Menu
Mengurangi rasa sakit pasien kanker dan merawatnya di rumah bisa memperpanjang umur. Monkey Business Images/Shutterstock

Merawat pasien kanker stadium lanjut di rumah lebih baik daripada di rumah sakit

Di negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat, merawat pasien kanker stadium lanjut yang sudah sampai pada tahap tidak bisa diobati lebih umum dilakukan di rumah dibanding di rumah sakit.

Di Indonesia, perawatan serupa, yang dikenal sebagai perawatan paliatif–perawatan yang menekankan pada peningkatan kualitas hidup pasien sebelum kematian–kurang populer.

Kebutuhan pasien kanker stadium lanjut adalah pengendalian nyeri kanker. Perawatan paliatif berfokus pada perawatan yang membantu pasien mengatasi gejala-gejala dari penyakit kanker seperti nyeri, sesak napas, kelelahan, sembelit, mual, kehilangan nafsu makan, kesulitan tidur, dan depresi.

Namun, sistem asuransi seperti Jaminan Kesehatan Nasional dan rumah sakit kurang mengakomodasi perawatan paliatif. Padahal, jenis perawatan ini bisa menghemat ongkos sekaligus mengurangi penderitaan pasien dan keluarganya sebelum kematian pasien tiba.

Penelitian kualitatif yang saya lakukan baru-baru ini menunjukkan ketidaksiapan keluarga dan akses yang terbatas dalam perawatan paliatif merupakan alasan keluarga pasien kanker enggan merawat anggota keluarganya di rumah.

Saya meneliti keluarga pasien kanker paliatif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Saya temukan bahwa akses keluarga pasien terhadap fasilitas pendukung dan perawat atau dokter yang terlatih dalam perawatan paliatif masih terbatas.

Pentingnya perawatan paliatif

Sejumlah riset menunjukkan perawatan paliatif terbukti dapat memperpanjang usia pasien kanker.

Riset di Swedia menyatakan saat ini penanganan penyakit kanker pada stadium lanjut lebih ditekankan pada keperawatan paliatif, terutama pada keperawatan paliatif di rumah.

Spesialis perawatan paliatif terdiri dari berbagai profesi: dokter, perawat yang berpengalaman, psikolog dan pekerja sosial.

Dalam pelayanan paliatif diupayakan pasien sedini mungkin terlepas dari penderitaan dan rasa nyeri. Pelayanan paliatif juga mengurangi terapi tindakan medis agresif yang sebenarnya tidak diperlukan. Ini dapat mengurangi stres pasien.

Spesialis perawatan paliatif bekerja tidak hanya ketika pasien kanker berada di rumah sakit, tapi juga ketika pasien sudah pulang ke rumah.

Tempat perawatan tidak lagi berpusat pada bangsal rumah sakit, melainkan perawatan berbasis masyarakat dan keluarga. Dalam konsep ini, keluarga merupakan bagian tak terpisahkan dalam merawat pasien karena dukungan keluarga sangat berarti bagi peningkatan kualitas hidup pasien.

Banyak manfaatnya

Perawatan paliatif juga membantu pasien untuk berani dan bersemangat menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Ada sejumlah alasan mengapa perawatan paliatif di rumah lebih diutamakan daripada membiarkan pasien kanker tetap dirawat di rumah sakit.

Pertama, sejumlah riset menunjukkan perawatan paliatif di rumah dapat meningkatkan kualitas hidup dan memberikan kenyamanan yang lebih baik daripada perawatan paliatif di rumah sakit. Saat di rumah sakit kenyamanan pasien bersama keluarga berkurang akibat ketatnya peraturan di sana.

Situasi tersebut dapat menyebabkan kondisi psikologi pasien kanker paliatif menjadi tidak nyaman, kesepian, dan depresi.

Bahkan sebuah riset menyatakan 25% pasien kanker mengalami kecemasan berat sebelum kematian.

Kondisi ketidaknyamanan dan depresi tidak hanya dirasakan pasien, tapi juga oleh keluarga pasien. Sebanyak 47% dari keluarga yang anggota keluarganya meninggal di rumah sakit menyatakan mengalami tingkat ketidaknyamanan yang tinggi dalam proses kematiannya.

Kedua, efisiensi biaya. Di Indonesia, biaya perawatan setiap pasien kanker di rumah sakit dapat melebihi Rp100 juta per bulan. Dana sebesar itu dapat lebih efektif dan efisien jika program perawatan paliatif di rumah dapat diberikan.

Sebuah riset di empat rumah sakit publik di New York Amerika Serikat pada 2004-2007 menunjukkan program perawatan paliatif pasien kanker di rumah dapat mengefisienkan biaya sebesar US$6.900 per pasien per tahun dibandingkan dirawat di rumah sakit.

Penghematan ini terjadi karena pasien yang menerima perawatan paliatif di rumah menghabiskan lebih sedikit waktu dalam perawatan intensif. Dana asuransi dari lembaga asuransi nasional AS Medicaid dapat difokuskan pada pembiayaan perawatan paliatif pasien di rumah.

Ketiga, menurunkan risiko penularan infeksi dari pasien lain di rumah sakit (infeksi nosokomial). Pasien kanker merupakan kelompok yang rentan mengalami neutropenia atau menurunnya sel darah putih dalam darah. Hal ini terjadi akibat dari proses penyakit kanker, penggunaan kemoterapi dan kortikosteroid.

Kondisi tersebut membuat kekebalan tubuh pasien kanker menjadi menurun. Penurunanan kekebalan tubuh dapat menyebabkan penularan infeksi oleh bakteri.

Infeksi pada pasien kanker merupakan faktor penyebab yang mempercepat kematian pasien kanker di rumah sakit.

Langkah maju

Di Swedia dan Australia perawatan paliatif di rumah sudah masuk dalam skema asuransi kesehatan nasional.

Sudah saatnya pemerintah mengadopsi koordinasi dan integrasi perawatan paliatif seperti di negara maju. Fokus sistem Jaminan Kesehatan Nasional sebaiknya mulai beralih fokus dari perawatan penyakit kronis seperti kanker di rumah sakit ke perawatan berbasis rumah (home care).

Riset Kesehatan Dasar Indonesia pada 2018 juga menunjukkan kanker berada di peringkat ketujuh penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Kanker serviks, kanker payudara, kanker paru, dan kanker hati merupakan jenis utama kanker penyebab kematian yang tinggi.

Prevalensi penyakit kanker di Indonesia semakin meningkat: dari 1,4 per 1000 penduduk pada 2008-2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk. dari 2013 hingga 2018.

Di tengah makin meningkatkannya jumlah pasien kanker dan defisitnya anggaran BPJS Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, perawatan paliatif pasien kanker di rumah merupakan langkah yang layak dijadikan model selain perawatan di rumah sakit.

Langkah ke arah sana bisa dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat betapa pentingnya perawatan pasien kanker di rumah dan menyiapkan fasilitas dan tenaga medis untuk menunjang perawatan tersebut.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 113,000 academics and researchers from 3,686 institutions.

Register now