Kopi dan anggur adalah dua dari beberapa hal yang terkena dampak dari perubahan iklim. Shutterstock/Ekaterina Pokrovsky

Krisis iklim merusak banyak kesukaan kita. Ini 9 di antaranya

Kita mungkin sudah terlalu banyak mendengar cerita-cerita menyedihkan terkait dengan krisis iklim.

Peringatan sudah kita dengar sejak beberapa dekade lalu, tapi selalu ada pihak-pihak yang menyangkal kenyataan krisis iklim.

Kali ini, mari kita lihat bersama bagaimana krisis iklim bisa mempengaruhi kehidupan manusia, terutama dalam merusak beberapa hal yang kita gemari.

1. Liburan tidak seperti diharapkan

Seringkali, kita memilih destinasi liburan dengan pertimbangan keadaan cuaca. Sayangnya, krisis iklim mungkin sudah mengurangi keindahan berbagai tujuan liburan favorit manusia, atau malah sudah membuat tempat-tempat hilang sepenuhnya.

Lizard Island, di Queensland, merupakan tujuan wisata yang populer. Sayangnya, terumbu karangnya kini mengalami bleaching AAP Image/XL Catlin Seaview Survey

Read more: Climate change will make fire storms more likely in southeastern Australia


Ada hal lain yang harus dikhawatirkan dari sekadar tenggelammnya pantai favorit kita, atau Great Barrier Reef yang kian rusak sebelum sempat kita nikmati.

Manusia kini harus mulai khawatir bahwa “ancaman cuaca ekstrim memiliki risiko yang mengancam wisatawan”.

Contohnya, gangguan jadwal penerbangan akibat cuaca ekstrim seperti badai, terjebak badai siklon, banjir, atau badai salju. Perjalanan menuju lokasi wisata saja bisa menjadi petualangan yang tidak mengenakkan.

2. Kesempatan terakhir menikmati keindahan satwa liar

Sudah banyak bukti menunjukkan satwa liar menjadi korban dari cuaca ekstrim akibat krisis iklim. Contoh terbaru dari Australia: koala-koala yang mati akibat kebakaran lahan; atau kelelawar yang berjatuhan di tengah serangan panas.

Ratusan kelelawar mati akibat serangan panas di Campbelltown, NSW. Suhu udara saat itu mencapai 45C di tahun 2018. AAP Image/Supplied/Help Save the Wildlife and Bushlands

Berita tentang kepunahan satwa liar menjadi sering terjadi, sama dengan berita tentang politisi yang tidak peduli tentang laporan tersebut.

3. Situs bersejarah terancam punah

Tahun 2019, kota Venesia di Italia mengalami banjir terburuk sejak pertengahan tahun 1960an. Walikota Venesia pun dengan jelas mengaitkan peristiwa banjir tersebut dengan krisis iklim.

Di samping penderitaan korban-korban, kita menyaksikan hancurnya salah satu Situs Warisan Dunia akibat bencana.

Para turis dan penduduk menembus banjir di Venesia, Italia, pada bulan November 2019. EPA/Andrea Merola

Read more: Ignoring young people's climate change fears is a recipe for anxiety


Krisis iklim akan mengancam keberadaan lebih dari 13.000 situs arkeologis di [bagian utara benua Amerika](https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0188142 “Sea-level rise and archaeological site destruction: An example from the southeastern United States using DINAA (Digital Index of North American Archaeology), jika manusia tidak mengantisipasi kenaikan muka air laut yang bisa mencapai satu meter.

Saat kenaikan air laut mencapai 5 meter, jumlah situs yang terancam akan menyentuh angka 30.000.

UNESCO juga mengkhawatirkan keberadaan situs warisan dunia bawah laut, seperti reruntuhan atau kapal karam, yang terancam pula akibat krisis iklim.

Peningkatan salinitas (kadar garam) dan suhu air laut akibat krisis iklim mendorong peningkatan populasi ulat laut yang mengonsumsi kayu kapal karam di laut Baltik.

4. Kerusakan area ski

Kenaikan suhu sudah memberikan dampak negatif bagi perkembangan industri olahraga salju AS, setidaknya sejak tahun 2001.

Menikmati ski selama masih ada es. Yun Huang Yong, CC BY

Sementara di Australia, banyak resor ski diperkirakan akan mengalami penurunan salju hingga tahun 2040 karena suhu meningkat. Teknologi pembuatan salju juga diperkirakan tidak mampu berbuat banyak, jika suhu lingkungan terlalu tinggi.

Salju buatan mungkin bisa memperpanjang masa hidup industri olahraga salju untuk beberapa tahun ke depan, namun sepertinya kita tidak bisa berharap banyak.

