Mengapa semua orang, termasuk Anda, mencuri perlengkapan kantor?

Karyawan yang mendapatkan atasan yang tidak menepati janji mereka cenderung mengalami rangkaian emosi yang negatif dan intens seperti kemarahan, frustasi dan penghinaan yang akan berbalik menciptakan keinginan untuk mendominasi, membalas tindakan atasan Anda. Tim Gouw/Unsplash

Mengapa semua orang, termasuk Anda, mencuri perlengkapan kantor?

Pernahkah Anda mengambil peralatan kantor dan membawanya ke rumah? Misalnya mencuri beberapa pulpen dan kertas dari atasan Anda untuk dipakai anak-anak di kelas kesenian mereka? Menggunakan alat pencetak kantor untuk mencetak tiket konser Anda?

Dalam sebuah survei tak bernama yang dilakukan Papermate baru-baru ini sebagai bagian dari peluncuran produk pulpen baru, 100% pegawai kantor mengakui mereka mencuri pulpen dari kantor mereka. Peneliti akademisi yang lain telah membuktikan bahwa hampir 75% pegawai mengakui telah mencuri perlengkapan kantor setahun terakhir.

Kerugian dalam nilai ekonomi yang diakibatkan oleh tindakan pencurian kecil-kecilan ini diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar Amerika setiap tahunnya, atau sekitar 35% dari penurunan jumlah inventori sebuah organisasi setiap tahun yang bernilai sekitar 1,4% dari jumlah pendapatan perusahaan.

Jadi jika perilaku semacam ini begitu membahayakan ekonomi, kenapa kita masih melakukannya?

Ketika Anda memulai sebuah pekerjaan baru, atasan Anda cenderung membuat serangkaian janji terkait status Anda sebagai karyawan yang tidak ditulis dalam kontrak.

Bayangkan jika atasan Anda menjanjikan “jam kerja yang fleksibel dan "lingkungan kerja yang setara.” Dengan janji-janji semacam ini, bos Anda telah menciptakan serangkaian harapan terhadap Anda. Harapan ini yang menjadi dasar atas apa yang kita sebut kontrak secara psikologi.

Selama bos Anda memenuhi janji-janjinya, Anda akan menjadi karyawan setia yang bahagia dan berkomitmen. Satu-satunya yang kurang adalah situasi ini jarang sekali ditemukan. Kami menyadari bahwa sejalan dengan berjalannya waktu, persepsi atasan dan bawahan tentang apa yang dijanjikan akan buyar.

Janji yang tidak ditepati

Pada kenyataannya banyak orang yang percaya bahwa atasan mereka tidak menepati janji awal mereka. Memang benar, sekitar 55% karyawan melaporkan bahwa atasan mereka melanggar janji mereka dalam kurun waktu dua tahun pertama masa kontrak, dan 65% dari karyawan merasakan hal serupa pada tahun terakhir mereka.

Baru-baru saja, peneliti telah menemukan bahwa pekerja menemukan janji-janji yang tidak ditepati atasan setiap minggu dan bahkan setiap hari.

Para pekerja mendapati janji atasan yang diingkari setiap minggu dan bahkan setiap hari. Rawpixel/ Unsplash

Pada titik ini Anda mungkin berpikir, “Jadi jika mereka melanggar janji begitu sering, mereka seharusnya minta maaf bukan?” Sayangnya, beberapa penemuan menunjukkan bahwa para atasan jarang menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Sebagai konsekuensinya, mereka berusaha memperbaikinya sekitar 6% sampai 37% kali. Jadi, nampaknya atasan sering kali melanggar janji mereka, namun mereka tidak mengakui kesalahan mereka atau berbuat sesuatu untuk menawarkan solusi.

Jika Anda berbuat salah, bukankah kita seharusnya membalas dendam?

Karena janji-janji atasan begitu penting dalam perjanjian kontrak kerja, Anda merasa ketika bos Anda melanggar janji, Anda bisa mengambil apa saja yang menjadi hak Anda.

Karyawan yang mendapatkan atasan yang tidak menepati janji mereka cenderung mengalami rangkaian emosi yang negatif dan intens seperti kemarahan, frustrasi, dan penghinaan yang akan berbalik menciptakan keinginan untuk mendominasi, membalas tindakan atasan Anda.

Lebih lagi, para peneliti menemukan bahwa efek ini didapat lebih banyak pada mereka yang bekerja dengan sangat baik dan mengharapkan perlakukan yang adil, artinya karyawan terbaik sebuah perusahaan kemungkinan besar akan melakukan “dendam” ketika atasan mereka tidak menepati janji mereka.

