Pesan SMS pengingat obat bisa tingkatkan kepatuhan pasien HIV/AIDS minum antiretroviral

UN/Flickr

Di tengah pandemi Covid-19 kita harus tetap memperhatikan terapi bagi orang dengan HIV/AIDS walau berbagai kebijakan terkait Covid-19 telah memperpuruk rantai pasokan dan distribusi antiretroviral di Indonesia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Penanganan AIDS (UNAIDS) memperkirakan bahwa hanya 17% dari semua orang yang sudah didiagnosis sebagai pasien dengan HIV/AIDS di Indonesia mendapatkan terapi antiretroviral.

Dari persentase kecil orang yang mendapatkan terapi antiretroviral, tingkat kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral juga bermasalah.

Sebuah riset terbaru di empat kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar yang melibatkan 831 partisipan dengan HIV/AIDS yang menjalani terapi antiretroviral menunjukkan kurang dari separuh total partisipan patuh minum obat.

UNAIDS menetapkan jumlah virus yang sangat rendah di dalam tubuh seseorang (di bawah 200 copies/mililiter) mengindikasikan tingkat kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi. Dari riset di empat kota besar tersebut, hanya 48% dari partisipan yang mengalami penurunan jumlah virus di dalam tubuhnya hingga di bawah 200 copies/mililiter di tubuhnya.

Padahal minum obat pengendali virus setiap hari mampu menurunkan jumlah virus dalam tubuh orang-orang dengan HIV/AIDS.

Penggunaan teknologi untuk layanan kesehatan–dikenal dengan e-health–untuk mengingatkan pasien mengkonsumsi obat pengendali virus atau antiretroviral setiap hari berpotensi meningkatkan kepatuhan pasien untuk minum obat.

Yang mendorong ketidakpatuhan minum obat

HIV/AIDS adalah penyakit kronis sehingga pasien harus patuh minum obat setiap hari sepanjang hidupnya.

Terlebih, pasien bisa menjadi resistan terhadap obat antiretroviral jika tidak patuh dalam mengkonsumsi obat tersebut. Artinya, obat tersebut tidak lagi efektif dalam menekan perkembangan virus di dalam tubuh seseorang.

Di Indonesia, UNAIDS memperkirakan pada 2008 ada 640.000 orang yang hidup dengan HIV/AIDS, dan 46.000 di antaranya merupakan kasus baru.

Belum ada data nasional tentang berapa persen pasien yang sudah mengkonsumsi obat antiretroviral yang mengalami penurunan jumlah virus di dalam darah.

Pasien dengan HIV/AIDS menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan kepatuhan terapi.

Pertama, mereka masih menghadapi stigma dari masyarakat dan petugas kesehatan karena persepsi yang salah. Salah satu pandangan keliru itu adalah penyakit ini dikaitkan dengan perilaku yang buruk. Stigma membuat pasien tidak mau diketahui status HIV-nya oleh orang-orang sekitar, termasuk keluarga.

Hal ini berisiko menghambat pasien mengkonsumsi obat dengan teratur maupun mengambil obat di layanan kesehatan. Terkadang pasien juga menstigma dirinya sebagai dampak dari stigma di masyarakat. Pasien menganggap dirinya tidak layak diobati sehingga merasa tidak perlu memperhatikan kesehatan dirinya dan menurunkan motivasi mengkonsumsi obat.

Kedua, berbagai masalah kesehatan jiwa, seperti cemas dan depresi, juga dapat dialami oleh para pasien. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa pasien dengan HIV yang mempunyai gangguan jiwa cenderung mengalami penurunan motivasi dalam mengkonsumsi obat antiretroviral.

Dengan demikian, pasien perlu didukung dari berbagai elemen untuk tetap patuh pada terapi dan berbagai metode potensial yang dapat membantu mereka perlu dikaji.

Riset efektivitas e-health untuk tingkatkan kepatuhan

Saat ini Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, dan Unika Atma Jaya sedang melakukan penelitian gabungan untuk mengevaluasi penggunaan short text message SMS pengingat di Indonesia.