5. Terlalu panas untuk berolahraga

Selain olahraga salju, kenaikan temperatur akibat krisis iklim membuat sebagian Bumi menjadi sangat panas, namun juga membahayakan, meningkatkan kemungkinan tekanan panas, dan menyulitkan kita untuk melakukan aktivitas luar ruangan seperti berolahraga.

Suhu di musim panas menyebabkan masalah bagi penonton dan atlet di Turnamen Australia Terbuka di Melbourne, setiap Januari. AAP Image/Julian Smith

Read more: What is a 'mass extinction' and are we in one now?


Cuaca panas tentu juga berpengaruh terhadap aktivitas fisik kecil, seperti berjalan menuju halte bus.

6. Kopi jadi mahal

Sebuah studi menunjukkan bahwa krisis iklim membuat tanaman kopi semakin sulit hidup dan harga kopi yang semakin mahal.

Mulai menabung untuk kopi berikutnya. Flickr/Marco Verch, CC BY

Laporan dari Climate Institute tahun 2016 menyebutkan bahwa produksi kopi dapat turun hingga 50% pada tahun 2050.

Mengingat beberapa prediksi buruk dari krisis iklim dalam tiga tahun terakhir ini, laporan kopi ini termasuk optimistik.

7. Ancaman kesehatan bagi semua orang

Polusi udara, serangan panas, dan faktor lain yang datang bersama dengan krisis iklim pada akhirnya akan memperburuk kesehatan anak, orang tua, hingga para lansia secara signifikan.

Demonstrasi global yang diprakarsai oleh generasi muda di seluruh dunia sebenarnya menjadi bukti kepedulian, intelegensi, dan reaksi positif mereka dalam menuntut perubahan atas keengganan pemerintah dunia dalam merespon krisis iklim.

Namun, peristiwa tersebut juga menjadi tanda krisis eksistensial kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh generasi muda juga sangat mengkhawatirkan.

8. Rumah kita sedang terbakar

Peristiwa kebakaran lahan di Australia dan Amerika Serikat baru-baru ini sebenarnya membuktikan dampak dramatis dan destruktif krisis iklim yang bisa mengancam orang di mana saja.

Kebakaran lahan di Australia sendiri sudah membakar ratusan rumah.

Reruntuhan rumah terbakar di dekat Taree, NSW, 9 November 2019. AAP Image/Darren Pateman

Kebakaran lahan akan semakin membahayakan. Jendela untuk bisa secara aman melakukan kegiatan pembakaran terkontrol demi mengurangi jumlah tanaman yang kemungkinan terbakar, sudah semakin sempit.

Krisis iklim membuat kita sulit untuk mengatasi kebakaran saat terjadi, namun juga semakin sukar untuk melakukan berbagai tindakan pencegahan.

Sebenarnya, bukan hanya api yang menjadi ancaman bagi rumah kita. Di bagian bumi lain, rumah-rumah lain terancam oleh kenaikan muka air laut dan badai, karena krisis iklim.

9. Pasokan wine terancam

Jika Anda masih belum yakin dengan daftar di atas, maka jangan kaget saat kami nyatakan krisis iklim juga mengancam keberadaan wine.

Kurangnya air, degradasi tanah dan peningkatan suhu yang terlampau cepat di setiap musim memberikan dampak negatif terhadap perkebunan anggur serta pembuatan wine.

Panen anggur menjadi lebih awal tiap tahun. Para ahli mengatakan bahwa ini akibat krisis iklim. AAP Image/Lukas Coch

Salah satu keuntungan kecil adalah kesempatan mengembangkan anggur di area-area baru. Namun, belum tentu daerah tersebut bisa memproduksi anggur dengan stabil dengan adanya perubahan cuaca.

Bagaimana langkah selanjutnya?

Sulit untuk tidak merasa hilang asa dengan kondisi yang ada. Namun, kami malah merekomendasikan Anda untuk marah, seperti yang dikatakan oleh penulis lagu dari Inggris, John Lydon (alias Johnny Rotten), ”amarah adalah energi“.


Read more: 3 ways cities can prepare for climate emergencies


Jadi, gunakan daftar ini sebagai motivasi untuk berpikir, berbicara, dan bertindak. Jadikan daftar ini sebagai motivasi untuk melakukan perubahan kecil, sedang, hingga besar.

Bagikan keperihatinan dan solusi Anda atas solusi iklim. Lebih pentingnya lagi, lakukanlah hal ini terus menerus.

Krisis iklim yang terjadi merupakan kejadian yang besar, merepotkan, dan tidak bisa dihindari jika tanpa aksi bersama. Krisis iklim memang merusak hal-hal yang kita cintai, dan pesan tersebut gamblang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal nyata.

Stefanus Agustino Sitor menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 95,600 academics and researchers from 3,110 institutions.

Register now