Pentingnya riset tentang keseharian anak muda dalam memahami tingkat konservatisme di antara mereka

Seorang pemuda sedang berdoa di Masjid Istiqlal, Jakarta. Ardiles Rante/EPA

Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar seringkali disebut sebagai sebuah negara Islam yang demokratis dan moderat .

Namun, berbagai hasil riset terkini menunjukkan meningkatnya konservatisme di antara umat Islam di Indonesia. Salah satu hasil riset yang menunjukkan tren tersebut adalah Indonesian Muslim Report (laporan tentang umat Islam di Indonesia) yang dikeluarkan oleh lembaga riset Alvara.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap 1.567 responden di 34 provinsi, laporan tersebut menemukan bahwa generasi muda Indonesia menjadi lebih konservatif. Hampir 60% responden dari generasi Z (14-21 tahun) dan milenial muda (22-29 tahun) menjadi bagian dari kelompok yang menyebut diri mereka kaum “puritan dan ultra-konservatif”.

Temuan ini penting karena sekitar 63,8 juta atau hampir seperempat penduduk Indonesia adalah generasi muda.

Laporan-laporan semacam ini memang mengkhawatirkan, namun angka-angka yang ditunjukkan tidak banyak menjelaskan bagaimana anak muda menghadapi perbedaan agama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Penelitian saya yang membahas tentang kehidupan sehari-hari generasi muda Indonesia dan interaksi religius mereka mungkin bisa menjelaskan mengapa mereka menjadi lebih konservatif.

Praktik sehari-hari

Pada 2013, saya mewawancarai 20 orang berusia 16-19 tahun dari tiga SMA berbeda di Jakarta, sekolah swasta, negeri dan sekolah negeri Islam.

Saya juga membuat diskusi kelompok dengan mereka.

Ternyata, generasi muda belajar tentang toleransi tidak hanya dari apa yang diajarkan di kelas. Mereka juga belajar dari pengalaman langsung dari pengalaman mereka berinteraksi dengan orang yang berbeda agama.

Hal ini berlawanan dengan apa yang dipercayai oleh pemerintah. Pemerintah percaya lingkungan yang toleran datang dari sistem pendidikan Orde Baru yang telah bertahun-tahun mengajarkan tentang toleransi.

Orde Baru menerapkan toleransi dengan melarang adanya diskusi tentang SARA (suku, agama, ras dan antaretnis) dengan tujuan untuk menghindari konflik.

Meskipun anak muda dikondisikan untuk menghindari diskusi agama di ranah publik, penelitian saya menunjukkan bagaimana pengalaman mereka bersentuhan dengan keberagaman agama mempengaruhi pandangan mereka.

Salah satu responden saya, pelajar 16 tahun dari SMA Islam, bercerita bahwa ia paham tentang toleransi dan bagaimana mempraktikkannya dari pengalaman langsung berteman dengan non-Muslim di lingkungannya.

Hal ini tidak hanya menunjukkan pentingnya belajar tentang toleransi dari pengalaman sehari-hari, wawancara yang saya lakukan juga menunjukkan anak muda membutuhkan ruang dan kesempatan yang bisa mendorong hubungan yang toleran antaragama.

Dalam kasus responden saya yang di atas, responden saya memiliki akses untuk membangun hubungan yang dekat, rutin dan, ramah dengan tetangga non-Muslimnya.

Namun, di sisi lain, saat ini kita melihat kompleks perumahan khusus Muslim mulai menjamur, seperti di Yogyakarta.

Perumahan yang eksklusif ini muncul sebagai dampak dari nilai-nilai konservatisme yang tumbuh di masyarakat, kemudian kepentingan modal, dan kurangnya perencanaan tata kota yang inklusif.

Hal ini bisa berdampak pada generasi muda yang memiliki akses terbatas untuk berinteraksi dengan orang lain dari latar belakang agama berbeda, yang bisa saja memupuk pandangan konservatif mereka.

Namun hal tersebut tidak berarti bahwa perumahan khusus Muslim hanya menjadi satu-satunya faktor di balik meningkatnya konservatisme di antara generasi muda.

Tapi, hal tersebut justru menunjukkan bahwa praktik keberagaman dalam kegiatan sehari-hari memang mempengaruhi pandangan anak muda.

Pentingnya penelitian lain

Dengan berfokus pada interaksi sehari-hari generasi muda, riset saya bertujuan untuk membantu kita memahami konteks sosial yang membentuk perilaku dan nilai yang dianut generasi muda, termasuk pandangan religius mereka.

Konteks sosial berperan penting untuk menyediakan ruang dan kesempatan yang mempromosikan toleransi dalam kehidupan generasi muda.

Analisis tentang struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya bisa memberikan gambaran yang lebih besar. Penelitian sejenis bisa menghindari penyederhanaan isu yang tidak hanya menyalahkan generasi muda saja.

Namun, penelitian seperti ini masih sangat terbatas. Nilai-nilai konservatisme yang meningkat di kalangan generasi muda membutuhkan analisis struktural terhadap konteks sosial dan politik tempat mereka tinggal. Kita perlu memahami peran pemerintah, institusi pendidikan, media, keluarga dan pemimpin agama dalam mempengaruhi kehidupan anak muda, serta dampak dari ketidaksetaraan ekonomi terhadap pandangan agama mereka.

Dengan demikian, pertanyaan mengapa generasi muda Indonesia menjadi lebih konservatif masih membutuhkan adanya penyelidikan lebih lanjut tentang kehidupan sehari-hari mereka.

Nashya Tamara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 108,900 academics and researchers from 3,577 institutions.

Register now