Masalah ketimpangan air di Jakarta bukan semata-mata berasal dari jaringan air PAM

Warga yang paling miskin yang tinggal di daerah paling terpinggirkan lebih sering mengalami banjir dan mendapatkan air yang kualitasnya lebih rendah. Bagus Indahono/AAP

Di Jakarta, orang kaya mungkin memiliki akses yang jauh lebih baik terhadap air bersih daripada orang miskin. Penghuni di daerah bisnis atau lingkungan elite di Jakarta memiliki akses yang jauh lebih bisa diandalkan ketimbang mereka yang tinggal di perkampungan miskin.

Ketimpangan dalam akses air bersih antara orang kaya dan orang miskin memperdalam ketimpangan sosial. Akses terhadap air bisa berdampak pada kesehatan manusia serta tingkat pendidikan dan pendapatan. Mengurangi ketimpangan akses terhadap air dalam kini menjadi bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan global.

Apa penyebab dari ketimpangan dalam akses terhadap air di Jakarta?

Jaringan pipa biang keladinya?

Dalam mencari jawaban permasalahan ini, beberapa akademisi, jurnalis, dan aktivis sering kali menyalahkan jaringan pipa air Jakarta yang sebagai biang keladi di balik ketimpangan air.

Beberapa akademisi menjelaskan jaringan pipa sebagai manifestasi fisik hubungan sosial dari akses penataan kekuasaan. Mereka berpendapat bahwa infrastruktur pipa “memecah” kota, memperkuat ketimpangan spasialnya.

Namun, meski benar bahwa penduduk kota yang paling miskin tidak terhubung, begitu pula dengan yang paling kaya. Penduduk kelas menengah dan kelas menengah atas mewakili kelompok konsumen terbesar bagi Palyja maupun Aetra, dua operator air di Jakarta, berdasarkan data 2014 dan 2015 dari regulator air Jakarta.

Lebih dari 60% penduduk Jakarta mengandalkan air tanah. Ini menyediakan hampir dua per tiga konsumsi air kota, sekitar 630 meter kubik dari 1 miliar m3/tahun.

Mayoritas penduduk Jakarta tidak pernah bergantung pada air PAM. Air PAM hampir selalu digunakan dalam kombinasi dengan sumber lain, entah air tanah atau air botolan.

Di luar jaringan pipa

Meneliti jaringan pipa terpusat merupakan kerangka domina dalam usaha memahami bagaimana terjadinya ketimpangan dalam akses terhadap suplai air kota. Namun kerangka kerja teoretis ini berasal dari pengalaman di Eropa—di mana jaringan pipa terpusat secara umum dominan, bila bukan merupakan satu-satunya suplai air di kota.

Untuk menjelaskan ketimpangn dalam akses terhadap air di Jakarta, memeriksa aliran air tanah, limbah air, dan air PAM bisa memberikan jawaban yang lebih baik ketimbang melihat pada fragmentasi jaringan air PAM.

Dalam studi kami kami memeriksa hubungan antara berbagai aliran dan penggunaan air, serta dampaknya pada kelompok sosial yang berbeda-beda. Kami menemukan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan air tanah dalam yang berlebihan di lingkungan kaya dan salinisasi, proses masuknya garam, di air tanah dangkal di lingkungan miskin.

Pompa berkekuatan tinggi di lingkungan kaya mengambil sejumlah besar air tanah dalam. Ini menyebabkan penurunan tanah. Ketika permukaan tanah turun, risiko banjir pun naik. Kapan pun terjadi banjir, air banjir dan limbah air mencemari suplai air tanah dan pipa pada daerah pesisir yang rendah.

Hasilnya, warga yang paling miskin yang tinggal di daerah paling terpinggirkan lebih sering mengalami banjir dan mendapatkan air yang kualitasnya lebih rendah. Pada saat yang sama mereka sering kali tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli teknologi untuk mengolah air atau membeli air minum botolan.

Sementara itu, rumah tangga yang kaya dan bisnis sering kali memilih untuk tidak terhubung dengan sistem jaringan pipa ketika mereka memasang pompa berkekuatan tinggi untuk menyedot air tanah untuk suplai air mereka sendiri.

Kemampuan rumah tangga kaya dan bisnis untuk melepaskan diri dari suplai air terpusat membatasi kemungkinan terhadap subsidi silang, baik konsumsi air maupun koneksi air untuk daerah dan rumah tangga yang miskin.

Pengalaman Jakarta menunjukkan bahwa ketimpangan dalam akses terhadap air jauh melampaui ada atau tidaknya jaringan air.

Eropa bukanlah dunia

Dalam rangka mengembangkan penjelasan yang lebih mencerminkan pengalaman dari jangkauan kota yang lebih luas, pengalaman pada kota-kota di Eropa tidak boleh ditempatkan pada pusat teorisasi.

Guna melihat di luar jaringan air pipa untuk memahami bagaimana ketimpangan air terjadi, kami bergabung dengan sebuah gerakan dalam dunia ilmiah “ke dunia”. Di Eropa, teori “ke dunia” berarti menantang teori universalitas asumsi yang berasal dari pengalaman di Eropa.

Intervensi teoretis kami bersifat akademik, tapi konsekuensi dan perhatian yang mendorong bukanlah akademik. Kami menemukan bahwa orang miskin lebih rentan terhadap risiko bahaya lingkungan di kota-kota di negara berkembang, di mana air maupun alam tidak sepenuhnya diatur oleh infrastruktur.

Ini berarti, untuk mengurangi ketimpangan dalam akses terhadap air, kita perlu melihat di luar jaringan untuk mengembangkan respons kebijakan yang lebih bermakna.

This article was originally published in English

Love this article? Show your love with a gift to The Conversation to support our journalism.