Museum Sejarah Alam Universitas Oxford di Inggris yang menjadi tempat koleksi sekaligus sumber riset para peneliti. Waldo Miguez

Riset tunjukkan museum universitas punya peran dalam kenalkan keanekaragaman hayati Indonesia

Artikel ini merupakan bagian dari serial untuk memperingati Hari Keanekaragaman hayati Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei.


Laporan terbaru dari IPBES (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services), sebuah forum para peneliti PBB untuk keanekaragaman hayati dan ekosistem, menyebutkan bahwa sekitar satu juta spesies hewan dan tumbuhan di seluruh dunia akan punah dalam beberapa dekade ke depan.

Lebih dari 40% spesies amfibi, 30% terumbu karang, 10% spesies serangga dan lebih dari sepertiga mamalia laut berada status terancam. Pemicu utama adalah aktivitas manusia.

Sebagai kurator dari salah satu museum universitas tertua di Indonesia, Museum Zoologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (Museum Zoologi SITH ITB), saya melakukan riset terkait dengan peran museum universitas dan tantangannya pada tahun 2019.

Fokus riset saya adalah Museum Zoologi SITH ITB, yang merupakan salah satu museum universitas tertua di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1940-an.

Ruangan utama Museum Zoologi SITH ITB. (Foto : Ganjar Cahyadi). Author provided

Museum universitas merupakan museum yang terintegrasi dengan koleksi dan kegiatan yang dilakukan di dalam sebuah universitas yang memiliki peran penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati yang semakin terancam. Peran tersebut di antaranya sebagai tempat mengelola koleksi akademik, menyediakan dukungan dalam kegiatan belajar mengajar, dan sumber penelitian ilmiah.

Peran museum universitas

1) Tempat mengelola koleksi akademik dan penelitian

Salah satu museum universitas terkenal dan tertua di dunia, Oxford University Museum of Natural History di Inggris, telah mengoleksi puluhan ribu spesimen dari mamalia besar hingga ke serangga.

Koleksi ikonik museum ini adalah burung dodo (Raphus cucullatus) yang sudah punah akibat perburuan oleh manusia pada tahun 1681. Kisah kepunahan burung Dodo menjadi pembelajaran terkait dampak hilangnya satu spesies bagi ekosistem.

Display kerangka dan model burung Dodo di Oxford University Museum of Natural History di Inggris. wikimedia, CC BY

Selain itu, ada juga fosil dari Megalosaurus bucklandii, dinosaurus pertama di dunia memiliki data paling lengkap - mulai dari ciri morfologi, taksonomi (penamaan spesies), perbandingan dengan spesies lain - pada tahun 1824.

Didirikan sejak tahun 1860, Oxford University Museum of Natural History yang awalnya sebagai tempat melakukan penelitian skala universitas, kini berhasil menjadi salah satu sumber koleksi spesimen zoologi untuk melakukan penelitian terkait dengan keanekaragaman hayati. Bahkan, mereka juga melakukan penelitian sendiri.

Penelitian yang dilakukan bisa meliputi inventarisasi keanekaragaman hayati, taksonomi, ekologi, hingga perilaku, baik dari museum sendiri maupun kolaborasi dengan civitas akademika lainnya.

Material serta data dari penelitian tersebut dapat dibandingkan dengan koleksi museum sebagai referensi dan hasilnya dipublikasikan untuk publik.

Contohnya, tim peneliti di Afrika Selatan pada tahun 2019 mempublikasikan hasil temuan dinosaurus jenis baru ketika mereka meneliti spesimen yang merupakan salah satu koleksi di museum Universitas Witwatersrand, Afrika Selatan.

Museum universitas juga bisa menggelar seminar, pelatihan dan penelitian di bidang ilmu tentang hewan (zoologi). Museum Zoologi SITH ITB menjadi salah satu objek penelitian studi doktoral. Koleksi di museum tersebut juga memberikan sumbangsih untuk penelitian genomik (ilmu yang mempelajari genom) hingga penemuan spesies baru.