Orang-orang yang paling mungkin bereaksi terhadap janji-janji yang tidak ditepati di tempat kerja umumnya adalah karyawan terbaik. (Annie Spratt/Unsplash)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang tampak menikmati balas dendam mereka, khususnya ketika mereka berada di posisi yang lebih tinggi dan ketika mereka merasa lebih dominan. Jadi digabungkan, kami menyadari kombinasi “keinginan untuk membalas” dan “menikmati tindakan balas dendam” maka hal ini akan mengarah pada dukungan untuk perilaku tersebut.

Sebagai konsekuensinya, para pekerja jauh lebih mungkin untuk membalas dendam di masa depan ketika mereka dihadapkan dengan janji yang tidak ditepati karena mereka mendapatkan dorongan positif dari perilaku negatif mereka.

Membalas dendam bersifat sementara

Apakah ini berarti saya menyarankan Anda untuk membalas dendam ketika atasan Anda melanggar janji mereka? Tentu saja tidak. Izinkan untuk menjelaskannya menggunakan akronim BRAIN: Benefits (keuntungan), Risks (risiko), Alternatives (alternatif), Information (informasi) dan Nothing (tidak ada apa-apa)

Pertama-tama, jika atasan Anda melanggari janjinya, ambillah langkah mundur dan pikirkan potensi keuntungan dari tindakan balas dendam dibandingkan risiko yang didapat ketika mencuri dari atasan Anda.

Meskipun balas dendam bisa bersifat manis, kita sadar bahwa tindakan membalas atasan yang melanggar janjinya bersifat sementara. Bahkan, kemungkinan besar Anda akan segera merasa bersalah atas perilaku buruk Anda.

Anda juga berisiko kehilangan pekerjaan. Jadi tanyakan pada diri Anda pertanyaan: “Apakah tindakan mencuri ini benar-benar layak?” Alih-alih, coba pikirkan cara alternatif!

Seperti saya ungkapkan sebelumnya, atasan Anda terkadang tidak sadar bahwa mereka melanggar janji mereka. Namun, penelitian juga menemukan bahwa Anda bisa mengubah dinamikanya ketika Anda bersuara dengan cara yang sopan.

Jika Anda buka suara dengan sopan, kemungkinannya bos Anda akan mendengarkan Anda. Shutterstock

Katakan kepada atasan Anda, janji mana yang mereka langgar dan bagaimana hal itu mempengaruhi fungsi dan pencapaian perusahaan. Para atasan biasanya memberikan tanggapan yang baik untuk tipe dialog semacam ini - setidaknya dalam 52% sampai 66% kasus - dan akan berusaha memperbaiki keadaan dengan minta maaf atau menawarkan kompensasi.

Namun, sebelum Anda melakukan apa pun pastikan Anda memiliki semua informasi yang Anda butuhkan. Ajukan pertanyaan pada diri Anda seperti:

  1. “Apakah janji yang dilanggar ini di luar kekuasaan bos saya?”
  2. “Apakah rekan sekerja juga mengalami hal yang sama?”
  3. “Apakah ini kali pertama saya mengalami hal semacam ini?”

Semakin banyak informasi yang Anda dapat, semakin baik Anda bisa menilai apa yang sebaiknya dilakukan: membiarkannya saja, bicara, meminta kompensasi, dll.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa Anda lebih mungkin memicu reaksi atasan Anda, seperti meminta maaf atau obat, ketika Anda dapat menunjukkan kepada bos Anda bahwa ia dengan sengaja melanggar janjinya. Karena dengan demikian, Anda dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki kontrol atas situasi dan dengan demikian dapat memperbaiki perilaku salah mereka.

Selain itu, Anda lebih mungkin mendapat permintaan maaf atau kompensasi ketika Anda dapat melibatkan orang lain yang mengalami hal yang serupa; sehingga kekuatan perlawanan dalam jumlah yang lebih besar.

Pada akhirnya, dan sebelum Anda bertindak sesuatu, tanya diri Anda sendiri: “Apakah ini benar-benar layak?”

Mungkin kadang-kadang melakukan apa pun adalah hal terbaik yang dapat Anda lakukan dalam atasan Anda melanggar janji mereka. Saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak boleh berbicara ketika menyaksikan atau mengalami ketidakadilan di tempat kerja, sebaliknya saya menyarankan Anda untuk memilih pertempuran Anda.

Dengan menentukan aspek mana dari perjanjian kerja Anda yang tidak bisa dinegoisasikan dan aspek mana yang bisa didapatkan, Anda bisa melindungi diri Anda dari janji-janji yang tidak ditepati atasan.

Saran saya adalah gunakan BRAIN ketika berhadapan dengan janji yang tidak ditepati oleh atasan Anda dan ketahuilan bahwa Anda bisa buka suara untuk mendapatkan permintaan maaf atau kompensasi dan bukan malah mencuri persediaan kantor.

This article was originally published in English