Mabuk cuma alasan untuk perilaku buruk, moralitas Anda tidak berubah karena minum alkohol

Dean Drobot/Shutterstock

Mereka yang minum alkohol, pasti tahu rasanya terbangun dengan sakit di belakang kepala, berusaha untuk mengingat apa yang kita katakan dan lakukan saat minum berat semalam. Kemudian tiba-tiba, memori tersebut muncul kembali dengan jelas.

Alkohol meleluasakan kita, membuat kita mengatakan dan melakukan hal-hal yang seharusnya kita hindari. Orang-orang sering minum karena merasa alkohol menimbulkan keberanian dalam diri mereka saat menghadapi situasi yang sulit.

Kita mengerti kenapa minum alkohol dilakukan sebelum melakukan kencan buta atau acara sosial lain - alkohol dapat membantu menenangkan saraf kita dan menumbuhkan rasa percaya diri. Ini karena alkohol memiliki efek depresan yang membuat kita merasa lebih rileks.

Tentu saja, efek alkohol tidak semuanya positif. Kita memiliki julukan untuk karakter kita yang muncul setelah minum beberapa gelas. Mungkin Anda adalah “pemabuk yang bahagia”, atau mungkin Anda punya reputasi sebagai “pemabuk yang rusuh” yang mudah tersinggung setelah terkena alkohol.

Hubungan antara alkohol dan perilaku antisosial didokumentasikan dengan rinci - baik dengan anekdot maupun dalam penelitian.

Banyak pertengkaran dan pertikaian berasal dari seseorang yang minum terlalu banyak. Para ilmuwan percaya kita berperilaku seperti ini ketika mabuk karena kita salah menafsirkan situasi sosial dan kehilangan rasa empati kita.

Intinya, begitu kita mulai melontarkan makian dan limbung karena mabuk, kemampuan kita untuk memahami atau berbagi emosi dengan orang lain juga ikut hilang.

Orang yang mabuk kehilangan kemampuan mereka untuk menafsirkan apa yang dirasakan orang di sekitar mereka. Dusan Petkovic/Shutterstock

Bertanggungjawab atas keputusan di saat mabuk

Jika seseorang melakukan sesuatu yang salah ketika berada di bawah pengaruh alkohol, kita cenderung untuk memberikan mereka pengertian dan tidak meminta pertanggungjawaban atas perilaku mereka. Hal yang sama juga kita terapkan ke kita sendiri.

Tapi dalam penelitian kami, kami berusaha untuk mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana keterkaitan antara minum alkohol, empati, dan perilaku moral.

Walau mengonsumsi alkohol dapat mempengaruhi empati kita, membuat kita merespons secara tidak tepat terhadap emosi dan reaksi orang lain, ini tidak serta merta mengubah standar moral kita, atau prinsip-prinsip yang kita gunakan untuk membedakan antara apa yang benar dan apa yang salah.

Dalam sebuah eksperimen, kami memberi peserta satu gelas vodka dan mengukur empati dan pilihan moral mereka.

Kami menunjukkan pada mereka gambar berbagai orang dengan ekspresi emosi yang berbeda. Setelah meminum vodka yang lebih banyak, para peserta merespons secara tidak tepat terhadap gambaran emosional ini: mereka mereka merespons positif terhadap wajah sedih dan merespons negatif terhadap wajah bahagia.

Semakin orang mabuk, semakin lemah empati mereka – meminum beberapa gelas minuman memperlemah kemampuan orang untuk memahami dan berbagi emosi dengan orang lain.

Dalam suatu percobaan, orang diminta untuk memakai headset virtual reality untuk membuat keputusan moral dalam suatu simulasi. Standret/Shutterstock

Tapi apakah ini semua mempengaruhi moralitas mereka?

Kami meminta para peserta memberi tahu kami apa yang mereka akan lakukan ketika berada pada dilema moral dan kemudian juga melihat apa yang sebenarnya mereka lakukan dalam simulasi dilema moral di Virtual Reality. Pertimbangkan apa yang mungkin Anda lakukan dalam salah satu situasi ini:

Sebuah kereta lepas menuruni rel menuju lima pekerja konstruksi yang tidak dapat mendengar kereta tersebut mendekat. Anda berdiri di atas jembatan di antara kereta dan para pekerja. Di depan Anda, berdiri orang asing yang sangat besar. Jika Anda mendorong orang asing ini ke rel di bawah, tubuh besarnya akan menghentikan kereta. Satu orang ini akan terbunuh tapi lima pekerja akan terselamatkan. Maukah Anda melakukannya?

Walau alkohol dapat telah melemahkan empati peserta kami, namun hal itu tidak berpengaruh pada bagaimana mereka menilai situasi moral ini atau bagaimana mereka bertindak. Jika seseorang memilih untuk mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa pada saat sadar, mereka akan melakukan hal yang sama ketika mabuk.

Jika ia menolak untuk mengorbankan nyawa orang tersebut karena mereka yakin bahwa membunuh itu salah terlepas akibatnya, mereka juga akan melakukan hal yang sama ketika mabuk.

Kita mungkin percaya bahwa alkohol mengubah kepribadian kita, tapi kenyataannya tidak demikian

Anda masih orang yang sama setelah minum - rasa moralitas Anda tetap ada Jadi, walau alkohol mungkin mempengaruhi cara kita menafsirkan dan memahami emosi orang lain, kita tidak bisa menyalahkan perilaku amoral kita pada alkohol.

Ketika mabuk, Anda masih memiliki prinsip moral yang sama. Jadi Anda bertanggung jawab atas tindakan moral dan amoral anda, tidak peduli Anda mabuk atau tidak.

Fahri Nur Muharom menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 95,800 academics and researchers from 3,114 institutions.

Register now