panas terserap dalam jumlah yang tinggi dan bahkan dapat mendinginkan kota.

Dalam skala yang lebih besar, kita dapat melapisi jalan beraspal dengan batu kapur, membiarkan bekas panen di lahan pertanian selama musim panas, dan menanam jenis -jenis tanaman pucat.

Berbagai studi membuktikan permukaan bumi yang lebih cerah dapat mendinginkan temperatur skala regional, dan mungkin menurunkan suhu ekstrem sampai dengan 3℃.

Cara ini, secara tidak langsung mengurangi emisi gas rumah kaca dengan penurunan tingkat pemakaian pendingin ruangan.

Atap putih, seperti di Santorini, Yunani, bisa membantu mengalihkan radiasi matahari dan menurunkan suhu. Yvette Kelly/AAP

4. Transformasi cara bertransportasi

Mekanisme ekonomi penting untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan, penyimpanan energi, dan transportasi tanpa emisi.

Industri kapal kargo barang internasional menghasilkan sekitar 800 megaton karbon dioksida pada tahun 2015. Angka ini diperkirakan akan berlipat ganda pada pertengahan abad ini.

Karena semua kapal tidak berbahan bakar terbarukan, penelitian menganjurkan batas kecepatan bisa diturunkan hingga sekitar 20% untuk efisiensi bahan bakar. Australia bisa menjadi pionir dunia karena menarik biaya berlabuh berdasarkan data satelit yang memantau kecepatan kapal.

Australia juga bisa mengikuti jejak Norwegia, yang menawarkan insentif finansial bagi penggunaan kendaraan tanpa emisi (tenaga hidrogen atau listrik).

Insentif ini termasuk peniadaan pajak dan biaya bebas parkir di beberapa tempat. Langkah ini pun terbukti berhasil: hampir sekitar 60% mobil baru di Norwegia pada bulan Maret 2019 dilaporkan merupakan kendaraan bertenaga listrik.

Memaksa kapal untuk berlayar lebih pelan akan menurunkan emisi karbon. ALI HAIDER/EPA

Langkah selanjutnya?

Daftar di atas masih jauh dari lengkap.

Usaha Australia untuk menjual pengurangan emisi ke dunia sebagai hidrogen terbarukan dan listrik harus dipercepat, dan diperluas sampai mencapai skala misi Apollo menuju bulan.

Kita harus memotong emisi dari sektor pertanian dan menyiapkan kembali kemampuan tanah sebagai wadah penyimpan karbon yang sudah hilang akibat pertanian modern.

Kami juga menyarankan respons militer untuk menangkal bencana kebakaran lahan, termasuk kegiatan bom air udara setiap dua jam di setiap lokasi berisiko kebakaran.


Read more: Reducing emissions alone won't stop climate change: new research


Akhirnya, perang ini juga membutuhkan pusat komando yang bisa menyediakan kepemimpinan, informasi, dan koordinasi – di Australia, ini mungkin sebuah versi lebih besar dari Kantor Rumah Hijau yang didirikan selama pemerintahan Koalisi Howard pada tahun 1998 (tetapi kemudian tergabung dengan departemen pemerintahan lain).

Kantor ini harus mampu menyediakan, antara lain, informasi tentang biaya iklim dari setiap barang yang kita gunakan, baik untuk membantu pilihan konsumen dan meningkatkan harga produk-produk tak ramah lingkungan.

Beberapa teknologi juga terbukti terlalu mahal, berisiko, atau lamban untuk bisa kita implementasikan. Semua akan membutuhkan pengelolaan yang hati-hati, kepemimpinan, dan komunikasi publik untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Namun, selama emisi gas rumah kaca global terus meningkat, pemerintah harus menggunakan setiap persenjataan yang tersedia – bukan hanya untuk memenangkan perang, tapi untuk mencegah kerugian sosial akibat kesengsaraan.

Laporan lengkap yang mendasari artikel ini dapat ditemukan di sini.


Agustino Stefanus Sitor menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 99,600 academics and researchers from 3,194 institutions.

Register now