2) Pendukung dalam kegiatan belajar mengajar

Dalam Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2003-2020 (Strategi dan Rencana Aksi untuk Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020), salah satu target adalah mengenalkan keanekaragaman hayati di Indonesia melalui kurikulum pendidikan umum.

Harapannya, dengan mengenali keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia bisa mendorong rasa menghargai kekayaan yang dimiliki melalui aksi-aksi konservasi. Strategi ini dibuat untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati di Indonesia.

Peran pembelajaran ini bisa dijalankan secara strategis oleh museum universitas.

Museum Zoologi STIH ITB yang memiliki koleksi sebanyak 2.251 spesimen dari 1.027 spesies ini menyediakan spesimen hewan yang diawetkan sebagai bahan ajar penting. Koleksi tersebut bisa menjadi bahan diskusi penting ketika kuliah.

Sempat ditutup pada tahun 2010, museum ini mulai dibuka kembali untuk umum tahun 2017.

Beberapa koleksi yang menjadi daya tarik baik peneliti maupun pengunjung adalah opsetan harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang dipajang di ruang utama dan koleksi fosil gigi hewan gajah purba (Stegodon).

Fosil gigi Stegodon di Museum Zoologi SITH ITB. (Foto oleh : Ganjar Cahyadi). Author provided (No reuse)

Mayoritas pengunjung berasal dari Jawa Barat dan kebanyakan berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Kunjungan tersebut biasanya dilakukan mahasiswa menentukan objek penelitian serta menjadi bahan diskusi mengenai penelitian yang dilakukan.

Peran museum universitas bagi keanekaragaman hayati

Sebagai bagian dari pusat pendidikan dan penelitian, museum universitas yang khusus menyimpan koleksi sejarah alam memiliki potensi besar untuk mengungkap keanekaragaman hayati serta keanekaragaman “kehidupan” yang terkandung di dalamnya.

Koleksi museum bisa menjadi sumber data penelitian yang sangat berguna sebagai dasar penilaian status konservasi suatu spesies. Dengan mengetahui status suatu keanekaragaman hayati, diharapkan bisa mendorong aksi konservasi yang sesuai dan bisa tepat sasaran.

Tentu saja, ini membutuhkan dukungan yang menyeluruh, baik dari sarana dan prasarana, tata kelola museum universitas yang jelas, hingga pendanaan mandiri.

Sayangnya, museum universitas belum terlalu dikenal oleh publik Indonesia karena pengelolaan dilakukan secara spesifik dan dianggap tidak dibuka untuk umum.

Antusiasme anak TK saat melihat lemari koleksi. (Foto oleh Ganjar Cahyadi). Author provided (No reuse)

Padahal, setidaknya ada 49 museum universitas dari total 4.445 perguruan tinggi di Indonesia dengan berbagai kategori sesuai koleksi yang dimiliki, contoh Museum Pendidikan Nasional, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk ilmu sosial dan kemanusiaan, Museum Patung Burung Bali di Universitas Udayana (bidang seni), dan Museum Anatomi, FKIK Unika Atma Jaya di Jakarta (bidang sains dan teknologi).

Idealnya, minimal satu museum untuk satu perguruan tinggi, sama halnya dengan gedung arsip dan perpustakaan.

Kedua, belum jelasnya kebijakan yang mengatur museum universitas, baik di tingkat universitas maupun di tingkat nasional. Peraturan Pemerintah (PP) No. 66 Tahun 2015 tentang Museum tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa museum dapat dikelola oleh perguruan tinggi/ universitas. Akibatnya, museum universitas bergantung pada sekelompok orang saja yang memiliki minat untuk tetap mengelola.

Idealnya, pengelolaan museum universitas harus disokong dengan tidak hanya kebijakan yang jelas, pendanaan yang stabil tapi juga sumber daya manusia yang baik.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 108,900 academics and researchers from 3,577 institutions.

Register now