Petuga kesehatan di Rumah Sakit Cardarelli Naples, Italia, mengecek hasil tes cepat pada sampel darah untuk mendeteksi infeksi coronavirus. EPA/CIRO FUSCO

Mengapa tes cepat (RDT) coronavirus bisa negatif palsu, sedangkan tes PCR butuh 3 hari? Ini cara kerja cerdas 2 alat deteksi COVID-19

Pemerintah Indonesia pekan lalu mendistribusikan 125 ribu alat tes diagnostik cepat COVID-19 untuk mendeteksi penyakit ini di sejumlah kota dan kabupaten yang menjadi titik panas penyebaran virus di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Jakarta sebagai pusat penularan terbesar menerima 100 ribu alat rapid dignostic test (RDT), disusul Jawa Barat mendapat 20 ribu alat serupa. Sasaran tes ini adalah orang-orang yang rentan terkena COVID-19 termasuk pekerja kesehatan yang tiap hari kontak dengan pasien penderita penyakit ini.

Tes diagnostik cepat adalah cara paling efektif untuk tes massal orang-orang yang diduga terinfeksi virus. Tes massal dapat membantu mengetahui level bencana penyakit ini.

Hasil rapid diagnoctic test dapat diketahui dalam waktu 10 hingga 15 menit. Sementara tes standar rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dilakukan di laboratorium membutuhkan waktu antara enam jam hingga tiga hari, tergantung jumlah spesimennya.

Meski tes diagnostik cepat belum masuk dalam rekomendasi tes standar WHO, tes ini menunjang pelaksanaan tes massal yang membantu upaya pencegahan penularan penyakit yang lebih luas lagi.

Korea Selatan, Italia, Cina, Inggris, dan beberapa negara telah menggunakan tes massal dan cepat untuk mendeteksi awal kasus-kasus yang kemudian terkonfirmasi positif COVID-19.

Selain tingkat kecepatan dan sampel yang digunakan, apa lagi perbedaan tes diagnostik cepat dan tes standar WHO?

Tes standar WHO: mendeteksi virus

Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan dua metode tes untuk pemeriksaan COVID-19.

Metode pertama dikenal dengan nama real-time reverse transcriptase Polimerase Chain Reaction (rRT-PCR). Teknik analisis ini mendeteksi molekul RNA hasil transkripsi (hasil salinan kode DNA ) yang terdapat dalam sel virus (jumlahnya sangat sedikit) dalam spesimen. Molekul RNA ini pada virus berfungsi menyimpan informasi genetik di dalam sel virus.

Tes berbasis biomolekuler ini menganalisis cairan membran mukosa tenggorok pasien untuk mendeteksi apakah terdapat molekul genetik virus di dalamnya. Sampel diperoleh petugas kesehatan dengan cara swab (mengelap) menggunakan batang stik kapas steril pada hidung (nasopharing) dan tenggorok orang terduga kena virus.

Metode kedua adalah whole genome sequencing, yakni identifikasi urutan nukleotida (asam-basa) virus COVID-19. Metode ini, yang lebih detail dibanding metode rRT-PCR, telah digunakan pada awal terjadinya wabah yang disebabkan oleh virus baru. Jika genome sequencing sudah dilakukan untuk menentukan karakteristik virus COVID tersebut pada awal wabah, maka genome sequencing tidak perlu dilakukan, kecuali bila dicurigai adanya mutasi karakteristik virus tersebut. Kini metode genome sequencing belum dilakukan lagi karena belum ada indikasi mutasi gen virus COVID.

Metode rRT-PCR ini mampu mendeteksi virus COVID-19 dalam jumlah yang sangat sedikit (sensitif) di spesimen, sehingga menghasilkan tingkat akurasi yang tinggi.

Metode PCR memerlukan tenaga laboratorium yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai, serta waktu yang lama.

Jika jumlah spesimen sedikit, misalnya antara lima hingga sepuluh, tes PCR ini membutuhkan setidaknya waktu enam jam, mulai dari spesimen diekstraksi di laboratorium sampai hasil pemeriksan keluar.

Jika jumlah spesimen banyak, ditambah dengan keterbatasan alat dan waktu, maka proses pemeriksanaan bisa melebihi 24 jam (2-3 hari) setelah spesimen diterima laboratorium.

Spesimen itu, dari orang-orang yang diduga terkena COVID, dikirim oleh rumah sakit rujukan atau dinas kesehatan ke laboratorium, lalu hasilnya disampaikan ke rumah sakit untuk menentukan langkah perawatan pasien. Sampai 30 Maret, lebih dari 6.600 orang diperiksa dengan tes rRT-PCR.

Selain laboratorium Kementerian Kesehatan di Jakarta, saat ini terdapat 12 laboratorium milik pemerintah di beberapa daerah dan 3 jaringan laboratorium swasta untuk memeriksa virus dengan metode standar WHO.

Laboratorium jejaring mempunyai variasi kemampuan yang berbeda dalam sehari, tergantung jumlah alat yang dimiliki. Satu laboratorium per hari rata-rata bisa memeriksa minimal 100 sampel bahkan lebih.

Tes diagnostik cepat: mendeteksi antibodi

Berbeda dengan tes PCR, yang menggunakan cairan membran mukosa tenggorok pasien, tes diagnostik cepat (RDT) memeriksa sampel darah seseorang yang diambil dari ujung jari. RDT ini untuk mendeteksi timbulnya antibodi seseorang terhadap virus SARS-CoV-2 dalam sampel darah yang diperiksa.

