Menu Close
John Bingham/Alamy Stock Photo.

Pertumbuhan ekonomi memperparah perubahan iklim: pakar usulkan komunisme ‘degrowth’ sebagai solusinya

Saya kerap mendengar dari orang-orang bahwa gagasan degrowth, yakni pengurangan aktivitas produksi dan konsumsi untuk meredam laju kerusakan bumi, sulit diterima oleh masyarakat. Namun, seorang akademikus berusia 36 tahun dari Tokyo University justru bisa terkenal karena berpendapat bahwa konsep komunisme degrowth bisa mengatasi perubahan iklim.

Sampul buku berwarna hitam beraksara Jepang dan gambar penulis di depan gambar bumi yang berkelir merah.
Edisi pertama buku Kohei Saito

Akademikus tersebut bernama Kohei Saito, penulis buku laris Capital in the Anthropocene yang kembali membuahkan karya berjudul Marx in the Anthropocene: Towards the Idea of Degrowth Communism. Buku ini cukup ‘berat’, terutama bagi mereka yang tak berkarib dengan jargon-jargon Marxis yang, saya kira, tidak terlalu peduli apakah Karl Marx (pencetus komunisme ) mulai mengkhawatirkan bumi pada tahun-tahun terakhirnya atau tidak.

Walau begitu, ulasan Saito sangatlah menohok. Dia memakai teori Marxist untuk menjelaskan “melimpahnya kekayaan (bumi) dalam komunisme degrowth” — yang juga menjadi judul bab terakhir bukunya. Usaha dia menghidupkan kembali Marxisme dengan gagasan-gagasan alternatif pertumbuhan ekonomi juga kian mempopulerkan kritik kita terhadap kapitalisme.

Ulasan ini turut memikat saya, sebagai ekonom yang juga meneliti gagasan degrowth.

Pertumbuhan ekonomi mengakibatkan kelangkaan

Saito sukses menjungkirbalikkan konsep pertumbuhan ekonomi. Banyak orang beranggapan bahwa pertumbuhan membuat kita tajir, tapi bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?

Produk domestik bruto (PDB), ukuran produksi yang berbasiskan nilai uang, dapat meningkat karena seseorang mengkomersialkan barang publik. Gagasan ini disampaikan ahli geografi asal Inggris David Harvey melalui frasa “akumulasi (kekayaan) dengan disposesi (pelepasan barang publik)”. Artinya, pihak-pihak tertentu memagari sumber daya (yang sebelumnya bisa dimanfaatkan masyarakat secara gratis), kemudian menjualnya.


Read more: Riset: biaya lingkungan Indonesia nyaris seribu triliun setahun, ini 10 besar penyebabnya


Meski bisa menggenjot PDB suatu negara, penghisapan berujung renten tersebut sebenarnya tidak menciptakan suatu barang yang berguna. Faktanya, upaya menutup akses warga terhadap sumber daya justru menimbulkan kelangkaan artifisial. Sebab, sumber daya tersebut sebenarnya tidaklah langka.

Makin banyak uang terkumpul, makin besar kemungkinan praktik rampas-jual terjadi. Entah itu terhadap sumber daya alam, pengetahuan, ataupun tenaga kerja. Maka, ketika semua hal berpeluang untuk dijual ataupun dibeli, otoritas pasti langsung mendukungnya karena bisa memperbesar keuntungan.

Misalnya: mengapa kita harus meminjamkan rumah secara gratis jika kita bisa menyewakannya lewat Airbnb?

Itulah maksudnya, ketika kita bergantung pada uang untuk memenuhi kebutuhan, kita akan dipaksa menjadi kapitalis.

Rem darurat

Naluri ‘haus duit’ mendorong kita untuk mengubah hal-hal yang alamiah menjadi komoditas. Mesin pencetak keuntungan bisa terus beroperasi tanpa henti walaupun sumber daya kita kian seret.

Contoh yang amat nyata terlihat dalam torehan keuntungan berlipat-lipat oleh perusahaan bahan bakar fosil di tengah kondisi bumi yang terus memburuk.

Sebuah tangan memegang pompa bensin hijau dengan logo Shell.
Perusahaan minyak dan gas menuai hasil dari harga minyak yang tinggi. EPA/Andy Rain

Nah, menurut Saito, gagasan degrowth dapat menjadi rem darurat guna menyetop lingkaran setan di atas. Caranya dengan “mengakhiri eksploitasi kemanusiaan dan perampokan alam habis-habisan.”

Para akademikus mengartikan degrowth sebagai usaha terencana nan demokratis untuk menurunkan angka produksi dan konsumsi untuk meringankan beban lingkungan.

