Menu Close

Pandemi mengubah otak kita, ini cara mengatasinya

X-ray tengkorak dengan virus corona menggantikan otak.
Virus corona baru memengaruhi otak kita, baik kita terjangkit atau belum. Teo Tarras/Shutterstock

Terlepas apakah Anda tertular COVID-19 atau tidak, otak Anda kemungkinan telah berubah selama beberapa bulan terakhir.

Virus itu sendiri dapat menyebabkan sejumlah masalah neurologis, termasuk kecemasan dan depresi.

Namun, isolasi dan kekhawatiran yang disebabkan oleh pandemi juga dapat mengubah otak kita secara kimiawi dan menyebabkan gangguan suasana hati (mood disorder).

Dalam tulisan kami terbaru, yang diterbitkan di Neuropsychopharmacology Reviews, kami melaporka penyelidikan pada cara terbaik untuk mengatasi perubahan otak yang terkait dengan pandemi.

Mari kita mulai dengan infeksi COVID-19.

Selain gangguan suasana hati, gejala umum termasuk kelelahan, sakit kepala, hilang ingatan dan masalah dengan perhatian.

Mungkin ada sejumlah penyebab untuk perubahan otak ini, termasuk peradangan dan cerebrovaskular events (sindrom yang disebabkan oleh gangguan suplai darah ke otak).

Penelitian menunjukkan bahwa virus dapat memperoleh akses ke otak melalui bulbus olfaktorius di otak depan yang penting untuk pemrosesan penciuman.

Kehilangan penciuman banyak terjadi pada pasien COVID-19.

Sebagai bagian dari sistem yang bertanggung jawab atas indra penciuman, bulbus olfaktorius mengirimkan informasi tentang penciuman untuk diproses lebih lanjut di wilayah otak lain (termasuk amigdala, korteks orbitofrontal, dan hipokampus) yang berperan penting dalam emosi, pembelajaran dan penyimpanan.

Selain memiliki koneksi yang luas ke daerah lainnya, bulbus olfaktorius juga kaya akan dopamin kimiawi, yang penting untuk kesenangan, motivasi, dan tindakan.

Mungkin COVID-19 mengubah tingkat dopamin dan bahan kimia lainnya, seperti serotonin dan asetikolin, di otak, tapi kami belum bisa memastikannya.

Semua bahan kimia ini diketahui terlibat dalam perhatian, pembelajaran, ingatan, dan suasana hati.

Perubahan di otak ini kemungkinan bertanggung jawab atas suasana hati, kelelahan, dan perubahan kognitif yang biasanya dialami oleh pasien COVID-19.

Hal ini pada gilirannya dapat mendasari gejala stres, kecemasan dan depresi yang dilaporkan pada pasien yang tertular virus.

Ibu tampak kelelahan di sofa sementara anak-anak berlarian.
Isolasi telah membuat stres banyak orang. fizkes/Shutterstock

Tapi bukan hanya orang yang tertular COVID-19 yang mengalami peningkatan kecemasan dan depresi selama pandemi.

Kekhawatiran yang berlebihan akan tertular atau menyebarkan virus ke anggota keluarga lainnya serta isolasi dan kesepian juga dapat mengubah otak kita.

Stres berulang merupakan pemicu utama peradangan yang terus-menerus di dalam tubuh, yang juga dapat mempengaruhi otak dan mengecilkan hipokamus sehingga memengaruhi emosi kita.

Stres juga dapat mempengaruhi suasana hati kita. Akhirnya, perubahan ini bisa menimbulkan gejala depresi dan kecemasan.

Latihan otak

Namun ada titik terang. Otak adalah bagian tubuh yang sangat fleksibel, dan dapat diubah dan dapat merespons kerusakan dengan baik.

Bahkan kondisi serius seperti kehilangan ingatan dan depresi dapat diperbaiki dengan melakukan hal-hal yang mengubah fungsi otak dan kimianya.

Tulisan kami membahas solusi yang menjanjikan untuk memerangi gejala stres, kecemasan, dan depresi pada pasien COVID-19 dan lainnya.

Kita sudah tahu bahwa latihan dan latihan kesadaran (teknik yang membantu kita bertahan pada masa sekarang) sangat membantu dalam memerangi stres otak.

Bahkan, penelitian telah menunjukkan perubahan fungsional dan struktural yang bermanfaat di korteks prefrontal (yang terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan), hipokampus dan amigdala setelah pelatihan kesadaran pada otak.

Satu studi menunjukkan adanya peningkatan kepadatan materi abu-abu (jaringan yang mengandung sebagian besar badan sel otak dan kompenen kunci dari pusat sistem saraf) di hipokampus kiri setelah delapan minggu pelatihan (jika dibandingkan dengan kelompok kontrol).

Yang terpenting, ini semua adalah wilayah otak yang terdampak virus COVID-19.

Selain itu, pelatihan gamified cognitive juga dapat membantu meningkatkan perhatian, fungsi memori, dan meningkatkan motivasi.

Orang yang memiliki gejala kesehatan mental yang parah atau persisten mungkin memerlukan evaluasi klinis oleh psikolog atau psikiater.

Dalam kasus seperti itu, tersedia perawatan farmakologis dan psikologis, seperti antidepresan atau terapi perilaku kognitif.

Mengingat banyak negara belum sepenuhnya berhenti melakukan kebijakan lockdown dan ada kesulitan berkepanjangan dalam mengakses perawatan kesehatan, teknik modern seperti perangkat yang dapat dikenakan (pelacak aktivitas) dan platform digital (aplikasi seluler) yang dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari adalah solusi menjanjikan.

Misalnya, pelacak aktivitas dapat memantau hal-hal seperti detak jantung dan pola tidur, yang menunjukkan kapan pemakainya dapat memperoleh manfaat dari aktivitas seperti meditasi, olahraga, atau tidur ekstra.

Ada juga aplikasi yang dapat membantu Anda mengurangi tingkat stres.

Teknik ini kemungkinan besar bermanfaat bagi semua orang dan dapat membantu kita meningkatkan ketahanan kognitif dan kesehatan mental dengan lebih baik, mempersiapkan kita untuk peristiwa kritis pada masa depan seperti pandemi global.

Sebagai sebuah kelompok masyarakat, kita perlu mengantisipasi tantangan masa depan terhadap kesehatan otak, kognisi, dan kesejahteraan kita.

Kita harus memanfaatkan teknik ini di sekolah untuk mengkampanyekan ketahanan seumur hidup mulai dari usia dini.


Artikel ini diterjemahkan oleh Agradhira Nandi Wardhana dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,200 academics and researchers from 3,985 institutions.

Register now