Mengapa orang beragama? Ini analisis psikologi kognitif

Berdoa. Es5669/Shutterstock

Jawaban cepat dan mudah mengapa orang-orang beragama adalah bahwa Tuhan–dalam bentuk apa pun yang Anda percayai–adalah nyata dan orang-orang percaya karena mereka berkomunikasi dengan-Nya dan merasakan bukti keterlibatan-Nya di dunia.

Hanya 16% orang di seluruh dunia tidak religius, tapi ini setara dengan sekitar 1,2 miliar individu yang merasa sulit untuk merekonsiliasi ide-ide agama dengan apa yang mereka ketahui tentang dunia.

Mengapa orang-orang percaya adalah pertanyaan yang mengusik para pemikir besar selama berabad-abad. Karl Marx, misalnya, menyebut agama sebagai “candu rakyat”. Sigmund Freud merasa bahwa tuhan adalah ilusi dan bahwa para jemaah itu mencari kebutuhan kanak-kanak soal keamanan dan pengampunan.

Penjelasan psikologis yang lebih baru adalah gagasan bahwa evolusi manusia telah menciptakan “lubang berbentuk tuhan” atau telah memberi kita sebuah “mesin tuhan” metaforis yang mendorong kita untuk percaya pada suatu ketuhanan.

Pada dasarnya hipotesis ini menyatakan bahwa agama merupakan suatu produk sampingan dari sejumlah adaptasi kognitif dan sosial yang sangat penting dalam perkembangan manusia.

Beradaptasi untuk menjadi beriman

Manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang kooperatif dan suportif. Dengan melakukan hal ini kita jadi punya ikatan yang lebih kuat dengan beberapa individu dibanding yang lain.

Psikolog Inggris John Bowlby mendemonstrasikan pengaruh keterikatan ini pada perkembangan emosi dan sosial anak-anak. Dia menunjukkan rasa keterikatan ini dapat terancam jika terjadi pemisahan atau pelecehan. Kita terus mengandalkan keterikatan ini di kemudian hari, ketika jatuh cinta dan berteman, dan bahkan dapat membentuk ikatan yang kuat dengan hewan non-manusia dan benda mati. Tidak sulit dipahami bahwa rasa keterikatan yang kuat ini dapat disalurkan kepada dewa-dewa agama dan utusan (nabi-nabi) mereka.

Hubungan kita bergantung pada kemampuan untuk memprediksi bagaimana orang lain akan berperilaku dalam semua situasi dan waktu. Tapi kita tidak perlu berada di depan hal-hal yang erat ikatannya dengan kita untuk memprediksi tindakan mereka. Kita dapat membayangkan apa yang akan mereka lakukan atau katakan.

Kemampuan ini–dikenal sebagai pemisahan kognitif–berasal dari masa kanak-kanak melalui permainan pura-pura. Dari kemampuan kita membayangkan pikiran seseorang yang kita kenal ke membayangkan pikiran sesuatu yang mahakuasa, mahatahu, dengan cara pikir mirip manusia itu hanya sebuah lompatan kecil - terutama jika kita memiliki teks-teks religius yang menceritakan tindakan masa lalu mereka.

Berbagi iman. Mamma Belle and the kids/Shutterstock

Adaptasi kunci lain yang dapat mendorong keyakinan beragama adalah kemampuan manusia menyematkan sifat atau kualitas manusia pada suatu objek benda atau antropomorfisme. Pernahkah Anda melihat siluet seseorang hanya untuk menyadari bahwa sebenarnya sebuah mantel tergantung di pintu? Kemampuan untuk menyematkan bentuk dan perilaku manusia pada benda-benda non-manusia menunjukkan bahwa manusia juga bisa menyematkan kualitas yang kita miliki pada entitas non-manusia, seperti dewa, dengan demikian, memudahkan merasa terhubung dengan mereka.

Manfaat perilaku

Selain aspek psikologis ini, perilaku ritual yang terlihat dalam kegiatan ibadah kolektif membuat kita menikmati dan ingin mengulangi pengalaman-pengalaman. Menari, bernyanyi, dan mencapai keadaan seperti trance menonjol di banyak masyarakat leluhur dan masih ditunjukkan di masa kini- termasuk oleh orang-orang Sentinel, dan Aborigin Australia.

Ritual formal bukan hanya merupakan kegiatan pemersatu, ritual-ritual ini juga bahkan mengubah kimia otak. Mereka meningkatkan kadar serotonin, dopamin, dan oksitosin di otak–bahan kimia yang membuat kita merasa baik, ingin melakukan sesuatu dan memberikan kedekatan kepada orang lain.

Adaptasi kognitif ini difasilitasi oleh norma-norma pendidikan dan rumah tangga yang tidak bertentangan dengan ide-ide agama. Meski kita didorong untuk mempertanyakan ide-ide yang tidak memiliki basis bukti kuat yang disajikan pada masa kanak-kanak–seperti Santa Claus atau Peri Gigi–kita tidak didorong untuk mempertanyakan agama. Mempertanyakan agama sering kali tidak dianjurkan dalam ajaran agama dan terkadang dianggap sebagai dosa.

Terlepas sudut pandang Anda, dampak agama dan pemikiran agama pada fungsi dan evolusi manusia adalah suatu debat intelektual yang menarik yang tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir. Tentu saja, orang mungkin berpendapat bahwa tuhan menciptakan semua hal yang diuraikan di atas tapi kemudian ini membawa kita ke pertanyaan lain yang lebih besar: apakah buktinya bagi Tuhan?

This article was originally published in English