Menu Close
Petugas kesehatan melayani tes cepat (rapid test) COVID-19 kepada calon Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) di Banyuwangi, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj

Pentingnya menghindari bias kognitif dalam memilih pemimpin yang baik saat pemilu

Di tengah pandemi COVID-19 ini, ada banyak negara yang akan melaksanakan pemilihan umum (pemilu). Singapura baru saja melaksanakan pemilu pada Jumat 10 Juli lalu.

Negara tetangganya, Indonesia, berencana menyelenggarakan pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak di 270 daerah pada Desember 2020. Amerika Serikat juga berencana untuk melaksanakan pemilu pada November mendatang. Kabar terbaru, rapper Kanye West berencana untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden dalam pemilihan tersebut.

Untuk dapat memilih pemimpin yang baik saat pemilu, kita harus menyadari adanya bias kognitif, atau kesalahan sistematis dalam berpikir, untuk mencegah kita membuat keputusan yang buruk. Bias kognitif dapat mengaburkan penilaian kita ketika membuat keputusan tentang seorang kandidat.

Empat bias yang umum dijumpai saat pemilu

Terdapat 4 bias yang umum dijumpai ketika kita mencoba untuk memilih seseorang yang tepat.

1. Efek Halo dan Horns

Seberapa sering kita “mengelu-elukan” kepala daerah kita hanya karena mereka pernah sekali melakukan hal yang baik? Sebaliknya, seberapa sering kita langsung membenci mereka hanya karena mereka sekali saja membuat kesalahan?

Memberi predikat baik atau buruk kepada seseorang hanya karena “kesan” pertama kita dengan orang tersebut bisa disebut sebagai efek “Halo dan Horns”. Hal ini berbahaya karena dapat mencegah kita untuk dapat menilai seseorang secara keseluruhan.

Contohnya, staf rekrutmen suatu perusahaan mungkin saja menilai “buruk” seorang kandidat hanya karena prestasi akademisnya kurang baik. Padahal, kandidat tersebut mungkin saja memiliki banyak kemampuan lainnya karena keikutsertaannya dalam berbagai proyek selama masa percobaannya.

Oleh karena itu, dengan hanya meninjau prestasi akademiknya, staf rekrutmen tersebut telah “mengabaikan” potensi sebenarnya dari calon ini.

Efek Halo dan Horns ini dapat membuat kita memilih orang yang salah!

Kandidat 1 diterima karena kemampuan yang ditulis pertama kali tampak baik, namun kandidat 2 ditolak hanya karena kemampuan yang ditulis pertama kali tampak buruk.

2. Bias Asosiasi

“Orang itu memiliki muka yang terlihat sabar – pasti saja dia orang baik!” Kita pasti sering mendengar kalimat tersebut diucapkan, bukan? Walau kalimat tersebut mungkin saja benar berdasar pengalaman kita, tidak tertutup kemungkinan juga kalimat tersebut salah!

Dengan menggunakan asosiasi untuk menilai seseorang, kita telah terperangkap dalam bias asosiasi. Asosiasi-asosiasi seperti itu membuat kita tidak dapat menilai seseorang secara menyeluruh.

Sebagai contoh, seseorang mungkin saja memiliki muka yang kita asosiasikan sebagai orang “jahat”, hanya karena kita punya pengalaman buruk dengan orang yang memiliki muka yang serupa dengan orang tersebut. Dengan asumsi tersebut, kita “mencoret” orang ini dari daftar orang yang bisa diajak untuk bekerja sama. Padahal, kemudian hari, orang ini terkenal dalam partisipasinya untuk mengembangkan suatu produk baru.

Oleh karena itu, bias ini mungkin saja “menghilangkan” kesempatan kita bekerja sama dengan orang yang seharusnya dapat menguntungkan satu sama lain.

3. Bias status quo

“Sekarang semuanya baik-baik, ngapain perlu berubah?”

Kita semua pasti bertanya seperti itu setiap kali ada perubahan yang terjadi. Setiap orang pasti memiliki kecenderungan untuk tidak menyukai perubahan karena perasaan nyaman dengan keadaan saat ini. Orang juga pasti cenderung akan menolak hal-hal yang tampak tidak menguntungkan bagi mereka, misalnya, kenaikan harga.

