Menu Close
Anak kecil di depan pelangi yang dicat di dinding

Mengapa pelangi tidak punya warna hitam, coklat, dan putih?

Mengapa pelangi tidak memiliki warna seperti hitam, coklat, dan abu-abu? –– Ivy, umur empat, Kent, Inggris

Banyak dari kita pernah melihat pelangi di langit saat matahari mulai kembali bersinar setelah hujan. Untuk melihat pelangi, kondisinya harus tepat.

Kita membutuhkan tetesan air di udara –seperti hujan atau bahkan kabut – dan Matahari di belakang kita dan cukup bersinar rendah ke tanah. Ini karena pelangi tercipta karena adanya cahaya yang melewati tetesan air.

Cahaya yang berasal dari matahari terlihat putih bagi kita. Akan tetapi, cahaya putih yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya terdiri dari campuran warna yang berbeda. Saat cahaya melewati rintik hujan, warna-warna ini dapat terpisah.

Gelombang cahaya

Kita tidak akan mengetahuinya untuk melihatnya, tetapi cahaya bergerak dalam gelombang, seperti gelombang yang bergerak melintasi lautan. Setiap warna dalam pelangi memiliki apa yang kita sebut “panjang gelombang” yang berbeda.

Ini berarti jarak antara puncak gelombang memiliki panjang yang berbeda untuk setiap warna. Warna-warna ini, dari ungu dengan panjang gelombang terpendek hingga merah dengan terpanjang, disebut “spektrum kasatmata.”

Diagram yang menunjukkan berbagai warna dengan panjang gelombangnya
Spektrum kasatmata menunjukkan panjang gelombang dari masing-masing warna komponen. Spektrum berkisar dari merah tua pada 700 nm hingga ungu pada 400 nm. Science Learning Hub – Pokapū Akoranga Pūtaiao, University of Waikato, www.sciencelearn.org.nz

Kita mungkin sering menggambar tetesan hujan dengan bentuk air mata, tetapi sebenarnya tetesan hujan lebih terlihat seperti bola kecil. Saat cahaya mengenai salah satu bola kecil air ini, cahaya dapat berubah arah. Ini disebut “refraksi.”

Setiap panjang gelombang yang berbeda dibiaskan dengan jumlah yang sedikit berbeda. Jika cahaya mengenai tetesan hujan pada sudut yang tepat, pembiasan akan memisahkan panjang gelombang menjadi warna yang berbeda. Karena banyak cahaya dibiaskan melalui banyak tetesan air hujan, kita melihat warna-warna ini sebagai pelangi di langit. Urutan warna yang masuk ditentukan oleh berapa panjang panjang gelombangnya.

Diagram yang menunjukkan pembiasan cahaya saat merambat melalui tetesan hujan.
Cahaya merambat melalui rintik hujan. Fouad A. Saad/Shutterstock

Ketika kita belajar mengenai pelangi, kita diajarkan bahwa ada tujuh warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Namun, ini tidak sepenuhnya benar.

Warna-warna dalam pelangi

Warna-warna yang berbeda akan berbaur satu sama lain, dan sulit untuk mengetahui di mana satu warna berakhir dan warna lainnya dimulai. Ada warna lain di antara warna-warna ini, di mana mereka bercampur – seperti warna pirus antara biru dan hijau.

Diagram warna dalam spektrum kasatmata.
Spektrum kasatmata. Belozersky/Shutterstock

Karena biru dan hijau bersebelahan dalam spektrum warna, kita dapat melihat warna pirus di mana warna biru dan hijau berbaur satu sama lain. Namun, beberapa warna adalah campuran warna yang tidak bersebelahan dalam spektrum.

Warna cokelat, misalnya, adalah campuran merah dan hijau. Namun, pita merah dan hijau di pelangi tidak bersebelahan, jadi kita tidak melihat mereka bercampur menjadi cokelat. Hal yang sama berlaku untuk banyak warna lain yang merupakan campuran – jika pita warna pada pelangi tidak tumpang tindih, maka mereka tidak dapat bercampur.

Foto pemandangan dengan pelangi
Pelangi di atas ladang. Peter Maerky/Shutterstock

Akan tetapi, ada dua warna yang tidak akan pernah kita lihat di pelangi, yaitu hitam dan putih. Hitam adalah ketidakhadiran warna. Inilah yang kita lihat saat tidak ada cahaya sama sekali.

Di sisi lain, putih adalah kombinasi dari semua warna yang menjadi satu. Saat cahaya dibiaskan oleh tetesan air hujan, cahaya putih dipisahkan menjadi spektrum yang terlihat. Artinya, tidak lagi putih. Abu-abu adalah campuran hitam dan putih, dan karena kita tidak pernah bisa melihat hitam dan putih dalam pelangi, kita juga tidak bisa melihat warna hasil pencampurannya.

Jika setelah ini kamu melihat pelangi, perhatikanlah berapa banyak warna yang dapat terlihat di dalamnya – dan warna yang tidak terlihat.


Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 187,300 academics and researchers from 5,000 institutions.

Register now