Menu Close

Penjelasan di balik foto orangutan yang viral: menolong atau minta makan?

(Ilustrasi) Kedekatan orang utan dengan pengasuh mereka bisa menimbulkan sifat altruisme seperti yang ditunjukkan oleh Anih. Barbara Walton/EPA

Foto jepretan hasil fotografer lepas asal India, Anil Prabhakar, yang memperlihatkan orang utan betina berusia 25 tahun, Anih, mengulurkan tangan kepada seorang pria yang sedang terendam di air menjadi viral di media sosial sekitar Februari lalu.

Aksi mengulurkan tangan orang utan itu menimbulkan perdebatan. Ada yang melihatnya karena orang utan ingin menolong orang yang terendam. Namun tidak sedikit melihatnya sebagai upaya orang utan untuk meminta makan kepada orang tersebut.

Pandangan saya sebagai peneliti yang melakukan studi terkait perilaku hewan selama 30 tahun, besar kemungkinan Anih ingin menolong karena ada kedekatan dengan staf tersebut selama puluhan tahun, ketimbang hanya meminta makan seperti yang dilontarkan beberapa komentar.

Menurut informasi dari media, Anih dan Syahrul, pengasuhnya (pria yang berada di dalam air) sudah berinteraksi sejak tahun 1990an sehingga pasti sudah ada kedekatan antara keduanya.

Gestur pada hewan

Manusia bukan satu-satunya spesies yang menggunakan anggota tubuh atau gestur sebagai cara berkomunikasi.

Hewan seperti Anih juga mempunyai gerakan tertentu untuk mengekspresikan niat atau perasaan.


Read more: Bagaimana kami menemukan spesies orang utan baru di Tapanuli


Anih mengulurkan tangan kepada Syahrul yang terjebak di air merupakan bentuk altruisme atau keinginan untuk menolong tanpa memikirkan diri sendiri. Ia tidak peduli dengan bahaya berdiri di pinggir kali yang penuh dengan ular.

Anih menganggap Syahrul sebagai salah satu “kerabatnya”, sama seperti manusia yang cenderung ingin menolong apabila ada keluarga atau teman terdekat yang mengalami kesulitan.

Interpretasi manusia terhadap gestur ‘mengulurkan tangan’ yang dilakukan oleh Anih disebut sebagai antropomorfisme atau atribusi karakter manusia pada makhluk bukan manusia, misalnya hewan. Dan, ini sering terjadi.

Misalnya, burung berkicau diartikan sama dengan manusia yang bernyanyi. Padahal artinya belum tentu demikian.

Penelitian di lapangan menjelaskan seperti kicauan burung bisa berarti upaya memberikan sinyal komunikasi untuk tanda bahaya, menarik perhatian lawan jenis, hingga memberi sinyal tidak ingin ada rival sesama jantan dalam menarik perhatian betina.

Altruisme pada hewan

Aksi Anih tersebut menunjukkan sikap altruisme pada hewan.

Istilah altruisme ini dicetuskan pertama kali oleh Auguste Comte, filsuf asal Prancis, pada abad ke-19.

Altruisme, dalam bidang sosiologi, adalah suatu aksi kepedulian tanpa pamrih untuk kesejahteraan orang lain. Ini kebalikan dari egoisme, yang artinya menguntungkan diri sendiri.

Sementara, dalam bidang Zoologi (ilmu yang mempelajari soal hewan?), altruisme berarti perilaku hewan yang bermanfaat bagi individu lain atas kerugian diri sendiri.

Artinya, hewan juga memiliki rasa tidak memikirkan diri sendiri demi keselamatan individu lainnya atau kelompoknya agar generasi spesies tersebut dapat bertahan hidup di masa depan.


Read more: Tantangan konservasi orang utan: spesies dilindungi, habitatnya tidak


Hasil penelitian saya di Pusat Penelitian Ketambe, di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, tahun 1990-an, terhadap satu kelompok monyet ekor panjang menunjukkan salah satu individu mendeteksi keberadaan ular piton di hadapannya, lalu langsung menyuarakan peringatan.

Suara ini mengundang seluruh anggota kelompok berkumpul dan mengusir ular tersebut bersama-sama.

Individu monyet yang melihat pertama ular dan memberikan peringatan telah berperilaku altruistik untuk keselamatan individu lain dalam kelompoknya.

Hasil penelitian lain juga memperlihatkan orang utan akan mengeluarkan suara yang disebut sebagai “Kiss Squeak” untuk memperingatkan akan adanya bahaya, misalnya harimau.

Video dari National Geographic ini memperlihatkan kebiasaan orang utan, termasuk mengeluarkan suara “Kiss Squeak” saat merasa terancam.

Belajar dari hewan

Persepsi dan interpretasi berbeda terhadap hasil jepretan Anil Prabhakar berujung kepada perdebatan pendapat khayalak umum.

Namun perlu kita ingat, hasil foto merupakan salah satu karya seni. Kita seharusnya tidak perlu berdebat tentang interpretasi yang muncul. Kita perlu memaknai berdasarkan sumber ilmu perilaku hewan dari sumber ilmiah yang ada.

Pembelajaran yang diambil dari foto tersebut adalah bahwa hewan sebagai mahluk hidup juga memiliki berbagai perilaku unik dalam berinteraksi intra dan antar spesies agar mereka bisa bertahan di alam, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi generasinya.

Perilaku altruistik hewan tidak hanya ditujukan kepada hewan semata, manusia pun bisa mendapatkan manfaat ini. Selain contoh Anih dan Syahrul, ada juga anjing penuntun bagi tuna netra.

Mereka tidak hanya bertugas membantu menuntun pemilik mereka, tapi juga akan memberitahukan adanya bahaya.

Jika kita menghargai, melindungi dan mempelajari kehidupan hewan, maka semakin banyak kita tahu bahwa hewan, secara prinsip, memiliki beberapa perilaku yang mirip dilakukan manusia agar bisa bertahan hidup.


Catatan Editor : Nantikan Tatang Mitra Setia dalam serial podcast, Sains Sekitar Kita, kerjasama antara The Conversation Indonesia dengan KBR.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 115,400 academics and researchers from 3,751 institutions.

Register now