Demokratis menjadi bagian krusial. Sebab, gagasan ini juga bertujuan untuk mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi sekaligus menaikkan kesejahteraan semua orang. Sulit membayangkan degrowth dapat terjadi dalam sistem kapitalisme yang sejatinya wajib untuk terus berekspansi dan menghasilkan keuntungan.


Read more: Melawan krisis iklim: kita kekurangan tokoh-tokoh fiksi bergaya hidup ramah lingkungan


Itulah poin Saito sebenarnya: komunisme sepertinya lebih bisa diandalkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Saito beralasan bahwa perekonomian yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan manusia dapat menghindarkan kita dari produksi ‘barang sampah’ (yang tak penting). Tanpa kewajiban ‘jadilah kaya atau binasa’, banyak barang atau jasa yang boros sumber daya tidak akan lagi terasa penting ataupun dibutuhkan.

Sang penulis menyebut degrowth sebagai “kesadaran untuk mengikis ‘dunia kebutuhan’ (realm of necessity)”–istilah Marxis terkait hal-hal apa saja yang dianggap sebagai kebutuhan dasar. Dalam komunisme degrowth, dunia kebutuhan akan terkikis untuk menyingkirkan barang-barang maupun aktivitas yang tidak bermanfaat bagi kesejahtaraan manusia sekaligus kelestarian alam.

Saat kebutuhan berkurang, cara kerja akan berubah. Cara industri memproduksi barang dengan biaya semurah mungkin–tapi mengorbankan keamanan dan kenyamanan bekerja–pada akhirnya akan punah.

Alih-alih bersaing untuk merebut pasar, perusahaan dapat bergotong royong untuk mencapai tujuan bersama, misalnya memulihkan keberagaman hayati. Kinerja mesin uang yang melambat akan memperlebar kesempatan masyarakat untuk memulihkan biodiversitas. Selama ini, urusan makhluk hidup masih terkucil lantaran dianggap tidak menguntungkan.

Dalam kondisi tersebut, laju perekonomian mungkin akan melambat dan mengecil. Namun pertumbuhannya akan lebih lestari dan efektif untuk mengungkit kualitas hidup kita – yang sejatinya memang harus seperti itu.

Menuju era tanpa kelangkaan

Karya Saito tergolong menyegarkan karena dapat mengakhiri perdebatan di kalangan sosialis tentang perekonomian. Selama ini ada kubu yang meyakini inovasi teknologi dan automasi pekerjaan dapat menggenjot perekonomian sekaligus memperbanyak waktu luang. Di sisi lain, ada juga yang meyakini sosialisme tanpa pertumbuhan ekonomi.

Ketimbang menumbuhkan perekonomian dengan mengkaveling serta menjual segala hal, Saito mengusulkan pembagian kekayaan yang sudah ada. Usulan ini diyakini dia dapat menciptakan cara hidup baru, yakni orang-orang bisa memangkas waktu dan upaya untuk menghasilkan komoditas. Tujuannya agar orang-orang bisa memperhatikan hal-hal yang lebih berharga, yang dalam konsep Marxisme disebut ‘dunia kebebasan’ atau realm of freedom.

Untuk memulainya, kata Saito, kita bisa memulihkan berbagai ekosistem di bumi yang menjadi pijakan kegiatan segala makhluk.

Burung Albatross Downy betina duduk di sebelah pot tanaman dengan orang -orang sebagai latarnya.
Banyak pekerjaan yang diperlukan, seperti memulihkan habitat, yang mungkin tidak menguntungkan dalam perekonomian saat ini. Rosanne Tackaberry/Alamy Stock Photo

Orang-orang, karena tidak dipaksa untuk haus duit dan konsumtif, dapat menikmati kekayaan alam dan masyarakat yang melimpah. Ketimbang gonta-ganti ponsel pintar baru setiap tahun, kita bisa menikmati dan terlibat dalam ekosistem alami yang lebih nyaman, ruang publik meluas, dan demokrasi semarak.

Melalui bukunya, Saito menghidupkan kembali gagasan-gagasan Marxis. Dia mengajak kita untuk membayangkan kehidupan tanpa penghisapan, produksi, dan konsumsi. Seperti yang telah dikatakannya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk berubah:

Meski tak pernah dibahas selama abad ke-20, gagasan Marx tentang komunisme degrowth terasa jauh lebih penting saat ini karena untuk meningkatkan ketahanan hidup manusia pada era Antroposen (era manusia mendominasi).

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 181,700 academics and researchers from 4,935 institutions.

Register now