Risiko kematian lansia dengan COVID-19 tinggi tapi pelayanan kesehatan belum berpihak pada mereka: apa yang harus dilakukan

Sebelum pandemi, pelayanan kesehatan pada lansia sudah membebani perekonomian negara. Keadaan akan bertambah buruk setelah pandemi. www.shutterstock.com

Riset di beberapa negara sudah membuktikan bahwa orang tua yang terkena COVID-19 memiliki risiko kematian yang tinggi dibanding mereka yang yang berusia muda.

Data terkini menunjukkan orang yang berusia lebih dari 75 tahun memiliki risiko kematian hingga 10 kali lipat dibanding mereka yang berada pada kelompok umur 18-44 tahun ketika mereka menderita COVID-19.

Kondisi orang tua yang rentan terhadap berbagai penyakit kronis seperti penyakit darah tinggi, diabetes, dan kardiovaskular juga menambah risiko kematian mereka.

Tapi hingga saat ini belum ada prosedur perawatan khusus bagi lansia yang terinfeksi coronavirus dan sistem kesehatan yang ada juga belum berpihak pada kelompok yang paling rentan ini.

Pelayanan buruk pada lansia

Di seluruh dunia, ketika seluruh fasilitas kesehatan tampak kewalahan menghadapi lonjakan pasien COVID-19, kelompok lanjut usia (lansia) sering kali berada pada antrean terakhir untuk mendapatkan tindakan dokter.

Banyak kebijakan juga tidak memihak kelompok ini.

Dalam situasi pandemi ini, banyak rumah sakit tidak membolehkan adanya pendamping keluarga. Bagi lansia, ini menjadi masalah besar karena banyak di antara mereka sering mengalami gangguan kesehatan mental dan perilaku.

Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat laporan terkait dampak COVID-19 pada lansia dan menekankan aspek kesehatan mental sebagai salah risiko yang dihadapi pasien lansia yang banyak menderita penyakit demensia atau kepikunan.

Pasien lansia yang menderita demensia dan terkena COVID-19 tidak hanya akan kesulitan memahami dan melakukan berbagai pencegahan seperti pembatasan sosial tapi juga kesulitan dalam memaparkan keluhan penyakit dan perasaan karena kepikunan mereka.

Aspek kesehatan mental ini penting diperhatikan karena sebelum pandemi saja, sebuah riset di Norwegia menunjukkan demensia menyumbang hampir sepertiga jumlah kematian di panti jompo di negara tersebut.

Beban ekonomi

Sebelum pandemi, pelayanan kesehatan pada lansia sudah membebani perekonomian negara. Keadaan akan bertambah buruk setelah pandemi.

Data di Eropa menunjukkan biaya kesehatan untuk orang berusia di atas 65 tahun bisa mencapai 3 sampai 5 kali lebih besar dibandingkan usia di bawahnya.

Tak jarang, beban ekonomi juga dirasakan anggota keluarga yang lain yang harus merawat orang tuanya yang sudah berumur.

Belum ada riset di tingkat global yang menghitung berapa beban ekonomi yang ditanggung baik pemerintah dan keluarga untuk merawat kesehatan lansia selama pandemi COVID-19. Tapi angkanya dipastikan bertambah mengingat rentannya kelompok usia tersebut terhadap penyakit.

Untuk mengurangi beban yang ada beberapa langkah harus dipikirkan sebagai prosedur penerimaan pasien COVID-19 yang lansia. Berikut adalah empat langkah prosedur pemberian layanan kesehatan yang berpihak pada lansia:

  1. Proses pemeriksaan komprehensif pada lansia, termasuk kesehatan kognitif dan mental pasien, sebelum perawatan COVID-19

  2. Menentukan jenis perawatan dengan diskusi mendalam. Diskusikan tentang berbagai kemungkinan, termasuk bila ada kemungkinan kesehatan lansia memburuk. Apakah akan meninggal di rumah sakit dengan tanpa ada keluarga yang menemani? Rumah sakit bukanlah tempat yang baik, untuk seorang lansia meninggal dengan kesendirian

  3. Pendidikan bagi petugas kesehatan dalam menghadapi pasien lansia terutama yang mengidap demensia. Penggunaan alat pelindung diri petugas medis dapat menambah suasana stres bagi pasien. Foto pengenal diri dengan senyuman akan membantu menenangkan pasien.

  4. Penyediaan sistem asuransi yang juga mencakup pembiayaan konsultasi jarak jauh melalui internet. Hal ini khusus diberikan pada pasien lansia yang berisiko tinggi untuk datang ke rumah sakit

Bagaimana di Indonesia?

Banyak media menyebut Indonesia adalah negara muda dengan mayoritas penduduknya rata-rata berumur 29 tahun, tapi sebuah laporan terbaru dari Komisi Nasional Lanjut Usia (Komnas Lansia) menyatakan jumlah lansia di Indonesia sudah mencapai hampir 10% dari jumlah seluruh populasi, atau sekitar 25,9 juta orang. Ini artinya Indonesia hampir bisa dikatakan sebagai aging country atau sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah lansia.

Seorang laki-laki tua di Aceh terlihat sedang memakai masker. Hotli Simanjuntak/EPA

Di Indonesia sendiri, biaya perawatan kesehatan untuk penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, dan kanker, yang identik dengan orang tua menghabiskan hampir Rp20 triliun per tahun atau sekitar 20 persen dari total pengeluaran dana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Sama seperti di negara lain, orang tua di Indonesia memiliki risiko kematian yang tinggi ketika mereka terjangkit coronavirus. Lebih dari 60% pasien COVID-19 yang meninggal berusia 50 hingga 69 tahun, sedangkan seperlimanya berasal dari usia kelompok 70 tahun ke atas.

Indonesia juga belum mempunyai prosedur khusus dalam menghadapi pasien lansia yang terkena COVID-19. Penting bagi Indonesia juga untuk menerapkan prosedur khusus untuk menghadapi pasien COVID-19 yang tua. Hal ini tidak hanya untuk mengurangi tingkat kematian yang tinggi tapi juga mengurangi beban ekonomi negara dan keluarga.

Mayoritas orang di Indonesia lebih memilih merawat orang tuanya sendiri di rumah ketimbang mengirimnya ke panti jompo. Laporan terbaru tahun 2019 menunjukkan hanya kurang 6% responden di Indonesia yang setuju untuk mengirim orang tuanya ke institusi perawatan ketimbang merawatnya sendiri.

Kecenderungan ini membuat beban ongkos perawatan lansia berada di bawah tangguh jawab keluarga sepenuhnya. Data Yayasan Alzheimer Indonesia menunjukkan biaya yang dibutuhkan untuk merawat lansia bisa mencapai Rp3-Rp 10 juta per bulan.

Hal ini terbilang tinggi, bila dibandingkan dengan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia yang kurang dari Rp3 juta per bulan.

Perawatan lansia seharusnya juga menjadi tanggung jawab negara. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyediakan sistem kesehatan pendukung, seperti misalnya memberikan pendampingan pada keluarga dan pemberian bantuan berupa obat untuk pasien lansia dan bantuan alat pelindung diri buat keluarga yang merawat selama pandemi ini.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,700 academics and researchers from 3,634 institutions.

Register now