Didi Kempot. www.shutterstock.com

Obituari Didi Kempot: musisi campursari dengan lagu yang berhasil melintasi batas dan mendobrak nilai maskulinitas

Banyak orang Indonesia kembali bersedih. Penyanyi campursari asal Surakarta Jawa Tengah Didi Kempot meninggal pada 5 Mei lalu karena serangan jantung.

Publik mengenal penyanyi dengan nama asli Dionisius Prasetyo ini sejak awal 2000-an dengan lagu-lagu hits-nya seperti Stasiun Balapan dan Sewu Kutho. Namun setelah lama tidak muncul, namanya kembali meroket di tengah kalangan anak muda.

Meski lagu-lagunya berbahasa Jawa, Didi bisa mengambil tempat di antara yang muda dan tua melalui lirik-lirik lagunya yang mengangkat tema yang universal dan melankolis seperti putus cinta.

Generasi milenial memujanya sebagai idola baru dan menyematkan julukan the Godfather of Brokenheart pada Didi. Para penggemar muda Didi dengan bangga menyebut diri mereka Sobat Ambyar untuk menggambarkan perasaan mereka yang ambyar setelah mendengar lagu-lagu patah hati Didi.

Tidak hanya lintas generasi, lagu-lagu Didi juga melintasi batas ekonomi, sosial, dan bahkan negara. Musik Didi tidak hanya terkenal di Indonesia tapi juga di Belanda dan Suriname.

Keberhasilan Didi mengambil hati semua orang dari berbagai kalangan dan daerah menjadikannya memiliki modal sosial untuk membangun solidaritas saat pandemi COVID-19.

Lewat acara Konser Amal Dari Rumah yang diadakan Kompas TV baru saja, Didi berhasil mengumpulkan dana hingga lebih dari Rp7,6 miliar untuk orang-orang yang terdampak COVID-19.

Mendobrak maskulinitas

Dengan lagu-lagunya, Didi tidak hanya berhasil menembus sekat-sekat dalam masyarakat, tapi juga membongkar nilai-nilai maskulinitas menjadi lebih egaliter. Dalam perspektif gender, maskulinitas yang egaliter mewakili konstruksi sosial yang egaliter yakni perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama.

Dalam lirik-lirik lagu Didi, maskulinitas bukan lagi tentang laki-laki yang memiliki kekuasaan, posisi yang lebih tinggi, berwibawa. Lewat lagu-lagunya, Didi berusaha membongkar nilai-nilai tersebut.

Dalam lagu-lagu patah hatinya, Didi seakan berteriak bahwa tidak apa-apa lelaki menjadi lemah bahkan menangis. Ini terlihat dalam salah satu lagunya Tangise Ati yang menggambarkan laki-laki yang merana karena ditinggal oleh pasangannnya. Lewat lagunya tersebut, Didi ingin menggambarkan bahwa sosok laki-laki tidak selalu kuat dan berwibawa tapi juga bisa rapuh karena ditinggal pasangannya.

Meski berasal dari suku Jawa yang memiliki tradisi patriarkat yang cukup kuat, lagu-lagu Didi telah mengakui peran perempuan yang mulai berubah, terutama di saat perkembangan karir global memberikan kesempatan yang sama baik pada perempuan maupun laki-laki.

Lagu Layang Kangen menangkap realitas perempuan yang harus bekerja di luar negeri meninggalkan suami dan keluarganya. Tentu saja dengan menyelipkan tema patah hati seperti biasa.

Didi Kempot menyanyikan lagu Layang Kangen dalam sebuah acara musik yang diselenggarakan Bukalapak.

Lewat lagu-lagunya, Didi mempertanyakan kembali nilai-nilai maskulinitas. Dengan menampilkan sosok laki-laki yang bisa rapuh dalam lirik-liriknya, Didi menawarkan nilai maskulinitas yang egaliter yang bisa menerima arus perubahan dan mengakui peran perempuan yang lebih kuat.

Dalam konteks gender, kajian maskulinitas terhadap budaya populer di Indonesia masih terbatas. Lewat lagunya, Didi bisa menjadi pelopor yang menghadirkan maskulinitas egaliter sebagai sebuah diskursus alternatif dalam kajian gender di Indonesia.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 111,000 academics and researchers from 3,641 institutions.

Register now