Beberapa perempuan bermasker melewati sebuah mural di Medan, Sumatra Utara. Dedi Sinuhaji/EPA

Pelajaran yang dapat diambil dari program HIV/AIDS di Indonesia untuk hadapi COVID-19

Besar kemungkinan COVID-19 menghantam keras Indonesia meski tes yang akurat kurang memadai untuk membuktikannya. Para peneliti Indonesia megatakan angka kematian kemungkinan jauh lebih tinggi daripada hitungan resmi pemerintah.

Yang kami ketahui dari pengalaman selama puluhan tahun melawan HIV di Indonesia adalah tidak ada cara yang mudah dan cepat dalam menghadapi suatu epidemi.

Pencegahan masih jauh lebih baik daripada kemampuan biomedis untuk mengetes dan mengobati. Patut diingat, akses universal terhadap tes dan pengobatan HIV masih belum tercapai meski berbagai upaya telah dijalankan selama puluhan tahun. Tes COVID-19 harus tersedia secara merata, dan masyarakat harus menyetujuinya.

Jika mereka tidak merasa sakit atau memerlukan tes COVID-19, atau mereka tidak dapat menjangkaunya, langkah pencegahan menjadi sangat tidak efektif. Kami tidak sepakat jika tes massal seharusnya dipaksakan, atau skala tesnya dapat diperbesar dalam waktu singkat.

Belajar dari pengalaman kami sebagai antropolog yang mengkaji isu HIV dan gender di Indonesia timur selama hampir dua dasawarsa, kami menyarankan pendekatan holistik, yang mencakup aspek budaya, gender, agama, ekonomi, dan politik untuk mengatasi aspek-aspek sosial terkait transmisi dan pencegahan suatu penyakit.

Ini artinya pencegahan harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan dipadukan ke dalam hubungan dan kebiasaan sosial mereka agar efektif.

Perhatikan konteks lokal

Strategi kesehatan masyarakat yang telah terbukti efektif di negara-negara lain belum tentu dapat diterima atau mudah ditiru di berbagai wilayah Indonesia.

Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih bukanlah perkara yang dapat dilakukan dengan mudah bagi kebanyakan orang Indonesia. Hanya 11% rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses terhadap air pipa di dalam rumah mereka, dan itu pun dengan kualitas air yang biasanya buruk.

Di provinsi Papua, hanya sekitar 35% masyarakatnya yang memiliki akses terhadap fasilitas wastafel publik dengan air pipa dan sabun. Ini akibat keterbatasan infrastruktur, kurangnya perlindungan terhadap jalur air, dan privatisasi air.

Pemerintah Indonesia telah menyarankan masyarakat agar tinggal di rumah untuk mencegah menyebarnya virus yang sangat berbahaya ini. Namun kebijakan ini tidak sesuai dengan hampir 60% populasi produktif Indonesia, atau sekitar 74 juta orang, yang bekerja di sektor informal.

Pedagang jalanan, pekerja spa, pekerja rumah tangga, dan karyawan toko, misalnya, tidak dapat bekerja secara jarak jauh atau mendapatkan uang jika tinggal di rumah. Langkah-langkah pembatasan sosial adalah kemewahan yang tidak dimiliki mayoritas pekerja dengan pendapatan yang tidak pasti.

Menjawab masalah ekonomi dari penyebaran penyakit ini berarti memperluas bantuan finansial pemerintah dan jaring pengamanan lainnya sehingga mereka yang bergantung pada pendapatan sehari-hari dari ekonomi informal, yang mayoritasnya adalah pekerja perempuan, dapat tinggal di rumah.

Bantuan pemerintah dalam bentuk penyediaan kebutuhan sehari-hari - termasuk penambahan pulsa listrik dan telepon seluler secara otomatis - akan membantu mereka untuk tinggal di rumah.

Konteks lokal adalah kunci - solusi yang berbeda pun tentu diperlukan.

Pencegahan yang efektif berarti melibatkan agama dan budaya

Orang Indonesia mengambil inspirasi dari nilai-nilai kepercayaan dan tradisi dalam menemukan solusi lokal untuk mencegah COVID-19.

Misalnya, di Desa Kepuh Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, para pemuda menjaga pintu masuk Dusun Kesongo dengan kostum pocong untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sekitar akan bahaya COVID-19.

