Menu Close
Spotify

Membongkar fenomena Spotify Wrapped: apa yang terungkap dari kebiasaan kita mendengarkan musik?

Di bulan Desember ini, rangkuman data terkait lagu-lagu yang kita dengar selama setahun dari Instafest, Spotify Wrapped, dan Apple Music Replay, sering ditemukan di feed media sosial. Rangkuman ini menganalisis musik yang didengarkan pengguna selama satu tahun untuk menghasilkan postingan media sosial yang terlihat indah secara visual dan dapat dibagikan di platform lain. Terkadang, rangkuman ini memiliki beberapa wawasan menarik tentang kebiasaan kita dalam mendengarkan musik.

Kita terus hidup di dunia media sosial yang saat ini menjadi prioritas. Dengan unggahan, cuitan, reels, dan Tiktok baru yang terus-menerus, menemukan unggahan dari beberapa minggu lalu dapat sulit dilakukan, terutama karena ingatan kita tidak begitu akurat.

Artinya, bagian dari daya tarik pada rangkuman musik ini adalah bahwa mereka seperti menginventarisir tahun ini. Namun, rangkuman ini juga memiliki wawasan tentang cara kita mendengarkan musik yang mungkin tidak disangka sebelumnya.

Kita tidak bosan mendengarkan lagu favorit kita

Dalam dekade terakhir ini, tangga lagu (chart) single di Australia telah berubah. Dari yang pada awalnya berdasarkan penjualan, tangga lagu sebagian besar didasarkan pada pemutaran di layanan streaming seperti Spotify, Apple Music, dan Tidal.

Tangga lagu menjadi semakin statis karena didasarkan pada pemutaran – misalnya, lagu Heat Waves dari band rock Glass Animals saat ini berada di urutan #13 di minggu ke-103 di tangga lagu ARIA (Australian Recording Industry Association). Karena grafiknya berdasarkan pemutaran maka hal ini dengan cukup jelas menunjukkan bahwa banyak orang terus menyimpan Heat Waves di playlist (daftar putar) streaming mereka bertahun-tahun kemudian – mereka tampaknya belum bosan dengan lagu tersebut.

Psikolog sosial Robert Zajonc mencetuskan istilah Efek Paparan Belaka (Mere Exposure Effect), yaitu sebuah fenomena psikologis yang dapat menjelaskan mengapa lagu-lagu semacam ini dapat bertahan lama di playlist orang-orang. Dalam sebuah program penelitian yang dimulai pada 1960-an, Zajonc secara konsisten menemukan bahwa preferensi kita terhadap rangsangan dipengaruhi oleh familiaritas kita dengan rangsangan tersebut. Dengan kata lain, kita cenderung menyukai hal-hal yang familiar. Kemungkinannya adalah, jika kita mengenal sebuah lagu dengan cukup baik, kita akan menyukainya. Jika kita menyukainya, kita tidak menghapusnya dari playlist kita.

Tentu saja, ini tidak menjelaskan semuanya. Kita juga sering bosan dengan lagu-lagu tertentu, dan kita bukanlah robot yang diprogram untuk menyukai suatu hal berdasarkan familiaritas. Jika saya melihat statistik mendengarkan saya tahun ini, artis teratas yang paling sering saya dengarkan ternyata adalah The Beatles.

The Beatles adalah salah satu band pertama yang saya dengarkan. Tentunya, beberapa dekade setelah saya mendengarkan band ini untuk pertama kali, saya seharusnya akan merasa sangat bosan dengan lagu mereka I’m So Tired – tapi ternyata tidak. Ini berarti beberapa orang yang melihat rangkuman akhir tahun mereka mungkin merasa terkejut ketika mengetahui bahwa beberapa lagu dan artis bertahan di playlist mereka dengan lama.

Kita senang mengingat musik favorit kita setiap tahunnya

Sebagai manusia, kita sering tidak mengingat hal-hal seperti ini. Dalam sebuah buku tahun 1885, psikolog Jerman Hermann Ebbinghaus menjelaskan eksperimen yang dia lakukan pada daya ingatnya sendiri. Ia mencoba mengingat daftar suku kata yang tidak memiliki arti (ZUG atau KUS, dan lain-lain): ia menemukan “kurva lupa” (“forgetting curve”). Satu jam setelah mempelajari suku kata, ia mampu mengingat sekitar 40%. Sembilan jam kemudian, ia dapat mengingat sekitar 30%. Enam hari kemudian, ingatannya untuk kata-kata yang tidak memiliki arti ini hanya sekitar 20%, dan ini bertahan setelah itu.

