Peran penting guru BK dalam mendeteksi depresi pada remaja

Ada stigma seputar gangguan emosi, yang mencegah orang mencari bantuan. Dan kebanyakan orang sering tidak tahu bahwa mereka, teman-teman atau keluarga mereka memiliki gejala depresi. www.shutterstock.com

Hari ini, 10 September, adalah Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Menurut laporan WHO pada 2014 , tingkat bunuh diri di Asia Tenggara, yang termasuk Indonesia, adalah yang tertinggi di dunia, mencapai 20 per 100.000 orang. Tingkat bunuh diri global diperkirakan 10,5 per 100.000 orang.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, 6% penduduk Indonesia memiliki gangguan mental-emosional, seperti gangguan suasana hati, kecemasan, psikosis, dan adiksi.

Di Indonesia, sekitar 185 dari 1.000 orang dewasa punya masalah kesehatan mental. Remaja dan anak-anak juga mengalami masalah sama. Sekitar 140 dari 1.000 remaja di bawah usia 15 tahun dan 104 dari 1.000 anak-anak berusia antara 5 dan 14 tahun juga memiliki masalah kesehatan mental.

Untuk mengatasi masalah ini, akses ke layanan kesehatan mental untuk remaja harus ditingkatkan. Tapi tidak hanya itu, guru bimbingan konseling (BK) di sekolah , dokter umum, dan perawat harus dilengkapi dengan alat untuk mendeteksi gejala masalah kesehatan mental.

Antara Januari dan Juli tahun ini, kami, sekelompok peneliti dari Australia dan Indonesia, meneliti untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia instrumen untuk mendeteksi gejala depresi. Kami juga menguji untuk memastikan hasil terjemahan dapat dengan mudah dipahami dan diterima oleh pemuda Indonesia.

Tidak mudah dideteksi

Praktisi kesehatan mental terlatih untuk mendiagnosis orang dengan depresi. Mereka biasanya menggunakan wawancara klinis dalam diagnosanya. Masalahnya, bagi banyak orang perjalanan mencari bantuan untuk mengatasi masalah kesehatan mental biasanya sangat panjang.

Ada stigma seputar gangguan emosi, yang mencegah orang mencari bantuan. Dan kebanyakan orang sering tidak tahu bahwa mereka, teman-teman atau keluarga mereka memiliki gejala depresi.

Sekolah adalah tempat yang ideal untuk mempromosikan aspek kesehatan mental remaja. Pendidikan dasar wajib bagi anak-anak Indonesia. Mereka menghabiskan enam hingga delapan jam sehari di sekolah, membuat para guru mampu mengenali masalah emosi dan perilaku siswa.

Namun, guru bimbingan di sekolah dasar di Indonesia tidak memiliki alat untuk membantu mereka mendeteksi masalah kesehatan mental.

Alat untuk mendeteksi depresi

Mendeteksi depresi dan kecemasan pada remaja tidak mudah dan sering terlambat. Kita dapat melihat ini di laporan media tentang kasus bunuh diri remaja.

Peneliti kesehatan medis Indonesia memiliki alat mendeteksi gejala depresi yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Misalnya, MINI Kid (Mini-International Neuropsychiatric Interview For Children And Adolescents), sebuah pedoman wawancara semi terstruktur untuk mendiagnosis gangguan mental pada anak-anak dan remaja, termasuk psikosis, depresi, dan kecemasan. Tapi, alat ini lebih umum digunakan untuk tujuan penelitian. Untuk pemeriksaan klinis, pemeriksaan psikiatri dan wawancara jauh lebih diterapkan untuk mendiagnosis gangguan mental termasuk depresi.

Itu sebabnya kami menerjemahkan instrumen yang dapat digunakan oleh dokter umum, perawat dan guru bimbingan untuk membantu mereka mendeteksi depresi dan kecemasan di kalangan remaja yang lebih tua atau remaja sekitar 16-18 tahun.

Untuk penelitian kami, kami menerjemahkan Skala CESD-R (Center for Epidemiologic Studies Depression) dan Kessler Psychological Distress Scale - 10 item (K10.

Skala K10 diciptakan oleh Lenore Radloff, seorang ahli statistik epidemiologi di Institut Kesehatan Mental Nasional (NIMH) AS pada 1977. Sementara Skala CESD-R disusun pada 2004 oleh William Eaton dan rekan-rekannya.