Namun, bagaimana jika sebenarnya perubahan itu dapat membawa hal yang lebih baik? Dalam kondisi tersebut, kita telah jatuh dalam perangkap bias status quo. Bias tersebut akan menghindarkan kita menerima perubahan karena perasaan nyaman kita dengan kondisi saat ini, walau sebenarnya perubahan itu akan membawa kebaikan untuk kita.

Satu contoh sederhana adalah ketika harga minuman favorit kita naik. Reaksi pertama kita mungkin adalah akan mengeluh terlebih dulu. Padahal, kita tidak menyadari bahwa dengan harga saat ini, porsi minuman tersebut telah berkurang.

4. Disinformasi

Dalam masa kampanye pemilihan umum, kita mungkin saja menemukan artikel yang mendiskreditkan politikus favorit kita, dan pada waktu yang bersamaan, mengagungkan politikus yang tidak kita sukai.

Ketika itu terjadi, jangan cepat untuk marah! Artikel tersebut memang mungkin saja ditulis untuk menyerang seseorang – dan ini dikenal dengan disinformasi. Namun, ingatlah bahwa hal sebaliknya juga bisa saja terjadi – artikel tersebut memuji politikus yang kita sukai tapi mendiskreditkan politikus yang kita benci.

Tips mengalahkan bias

Kita mudah terperangkap dalam berbagai bias. Adakah yang bisa kita lakukan untuk menghindar dari perangkap bias tersebut? Di bawah ini terdapat dua tips:

1. Lakukan lebih banyak “riset”

Dengan melakukan hal tersebut, kita akan menemukan pernyatan-pernyataan yang tidak hanya mendukung seseorang yang kita sukai, tapi juga yang “menjatuhkan” orang yang kita sukai tersebut. Hal tersebut akan membantu kita menilai seseorang secara menyeluruh, dan tentu membantu kita membuat keputusan yang lebih baik!

Selain itu, dengan mendapatkan beragam sumber informasi, kita juga akan terhindar dari bias status quo. Ketika kita berselancar di internet atau membaca berbagai buku, kita akan lebih mengerti alasan mengapa perubahan tersebut dilakukan. Dengan itu, kita akan dapat menilai apakah perubahan itu diperlukan - daripada menolak perubahan tersebut hanya karena kita tidak mau suatu perubahan terjadi!

Selain itu, dengan lebih banyak sumber informasi yang kita miliki, kita juga dapat terhindar kita dari jebakan “disinformasi”. Ketika kita membaca banyak sumber berita, kita akan tahu apa hal yang sebenarnya terjadi. Berdasar hal tersebut, kita dapat menilai apakah berita tersebut benar.

2. Hapus asosiasi-asosiasi yang telah kita buat

Perjumpaan kita dengan banyak orang pada masa lalu pasti telah meninggalkan kesan positif maupun negatif di benak kita. Kesan-kesan ini akan kemudian menjadi panduan kita dalam menilai seseorang yang baru kita temui. Walau “data” ini mungkin saja benar, akan lebih baik jika kita bisa tidak menggunakannya ketika kita menilai seseorang yang kita baru jumpai.

Hal yang bisa kita lakukan adalah lakukan riset, sehingga kita bisa mengetahui lebih banyak hal dari orang ini secara objektif. Dengan itu, kita bisa membuat keputusan dengan lebih rasional!

Pemilu adalah peristiwa penting yang akan menentukan masa depan suatu negara. Untuk itu, pastikan kita telah mencari lebih banyak sumber informasi dan menghindari penggunaan “intuisi”. Ini akan membantu kita membuat keputusan yang lebih rasional, dan tentunya, keputusan yang lebih baik untuk negara kita!

Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada tim pengajar mata kuliah ALS1020: Learning to Choose Better di National University of Singapore (Robert Kamei, Magdeline Ng, dan Esther Ng Shu Shan) dan tim dari National University of Singapore Libraries atas kontribusinya dalam proses penulisan artikel ini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 115,400 academics and researchers from 3,751 institutions.

Register now