Menu Close
Monyet hitam khas Sulawesi. ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar/Asf/nz/15.

Riset: penebangan hutan di Sulawesi merusak habitat monyet dan kera lokal

Penebangan liar yang semakin meningkat dan ekspansi perkebunan kelapa sawit serta peternakan telah merusak hutan di Pulau Sulawesi dan mengancam keragaman hayati laboratorium biologi evolusi terkemuka di dunia.

Sulawesi merupakan pulau terbesar keempat terbesar di Indonesia dan merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati.

Sulawesi juga dikenal sebagai wilayah Wallacea, yang merujuk pada Alfred Russel Wallace, penjelajah dan naturalis dari Inggris yang hidup pada abad ke-19.

Walaupun belum separah di Sumatra dan Kalimantan, penelitian saya baru-baru ini menguak bahwa penebangan hutan (deforestasi) di Sulawesi telah mencapai tingkat yang membahayakan dan berisiko menghancurkan habitat kera dan tarsius lokal.

Penelitian saya menunjukkan bahwa Sulawesi kehilangan 10,89% dari wilayah hutannya, atau sekitar 2,07 juta hektare, selama 2000-2017, berdasarkan data dari Peta Perubahan Hutan Global dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara adalah daerah dengan tingkat deforestasi yang paling tinggi. Mereka kehilangan 13,41% dan 13,37% tutupan hutan selama kurun waktu tersebut.

Ini artinya tingkat rata-rata deforestasi untuk provinsi-provinsi di Sulawesi berkisar antara 0,42% hingga 0,85% setiap tahun, masih lebih rendah dibandingkan tingkat rata-rata nasional, yaitu 1% setiap tahun.

Dampak pada primata endemik

Peningkatan deforestasi di Sulawesi berdampak negatif pada kehidupan primata lokal, yang merupakan sepertiga dari semua primata di Indonesia.

Sulawesi hanya memiliki dua marga primata, Tarsius dan Kera, tapi keduanya telah berkembang biak menjadi lebih banyak spesies dibandingkan marga yang sama di pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Spesies kera campuran dan silang balik asli Sulawesi adalah binatang yang cukup terkenal di kalangan para peneliti. Keberadaan mereka menjadikan Sulawesi laboratorium yang penting untuk studi genetik dan evolusi primata.

Sulawesi adalah rumah bagi 17 primata endemik yang menarik perhatian banyak ahli primata dunia. Primata endemik tersebut memiliki peran penting dalam menciptakan biota Sulawesi yang sangat unik.

Primata-primata ini adalah indikator yang sangat baik dalam melihat keberlangsungan hidup spesies lainnya karena peran penting mereka dalam menyebarkan benih pohon. Dengan kata lain, primata ini membantu mempertahankan populasi spesies hutan agar tetap sehat dan beraneka ragam.

Namun, tingkat dan laju deforestasi di Sulawesi saat ini telah berdampak pada habitat primata.

Deforestasi menghancurkan zona yang menjadi tempat spesies kera yang berbeda-beda berkembang biak atau bercampur dan juga zona yang menjadi tempat terjadinya interaksi di antara spesies yang berbeda-beda.

Ketika hutan semakin rusak, maka primata makin tergusur.

Macaques ochreata, atau monyet hitam di Sulawesi Selatan bagian timur dan Tarsius pelengensis, atau Tarsius pulau peleng, di Sulawesi Tengah telah kehilangan 14% habitat mereka, diikuti dengan M. hecki, atau dikenal sebagai monyet hige, dan M.tonkeana, atau monyet boti.

Kerusakan hutan telah terjadi di zona yang menjadi tempat kera dari beragam spesies melakukan kontak. Keberadaan spesies baru, Tarsius supriatnai, dikenal sebagai Tarsius Jatna, juga terancam karena deforestitasi. Penelitian menunjukkan bahwa spesies itu telah kehilangan 12% habitatnya.

Laju deforestasi di zona yang menjadi tempat spesies kera yang berbeda-beda berkembang biak atau bercampur juga membahayakan. Kerusakan hutan terbesar terjadi di zona-zona di antara monyet boti dan monyet hitam.

Di Sulawesi Tengah, pembangunan jalan raya mengancam zona yang menjadi lokasi monyet boti dan monyet hige melakukan kontak. Perkebunan jagung, coklat, dan kopi menggusur hutan Enrekang, yang merupakan zona campuran antara monyet dare dan monyet boti.

_Monyet dare. ANTARA FOTO/Darwin Fatir/kye/16

Perubahan kebutuhan manusia

Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa konflik antara kebutuhan kehidupan manusia dan kebutuhan melindungi primata akan terus berlanjut dengan peningkatan aktivitas deforestasi di Pulau Sulawesi.

Habitat bagi primata-primata yang tersisa tidak cukup bagi mereka untuk bertahan hidup kecuali sisa-sisa hutan yang ada dilindungi dan dirawat dengan hati-hati.

Dua provinsi yang memiliki tingkat deforestasi tertinggi, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan bagian timur, telah menjadikan hutan mereka sebagai tanah pertanian dan perkebunan untuk kelapa sawit, jagung, dan cokelat, dan juga penambangan nikel.

Penebangan liar juga menyebabkan deforestasi di wilayah tersebut, bahkan pada wilayah yang dilindungi dan taman-taman nasional.

Beberapa kendaraan melewati ruas jalan yang mengalami longsor di Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar/Asf/Spt/14

Masalah menjadi lebih buruk dengan adanya fakta kebutuhan manusia terhadap produk pertanian terus meningkat. Tekanan populasi dan kurangnya pekerjaan di luar sektor pertanian membuat kebutuhan lahan pertanian semakin meningkat, yang tentu saja akan merusak hutan.


Artikel ini dipublikasikan dengan dukungan dari Splice Beta Fund.

Ignatius Raditya Nugraha menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 117,300 academics and researchers from 3,789 institutions.

Register now