Pengusaha paruh baya lebih baik dari yang muda. Mengapa?

Startup seharusnya tidak diidentikkan dengan anak muda. Kzenon/shutterstock

Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckeberg adalah tiga tokoh besar yang menjadi panutan utama bagi para pengusaha. Ketiganya terkenal karena memulai perusahaan mereka sejak umur 20-an dan dalam banyak hal kemudian menjadi standar seperti apa seorang pengusaha yang sukses itu.

Ada alasan mengapa kita sebaiknya percaya dan berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh pengusaha yang lebih tua. Mereka nyatanya jauh lebih sukses dari yang lebih muda menurut penelitian terbaru yang menganalisis usia semua pendiri bisnis di AS dalam beberapa tahun terakhir dan seberapa baik mereka melakukannnya.

Pengusaha berusia muda mungkin memiliki beberapa keuntungan. Mereka biasanya adalah pengguna teknologi yang paling adaptif, lebih fleksibel dan tidak memiliki komitmen keluarga (dan karenanya cenderung lebih banyak mengambil risiko). Namun laporan terbaru dari Biro Penelitian Ekonomi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pengusaha paruh baya jauh lebih sukses dari mereka yang lebih muda.

Studi ini mengungkapkan bahwa pengusaha yang berusia di bawah 25 tahun cenderung berkinerja buruk. Kemungkinan untuk sukses meningkat ketika seseorang mencapai usia 25, setelahnya kinerjanya cenderung stabil antara umur 25 hingga 35. Kemungkinan untuk sukses akan mulai melonjak pada umur 35, kembali melonjak pada umur 46 lalu terus stabil hingga usia 60.

Hormati orang yang lebih tua

Sukses sebagai seorang entrepreneur bergantung pada keahlian, yang mana termasuk pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan keahlian. Para ekonom menyebut orang-orang ini kapital (modal). Adalah hal yang penting untuk menjelajahi berbagai peluang yang tersembunyi dan memanfaatkan yang telah ada.

Jika orang yang lebih muda mungkin unggul dari sisi kreativitas dan teknologi, kurangnya pengalaman di perindustrian, begitu juga dengan kematangan finansial, akan mempengaruhi kesuksesan bisnis mereka. Kita mendapatkan pengetahuan dan kemampuan melalui pendidikan dan pengalaman kerja. Maka mungkin tidak mengherankan jika penelitian menemukan bahwa pengetahuan dengan pengalaman di perindustrian yang lebih lama, terutama jika industrinya spesifik, memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki pengalaman yang lebih sedikit.

Hal ini memiliki implikasi serius mengenai bagaimana cara kita mengajarkan bisnis di tingkat pendidikan tinggi. Gagasan tentang pengusaha muda telah mendorong jumlah program kuliah yang besar di sekolah-sekolah bisnis, yang memang menjadi salah satu pilihan favorit bagi anak muda.

Di Inggris sendiri, terdapat 64 pendidikan entrepreneurship tingkat sarjana dan 106 pendidikan entrepreneurship tingkat master. Universitas memberi dukungan entrepreneurship pada siswa dengan hal–hal seperti co-working spaces dan entrepreneurship hubs, serta membantu para siswa untuk bisa mendapatkan graduate entrepreneur visas.

Namun dengan jelasnya bukti yang menyatakan bahwa orang yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, menjadi pengusaha yang lebih baik menunjukkan bahwa lulusan master bisnis (MBA) harusnya tidak didorong untuk langsung memulai bisnis mereka sendiri. Banyak pendidikan entrepreneurship yang menjanjikan para siswanya akan langsung siap untuk memulai bisnisnya sendiri segera setelah mereka lulus. Hasilnya, universitas terlalu menekankan startup di antara para lulusannya sebagai indikator kunci keberhasilan program pendidikan mereka.

Hal-hal baik datang kepada mereka yang menunggu

Tentu terdapat kemungkinan bagi para siswa tersebut untuk memulai sesuatu sendiri segera setelah kelulusannya. Namun pertanyaannya tetap: apakah mereka akan menjadi pengusaha sukses? Apakah lebih baik mendorong mereka untuk memulai karir terlebih dahulu, dan mempertimbangkan entrepreneurship pada tahap selanjutnya, di mana peluang sukses akan menjadi dua kali lipat?

Tidak seperti ilmu sains atau pendidikan teknik yang siswanya dilatih untuk mampu bekerja sebagai ilmuwan atau insinyur setelah mereka lulus, siswa lulusan entrepreneurship mungkin perlu untuk merubah kembali pola pikir bahwa mereka harus langsung memulai bisnis mereka sendiri segera setelah lulus, hal ini seringkali dibarengi dengan pemikiran jika mereka tidak melakukannya, maka semuanya akan terlambat atau dilihat sebagai sebuah kegagalan dalam membangun karir kewirausahaannya. Sekalipun begitu, meski Steve Jobs memulai bisnisnya pada umur 21, namun dapat dikatakan bahwa kesuksesanya datang bersamaan dengan iPhone, yang diluncurkan saat ia 52 tahun.

Lulusan kewirausahaan memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan yang telah ada, termasuk perusahaan-perusahaan besar. Meski beberapa sifat, seperti mengambil risiko mungkin tidak selaras dengan budaya perusahaan, banyak perusahaan yang membutuhkan karyawan yang mau berinovasi dan mengambil inisiatif mereka sendiri. Perusahaan seperti LinkedIn, Apple dan Microsoft secara terus-menerus mendorong para pegawainya untuk mengambil jeda dari tugas rutin mereka untuk mengerjakan ide-ide inovatif baru.

Sekolah bisnis juga harus mulai mempertimbangkan menggeser pendidikan mereka pada orang-orang dengan usia dan pengalaman yang lebih matang. Begitu pun dengan berbagai hibah dan program startup, yang menargetkan anak muda, yang sering memberikan dana tanpa perlu jaminan. Sementara itu para pengusaha yang lebih tua harus menggunakan tabungan atau rumah mereka sebagai jaminan meskipun faktanya jelas mereka memiliki potensi pengembalian investasi yang jauh lebih baik.

This article was originally published in English