Daripada membingkai cara-cara tersebut sebagai sebagai hal yang berkaitan jimat dan ritual, kita sebaiknya melihatnya sebagai peluang untuk memanfaatkan konteks kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia sebagai strategi dalam menangangi COVID-19.

Pemuka-pemuka agama dan budaya dapat mendukung imbauan kesehatan yang diberikan pemerintah ke dalam bahasa yang lebih persuasif dan mengena.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kelompok-kelompok agama di Indonesia memiliki peran yang kuat.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas telah memberikan dukungan terhadap larangan mudik pemerintah. Dia menyebarkan pesan kepada pengikutnya di media sosial bahwa mudik adalah perbuatan dosa karena membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Seorang penumpang berjalan di depan bus yang terparkir di sebuah terminal di Jakarta. Rifqi Riyanto / INA Photo Agency / Sipa USA

Banyak orang Indonesia yang sudah mengenakan penutup muka, seperti hijab utuk alasan agama atau bandana untuk menghadapi permasalahan buruknya kualitas udara perkotaan. Meski terdapat perbedaan pandangan medis terhadap manfaat penggunaan masker dalam mencegah transmisi - penutup muka dapat membantu membatasi penyebaran virus melalui udara, tentu jika digunakan dengan tepat.

Upaya pencegahan yang dilakukan perlu fokus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana penutup muka yang biasa digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dapat digunakan sebaik-baiknya untuk mencegah transmisi.

Manfaatkan apa yang sudah ada

Proses pembangunan rumah sakit darurat baru untuk COVID-19 membutuhkan waktu yang lama dan pusat penularan virus yang baru, tidak hanya selama pembangunannya tapi juga ketika pasien dan dokter berinteraksi dalam sebuah lingkungan yang kebersihannya sulit terjaga.

Tenaga medis menunjukkan sampel darah dalam sebuah tes diagnosis cepat COVID-19 untuk pekerja kuburan di Yogyakarta. Devi Rahman / INA Photo Agency / Sipa USA

Proses produksi vaksin pun memerlukan waktu bertahun-tahun demikian juga proses distribusinya. Vaksinasi bukanlah perkara mudah, mengingat rendahnya tingkat vaksinasi pada anak di banyak daerah di Indonesia.

Menimbang Indonesia sudah memiliki budaya seluler yang cukup kuat, mengapa tidak fokus pada pengembangan layanan kesehatan berbasis telepon atau konferensi video?

Layanan rumah sakit perlu diprioritaskan bagi mereka yang sangat sakit dan tidak dapat dirawat di rumah atau dengan telepon. Hal ini karena banyaknya tenaga kesehatan yang terinfeksi dan kemudian menyebarkan virus yang dideritanya kepada mereka yang sakit dan rentan. Mereka yang menemani pasien juga berisiko terjangkit, dan kemudian dapat menginfeksi orang lain pula.

Jasa pengantaran makanan dan barang berbasis aplikasi adalah aset yang dapat dimanfaatkan di kawasan urban Indonesia, dan memberikan peluang kerja bagi mitra Gojek yang terpaksa menganggur.

Melihat kesempatan untuk perubahan

Tes, pembatasan sosial, dan strategi lainnya berperan penting dalam meminimalkan penyebaran COVID-19 di Indonesia. Pengembangan langkah pencegahan berbasis budaya yang tidak canggih melainkan berdasarkan sumber daya yang ada juga sama pentingnya.

Namun pandemi COVID-19 ini menunjukkan secara gamblang keretakan dalam masyarakat Indonesia: kekerasan, diskriminasi, kerentanan, dan ketimpangan. Penyakit dalam hal ini adalah wujud dari ketimpangan yang ada di Indonesia.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menilik nilai-nilai dan kebiasaan yang tidak hanya mengantarkan kita pada masalah pandemi ini atau lambatnya respons atas fenomena ini, tapi juga adanya ketimpangan kesehatan yang membuat banyak orang Indonesia, dan orang-orang di negara lain, berada dalam posisi rentan ini.

Bram Adimas Wasito menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris_

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,800 academics and researchers from 3,637 institutions.

Register now