Panduan untuk media dalam meliput korban bencana seperti Badai Irma

Ernesto Mastrascusa / EPA

Saat ini, kita baru saja melihat betapa hebatnya dampak Badai Irma bagi rakyat Karibia, terutama penduduk yang hidup di area bencana.

Bagaimana seharusnya wartawan meliput mereka, dan memastikan suara serta pengalaman mereka tidak terabaikan? Berikut ini empat hal yang perlu diperhatikan media:

1. Ingat bahwa penduduk setempat kena dampak paling berat

Pihak yang paling merana di sini adalah penduduk setempat di Karibia. Bukan para wisatawan. Bagi penduduk, ini lebih dari persoalan penerbangan yang tertunda atau dibatalkan. Tetapi hidup mereka, penghidupan mereka, rumah mereka, semua hancur. Sementara, proses pemulihan akan berlangsung bertahun-tahun.

Populasi paling miskin dan paling marjinal di Karibia adalah mereka yang merasakan dampak paling parah. Badai Irma punya dampak yang berbeda, tergantung kelas sosial korbannya. Contoh nyatanya bisa kita lihat di Pulau Necker (pulau pribadi milik Richard Branson), yang merupakan bagian British Virgin Islands (BVI). Hampir semua bangunan di Pulau Necker dan pulau lain di BVI hancur atau rusak parah akibat badai. Tetapi Richard Branson sendiri berhasil menyelamatkan diri ketika Irma memorakporandakan segalanya.

Ya, walau liburan mereka berantakan, wisatawan bukanlah korban sebenarnya. Thais Llorca / EPA

2. Potensi bencana datang dari alam—tapi kerentanan diciptakan manusia

Lokasi, atau daya rusak bencana, tidak cukup untuk menjelaskan mengapa Irma berdampak demikian hebat. Harus ada pemahaman mengapa bangsa-bangsa di Karibia lebih rentan terhadap bencana alam ketimbang Amerika Serikat.

Perlu ada telaah menyeluruh terhadap situasi politik dan ekonomi di pulau-pulau ini. Misalnya, beberapa laporan telah menyebutkan bahwa kawasan ini amat bergantung pada beberapa sektor, seperti pertanian dan pariwisata, yang jelas bakal terkena dampak Irma dalam jangka panjang.

Negara-negara dengan sumber pemasukan ekonomi beragam justru lebih mudah bangkit setelah bencana; tetapi negara-negara di Karibia akan lebih sulit, akibat terbatasnya variasi sumber ekonomi mereka.

Tetapi, media seharusnya tidak hanya melaporkan hotel yang runtuh atau hasil bumi yang rusak, tapi juga sejarah lokal. Leon Sealey-Huggins, seorang pakar mengenai pembangunan Karibia dari University of Warwick mengatakan, negara-negara ini terpaksa merestrukturisasi ke arah sektor wisata dan agrikultur, sebagai akibat dari krisis utang yang membelit mereka karena masuk ke sistem global yang tidak setara setelah merdeka. Wartawan mesti mengungkap juga sisi sejarah kolonial Karibia, serta mendukung argumen bahwa Inggris, Prancis, dan Belanda, khususnya, harus menolong lebih banyak.

3. Masyarakat sipil setempat juga membantu

Berkaca pada liputan bencana skala besar sebelumnya, media biasanya akan menampilkan gambar dan video rakyat Karibia diselamatkan, ditolong, dan diperhatikan oleh organisasi internasional. Tetapi yang juga penting diingat adalah bahwa masyarakat setempat juga terlibat dalam upaya pertolongan. Mereka bisa berbentuk organisasi yang sudah mapan, atau sekelompok orang yang bergerak spontan setelah bencana.

Setelah Topan Haiyan menerjang Filipina pada tahun 2015, dua organisasi non-pemerintah lokal—Coastal Core International dan Centre for Empowerment and Resource Development—memanfaatkan pengetahuan mereka dan bekerja bersama pemerintah. Kolaborasi seperti ini amatlah penting: organisasi internasional dan lokal tidak boleh dibiarkan bekerja sendiri-sendiri.

Tentara Belanda berpatroli di Sint Maarten, dua hari setelah Irma berlalu. Gerben Van Es / Dutch Department of Defence

4. Media perlu fokus pada proses jangka panjang juga

Kita terlalu sering melihat media seperti berlomba-lomba menayangkan kerusakan fisik dan kesedihan manusia, serta fokus pada operasi penyelamatan jangka pendek. Ini akan menarik perhatian kepada bencana itu sendiri, dan amat mungkin mengundang sumbangan dari semua penjuru dunia. Tapi di sisi lain, perlombaan seperti ini juga akan mengubah bencana menjadi tontonan, sementara proses pemulihan, pembersihan jalan dari pepohonan, akan terabaikan.

Kita harus memberi perhatian lebih kepada pemulihan jangka panjang, yang kerap terlupakan dan tak terlalu digubris orang. Sudah pasti, pemulihan setelah bencana tidaklah “seksi” seperti aksi tanggap bencana dan penyelamatan. Namun demikian, fase pemulihan amatlah penting, dan merupakan kesempatan untuk mengembalikan masyarakat ke kondisi semula, dengan cara yang sesuai pula dengan kebutuhan mereka.

This article was originally published in English