Ebbinghaus dengan sengaja mencoba mengingat suku kata yang tidak memiliki arti tersebut. Pada sebagian besar waktu saat kita mendengarkan musik, kita mungkin bahkan tidak memperhatikannya, apalagi mencoba mengingatnya. Secara pribadi, ingatan saya tentang musik yang saya dengarkan enam hari lalu pasti kurang dari 20%! Ini mungkin salah satu alasan mengapa kita benar-benar tidak menyadari bahwa kita telah menghabiskan begitu banyak waktu di tahun ini dengan mendengarkan lagu Lizzo yang populer.

Sebaliknya, algoritma layanan streaming merekam setiap detik yang kita habiskan untuk mendengarkan musik (setidaknya karena ini akan menjadi fakta yang rapi untuk dapat dibagikan di semua media sosial yang kita lihat sekarang).

Kita menyukai musik yang berbeda untuk situasi yang berbeda

Penelitian menunjukkan bahwa penikmat musik pada umumnya menjadikan musik sebagai latar untuk mengiringi berbagai tugas – mengemudi, mencuci piring, berolahraga, belajar, bersosialisasi dengan teman, dan lain-lain. Namun, ketika kita memikirkan tentang musik yang kita dengarkan, saya curiga bahwa kita sebenarnya sering secara aktif memikirkan tentang musik yang kita dengarkan. Karena ini, terkadang musik yang kita dengarkan secara pasif di earphone kita, dan yang tidak dapat didengar orang lain, dapat mengejutkan.

Pada dasarnya, musik juga merupakan aktivitas sosial. Jika kita memilih untuk mendengarkan genre musik yang terkait dengan subkultur dan gerakan masyarakat tertentu, seperti indie rock atau K-pop, ini menunjukkan bagaimana kita berhubungan dengan masyarakat luas di sekitar kita.

Musik yang dapat mengiringi kebosanan mungkin tidak selalu menjadi musik yang mengekspresikan diri kita. Perbedaan antara keduanya dapat menunjukkan beberapa hal menarik tentang orang lain saat kita melihat rangkuman musik akhir tahun mereka.

Kita menyukai cantolan

Tentunya, terkadang sebuah lagu melampaui latar sosial, yaitu ketika kita tidak dapat menolak cantolan pada lagu meskipun kita menganggapnya sebagai kesenangan bersalah (guilty pleasure). Cantolan adalah momen yang menonjol dan mudah diingat pada lagu – kemungkinan besar itu adalah potongan-potongan yang mudah diingat, yang kita antisipasi saat kita mendengarkan musik, dan bagian penting pada musik pop.

Belakangan ini, produser-produser musik, seperti Max Martin, menyusun lagu-lagu pop seperti Shake It Off oleh Taylor Swift untuk memaksimalkan banyaknya momen musik yang menarik perhatian. Kita seringkali tidak dapat mencegah lagu-lagu tersebut agar tidak terjebak di kepala setelah beberapa kali mendengarkannya. Tentu saja, jika seorang laki-laki berambut panjang yang mengenakan kaus Iron Maiden, orang-orang tidak akan mengira bahwa ia mendengarkan lagu Anti-Hero dari Taylor Swift di earphone-nya.

Salah satu cara untuk melihatnya adalah melalui satu baris pada lagu Anti-Hero oleh Taylor Swift yang saat ini menjadi single #1 di Australia, yaitu “It’s me, hi, I’m the problem, it’s me.” Ini tentunya merupakan hook yang tak terlupakan bagi banyak pendengar. Sebuah lagu akan menjadi bagian dari kehidupan ketika lagu tersebut menjadi familiar setelah didengarkan.

Yang terakhir, karena manusia tidak memiliki daya ingat yang kuat, kita sering tidak menyadari seberapa sering kita mendengarkan hal-hal tertentu. Oleh sebab itu, ketika seorang lelaki dengan kaus Iron Maiden tersebut mengunggah Spotify Wrapped di media sosial, ia akan sama terkejutnya dengan orang lain bahwa Anti-Hero ada di antara lagu-lagu topnya, di samping lagu Run To The Hills dari Iron Maiden.

Ini merupakan suatu hal yang menarik dari rangkuman musik seperti ini. Mereka memberikan wawasan tentang kebiasaan sehari-hari teman-teman kita dalam mendengarkan musik, dan tentunya tentang musik yang mereka dengarkan saat kita tidak melihat.


Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 183,800 academics and researchers from 4,961 institutions.

Register now