Selain itu jika PCR mendeteksi adanya virus SARS-CoV-2 secara langsung, rapid diagnostic test (RDT) mendeteksi timbulnya antibodi seseorang terhadap virus SARS-CoV-2 berupa Antibodi IgM dan Antibodi IgG.

Adanya antibodi IgM menunjukkan respons tubuh pada tahap awal (respons akut) infeksi virus COVID-19, sementara IgG menunjukkan tubuh pernah terinfeksi COVID-19.

Hasilnya dapat dibaca secara visual pada alat RDT, seperti yang terjadi pada alat tes kehamilan. Pada alat RDT yang dipakai di Indonesia saat ini, jika hasil tes menunjukkan positif akan muncul dua garis pita warna merah (di garis C dan T) di garis kontrol, sementara jika hanya muncul satu pita merah (hanya di garis C) maka menunjukkan negatif. Hasil dapat diketahui sekitar 10-15 menit.

RDT COVID-19 ini mampu mendeteksi munculnya antibodi tersebut pada orang yang sudah terinfeksi selama 7-14 hari, bahkan lebih (tergantung kemampuan sistem imunitas seseorang) dengan atau tanpa gejala COVID-19.

Tes ini mudah dan bisa dilakukan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit dan laboratorium yang tidak mempunyai kemampuan pemeriksaan rRT-PCR.

Pemeriksaan RDT ini dapat dilakukan pada orang-orang yang rentan dan berisiko, termasuk orang yang baru datang dari daerah endemis COVID, orang lanjut usia, dan petugas medis.

Cara ini dapat mengidentifikasi sejak dini indikasi terinfeksi virus dan membatasi penularan selanjutnya. Dengan alat ini, pemerintah bisa mengetahui skala penyebaran penyakit sehingga bisa segera mengambil kebijakan. Sedangkan pasien yang positif terinfeksi bisa segera diisolasi dan dirawat untuk mencegah penularan lebih luas dan kematian.

Keunggulan dan kelemahan RDT

Saat ini beberapa produk RDT Cina, menurut sebuah laporan dari Universitas Nasional Singapura, telah mempunyai nilai sensitivitasnya 88,66% dan spesifitasnya 90,63% dibanding produk lainnya dari Jerman dan Korea Selatan yang belum ada nilai sensitivitas dan spesifitasnya (belum teruji).

Sensitivitas adalah kemampuan alat menunjukkan orang yang sakit dites dengan alat tersebut memang benar sakit dan hasilnya menunjukkan positif. Spesifitas menunjukkan jika alat tersebut dites pada orang yang tidak sakit, maka hasilnya negatif.

Namun, RDT punya keterbatasan. Salah satunya, hasilnya bisa salah karena pemilihan waktu pemeriksaan yang mungkin kurang tepat. Antibodi IgG dan IgM belum bisa terdeteksi saat awal seseorang terpapar, sehingga hasilnya bisa negatif palsu (seseorang terpapar COVID, tapi tidak terdeteksi dengan metode RDT). Hal ini dapat diatasi dengan pemeriksaan ulang pada 3-7 hari setelah pemeriksaan pertama.

Biasanya pasien datang ke puskemas atau rumah sakit setelah 3–7 hari setelah timbulnya gejala, sehingga para petugas medis dapat memperkirakan pemilihan waktu pemeriksaan yang tepat.

Bila hasil RDT positif sebaiknya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan rRT-PCR untuk lebih memastikan status pasien, apakah benar-benar positif terkena virus COVID-19 atau negatif. Karena tes PCR lebih akurat hasilnya ketimbang hasil tes RDT.

Validasi RDT COVID-19

Di Indonesia, per 30 Maret terdapat 1.414 kasus positif COVID-19 dengan jumlah kematian 122–tertinggi di Asia Tenggara

Mengingat penyebaran virus SARS-CoV-2 sukar dibendung dan hingga kini belum ada vaksin dan obat anti virus, maka tes diagnostik cepat (RDT) merupakan sebuah terobosan penting.

Saat ini, sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara telah memesan 500 ribu alat tes cepat tersebut dari Cina untuk menghadang penularan yang bergerak secara eksponensial.

Walau produk RDT COVID-19 dari Cina telah diketahui mampu mendeteksi mana yang benar-benar sakit dan mana yang tidak menderita sakit, bila ingin digunakan di Indonesia alat RDT harus diuji dulu melalui uji validasi.

Proses uji validasi ini dilakukan menggunakan spesimen darah yang diambil dari pasien COVID-19 positif dan negatif yang sebelumnya telah diperiksa dengan tes rRT-PCR. Alat RDT lalu diuji dengan sampel darah tersebut untuk melihat apakah hasilnya konsisten (positif atau negatif) dengan hasil tes PCR yang pakai spesimen cairan membran mukosa pasien. Jika hasil tes PCR pada satu orang dengan spesimen cairan tersebut dinyatakan positif, hasil uji RDT pada darah orang yang sama harusnya juga positif. Begitu juga sebaliknya.

Langkah ini untuk mengkonfirmasi bahwa metode RDT yang akan digunakan itu mempunyai kinerja yang konsisten, sesuai dengan tujuan penerapanya sebagai RDT.

Mengingat Indonesia sudah mempunyai banyak spesimen COVID-19–saat ini jumlah spesimen yang telah diperiksa diperkirakan lebih dari 7.000 spesimen–maka validasi ini dapat dilakukan di laboratorium yang mempunyai kompetensi baik dengan menggunakan spesimen tersebut.

Harapannya alat RDT yang datang ini dapat digunakan dan diterapkan di Indonesia, dengan hasil yang akurat.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,600 academics and researchers from 3,633 institutions.

Register now