Partisipan penelitian tersebut adalah populasi kunci pasien dengan HIV/AIDS, yaitu perempuan pekerja seks, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki lainnya, waria, dan pengguna napza suntik.

Hasil penelitian ini bisa menjadi masukan yang berguna untuk lebih mempertimbangkan pemanfaatan teknologi SMS dalam terapi antiretroviral.

Riset di beberapa negara menunjukkan penggunaan teknologi komunikasi seperti program interaktif berbasis komputer (perangkat lunak) atau website, konseling melalui telepon atau video call, pengiriman pesan pendek atau (SMS) kepada pasien dapat meningkatkan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam mengkonsumsi obat antiretroviral atau datang kontrol ke layanan kesehatan.

Di antara metode-metode tersebut, SMS pengingat merupakan yang terbanyak digunakan dan diteliti.

Penelitian di Kenya dan Brazil menemukan bahwa 50-75% pasien yang mendapatkan SMS pengingat secara rutin mampu mencapai tingkat kepatuhan yang sangat baik.

Kelompok yang tidak mendapatkan SMS pengingat juga mampu mencapai tingkat kepatuhan tinggi tapi jumlahnya lebih rendah hanya sekitar 40-50%.

Kekuatan SMS

Para peneliti di Kenya dan Brazil menyimpulkan peningkatan kepatuhan ini terkait dengan adanya sistem yang mengingatkan mereka mengkonsumsi obat secara rutin. Penggunaan metode SMS ini juga perlu mempertimbangkan frekuensi dan isi pesan pengingat.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa SMS pengingat yang diberikan setiap minggu lebih efektif dibandingkan dengan yang diberikan setiap hari.

Isi pesan yang hanya mengingatkan juga terbukti lebih efektif dibandingkan dengan pesan yang memotivasi untuk minum obat.

SMS pengingat yang bersifat dua arah (pasien dapat menjawab SMS tersebut) terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan daripada yang bersifat satu arah (pasien hanya menerima pesan pengingat).

SMS pengingat mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan teknologi lainnya.

Pertama, metode ini sudah terbukti efektif di berbagai negara berkembang untuk meningkatkan kepatuhan terapi pada pasien dengan HIV/AIDS.

Kedua, SMS merupakan teknologi yang tidak membutuhkan fasilitas smartphone sehingga dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Manfaatkan e-health untuk kendalikan HIV

Saat ini masyarakat umum bisa mencari informasi tentang HIV/AIDS dan infeksi menular seksual melalui situs-situs web, seperti Sistem Informasi HIV/AIDS & IMS online (SIHAWEB) yang disediakan Kementerian Kesehatan, situs milik Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya, maupun situs individu pribadi seperti dokter Bagus Rahmat Prabowo, yang mempunyai kepedulian terhadap situasi HIV/AIDS di Indonesia.

Pemanfaatan teknologi di Indonesia perlu ditingkatkan bukan hanya untuk memberikan informasi tapi juga untuk intervensi. Untuk meningkatkan pemanfaatan e-health beberapa hal perlu dilakukan.

Pertama, perlu dicari bentuk e-health yang tepat untuk populasi pasien dengan HIV/AIDS di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan, misalnya, meminta pendapat dari pasien maupun profesional kesehatan.

Kedua, melakukan telaah literatur yang sistematis tentang efektivitas penggunaan e-health untuk meningkatkan kepatuhan terapi pasien dengan HIV/AIDS. Hasil telaah literatur tersebut bisa digunakan sebagai panduan model e-health yang sesuai untuk Indonesia.

Ketiga, melakukan uji coba penerapan e-health pada populasi tertentu, misalnya di satu daerah. Hasil dari uji coba ini bisa memberikan gambaran apakah metode ini bisa diterapkan secara luas di daerah-daerah lain.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,900 academics and researchers from 3,639 institutions.

Register now