Instrumen ini berbentuk kuesioner yang diisi sendiri. Meskipun instrumen tidak spesifik untuk populasi remaja tetapi di banyak negara lain instrumen ini berguna untuk mendeteksi gejala awal depresi dan kecemasan pada remaja.

Deteksi dini dapat membantu remaja untuk mendapatkan tatalaksanan yang lebih awal seperti medikasi serta manajemen psikososial seperti psikoedukasi, konseling, serta terapi kognitif perilaku.

Mari bantu anak-anak muda Indonesia menghargai kesejahteraan psiko-sosial mereka sendiri. www.shutterstock.com

Menterjemahkan alat pendeteksi kesehatan mental

Untuk penelitian kami, dua penerjemah dwibahasa, yang berbahasa ibu bahasa Indonesia, menerjemahkan kuesioner asli secara independen. Para penerjemah adalah psikiater yang tidak terlibat dalam studi lapangan.

Kami kemudian mempelajari hasil terjemahan dan memutuskan terjemahan yang sesuai untuk setiap item sesuai dengan bahasa asli dari instrumen.

Terjemahan kembali ke Bahasa Inggris dilakukan oleh penerjemah profesional tersumpah dari pusat bahasa di Universitas Indonesia. Para ahli di Australia mengevaluasi terjemahan kembali untuk memastikan bahwa pernyataan dalam versi bahasa Indonesia mirip dengan versi aslinya.

Kami menguji versi terakhir dari kuesioner kepada 10 anak berusia 16-18 di Jakarta pada Februari 2018. Dari uji coba, semua pasien setuju bahwa kuesioner yang diterjemahkan CESD-R dan K-10 dapat dengan mudah dipahami.

Kami juga melakukan studi validasi, untuk membandingkan versi Indonesia dari CESD-R dengan alat lain, yang disebut MINI Kid , yang juga telah diterjemahkan ke Indonesia.

MINI Kid adalah pedoman wawancara semi terstruktur untuk mendiagnosis beberapa gangguan mental di antara anak-anak dan remaja, termasuk psikosis, depresi, dan kecemasan. Ini lebih umum digunakan untuk tujuan penelitian. Untuk pekerjaan klinis, pemeriksaan psikiatri dan wawancara jauh lebih diterapkan untuk mendiagnosis gangguan mental termasuk depresi.

Sekitar 196 siswa SMA yang berusia 16-18 tahun di Jakarta berpartisipasi dalam studi validasi. Para siswa menyelesaikan versi Bahasa Indonesia penilaian CESD-R dan MINI Kid dan kami membandingan untuk melihat apakah hasil dari CESD-R mirip dengan pengukuran yang valid (MINI Kid).

Melalui analisis statistik yang mengukur atau membandingkan CESD-R dan K-10, kami menemukan bahwa semua skala memiliki validitas yang baik untuk mendeteksi depresi dan kecemasan.

CESD-R 75% sensitif, yang berarti dapat mendeteksi 75% orang dengan depresi dan hampir 80% spesifik untuk mendeteksi gejala depresi seperti gangguan suasana hati, masalah tidur, nafsu makan yang buruk atau masalah dalam interaksi sosial; sedangkan instrumen K-10 85,7% sensitif dan 74,7% spesifik untuk mendeteksi kecemasan.

Apa selanjutnya?

Guru bimbingan, perawat atau dokter dapat dilatih untuk menggunakan instrumen-instrumen ini untuk mendeteksi gejala depresi. Pemerintah juga harus memperkuat sistem rujukan dengan melatih dokter umum untuk mengelola atau merujuk kasus.

Penting untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kesehatan mental terutama pada anak dan remaja oleh karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Seluruh komunitas harus mendukung anak dan remaja yang berjuang dengan kecemasan, gangguan suasana hati, dan depresi.

Daripada menilai atau melabeli mereka sebagai “remaja bermasalah”, kita harus mendengarkan, berempati, mendukung dan membantu mereka mencari bantuan profesional jika diperlukan. Ini akan mengurangi stigma dan membantu anak-anak muda Indonesia menghargai kesejahteraan mental mereka sendiri.

This article was originally published in English