Jeff Bezos ingin ‘menyelamatkan’ dunia. Michael Reynolds / EPA

Mengapa filantropis konglomerat tak terpisahkan dari masalah krisis iklim?

Jeff Bezos, CEO Amazon dan orang terkaya dunia, belum lama ini menjadi berita setelah berjanji mengalokasikan 10 miliar dolar AS ke “Bezos Earth Fund” (Dana Bumi Bezos) untuk membantu mengatasi masalah krisis iklim.

Donasi tersebut merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah.

Walau belum ada penjelasan lebih detail tentang bentuk kegiatan yang mendapatkan dana, dalam sebuah postingan Instagram, Bezos mengatakan bahwa uang ini bisa digunakan untuk “mendanai peneliti, aktivis, LSM, atau berbagai aktivitas lain yang bisa menawarkan sebuah aksi nyata untuk membantu menjaga dan melindungi alam”.

Ketertarikan Bezos untuk mengatasi krisis iklim ini patut kita hargai, namun dana ini sendiri menjadi problematis. Beberapa pihak mengingatkan Amazon memiliki emisi karbon tinggi dan mengandalkan pola konsumtif terhadap barang murah.

Selain itu, ada pula kontroversi upah dan lingkungan kerja di Amazon. Salah satunya, memotong dana kesehatan bagi para pekerja paruh waktu di Whole Foods, yang setara dengan pendapatan Bezos per jam.

Kontribusi Bezos memperlihatkan bahaya dari ketergantungan terhadap filantropi miliuner dengan mengorbankan transformasi sosial demokratis yang dibutuhkan untuk menjawab persoalan krisis iklim dan ekologi.

Sumbangan bernilai miliaran ini akan memberikan kaum elite dan konglomerat pengaruh yang jauh lebih besar terhadap berbagai organisasi di bawah kendali mereka, serta platform media, dan diskusi kebijakan publik.

Yang lebih penting, adanya konglomerat seperti Jeff Bezos merupakan gambaran kegagalan sistem ekonomi yang memperbesar jurang ketimpangan sosial dan memperburuk kerusakan lingkungan.

Konsolidasi kekuasaan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa 26 orang terkaya di dunia, yang memiliki nilai kekayaan lebih tinggi dibandingkan dengan setengah populasi orang miskin di dunia, berpengaruh besar dalam kehidupan sosial dan politik kita.

Kaum elite ini menggunakan kekayaan mereka untuk memengaruhi kebijakan, hasil pemilihan umum, dan informasi yang kita peroleh melalui media arus utama.

Sebagai contoh, Jeff Bezos adalah pemilik koran The Washington Post.

Sementara, Rupert Murdoch memiliki dan mengontrol 70% sirkulasi surat kabar di Australia, serta beberapa koran nasional di Inggris.

Murdoch memiliki atau punya kontrol terhadap publikasi yang seringkali menyebarkan anti iklim. SlayStorm / shutterstock

Kontribusi dana miliaran untuk amal dari miliuner seperti Jeff Bezos dan Bill Gates memberikan mereka kontrol terhadap organisasi baru seperti “Bezos Earth Fund”, dalam menentukan apa kegiatan dan fungsi mereka.

Ekonom Amerika Robert Reich melihat bahwa tindakan amal semacam ini merupakan usaha mereka “untuk mengubah aset pribadi menjadi pengaruh publik”.

Dalam ranah ilmu politik dan sosial, pakar “teori elite” seperti C. Wright Mills sejak lama menunjukkan dampak kontra-demokrasi dari kaum konglomerat dan kepentingan bisnis mereka dalam menggiring arah kekuasaan politik.

Mungkin aspek yang sangat problematis dari filantropi miliuner ini adalah individu seperti Bezos merupakan kunci dari masalah yang ingin mereka atasi.

Kaum miliuner merupakan produk dari kapitalisme neo-liberal, sebuah sistem ekonomi sosial didasarkan pada pertumbuhan tanpa batas, privatisasi sumber daya publik, dan akumulasi modal pihak-pihak tertentu.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, fakta-fakta menunjukkan ada hubungan nyata antara kekayaan ekstrim, ketidaksetaraan, dan kerusakan lingkungan.

Gaya hidup boros kaum miliuner menghabiskan banyak uang serta memproduksi emisi karbon yang siginifikan.

Pola hidup 1% kaum terkaya di dunia diperkirakan memproduksi emisi 30 kali lebih tinggi dibanding 50% orang-orang miskin dunia.

Selain itu, penelitian juga membuktikan bahwa ketidaksetaraan dalam masyarakat juga cenderung meningkatkan jejak karbon.

Hal ini dikarenakan adanya jarak besar antara mereka yang “punya” dan “tidak punya”, akhirnya memaksa yang “tidak punya” untuk meningkatkan status sosial mereka dengan peningkatan konsumsi.

Apa yang bisa kita lakukan? Batasi kekayaan yang berlebihan

Miliuner dan ketimpangan ekonomi merupakan ancaman nyata bagi masalah sosial dan lingkungan. Sehingga, seorang ekonom terkenal Prancis, Thomas Piketty, baru-baru ini mengusulkan skema pajak bagi para miliuner.

Ketimbang bergantung pada kontribusi orang terkaya sedunia, lebih baik mengambil pendekatan baru untuk mengurangi ketimpangan sosial ekonomi secara radikal.

Hal ini bisa kita capai melalui skema pajak progresif, seperti yang diusulkan baik oleh Thomas Piketty dan Bernie Sanders, atau dengan meningkatkan pendapatan minimum dan mengintroduksi regulasi pendapatan maksimum.

Dana yang diperoleh dari skema ini kemudian bisa kita salurkan ke berbagai inisiatif seperti Kesepakatan Hijau Baru (Green New Deal)

Kita tidak bisa selalu bergantung kepada sifat dermawan kaum elite, walau mungkin beberapa benar-benar memiliki ketulusan. Jumlah kekayaan terlampau tinggi serta kekuatan yang mereka miliki – bersama pola konsumsi intensif mereka terhadap sumber daya dunia – menjadi sebab utama kerusakan lingkungan yang tengah kita hadapi.

Stefanus Agustino Sitor menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,800 academics and researchers from 3,367 institutions.

Register now