Sistem evaluasi pendidikan dasar ‘Pemantik’ bantu masyarakat pantau perkembangan belajar anak

Menurut riset, sekitar 25% anak setinggi kelas lima SD masih kesulitan memahami paragraf pendek. Shutterstock

Saat ini, Indonesia belum memiliki alat atau sistem yang baik untuk mengukur kemampuan belajar anak di level sekolah dasar.

Indonesia sendiri mengadakan ujian nasional tahunan, tapi pengukuran standar seperti itu hanya menilai hasil belajar dalam bentuk skor dan dilakukan pada akhir tiap jenjang pendidikan.

Laporan Program for International Student Assessment (PISA) - survei pendidikan terhadap pelajar di seluruh dunia yang dilakukan per tiga tahun - juga menyajikan data terkait Indonesia tapi hanya berdasarkan pengukuran terhadap siswa umur 15 tahun.

Instrumen pengukuran seperti Early Grade Reading Assessment (EGRA), yaitu sistem penilaian membaca anak yang dikembangkan oleh lembaga nirlaba RTI International, telah banyak digunakan negara berkembang untuk mengukur literasi dan numerasi di tingkat dasar.

Bahkan, sebuah survei EGRA telah dilakukan pada tahun 2014 di Indonesia sebagai bagian dari kolaborasi antara beberapa organisasi internasional dan pemerintah Indonesia.

Namun, instrumen tersebut tidak bersifat periodik dan hanya bisa dilaksanakan oleh tenaga ahli bersama petugas pemerintah.

Nihilnya suatu instrumen penilaian siswa tingkat dasar yang mudah diakses menyebabkan banyak guru di Indonesia mengajarkan materi yang tidak sesuai dengan kompetensi siswanya.

Menjawab tantangan ini, tim peneliti dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) mendesain suatu alat pengukuran sederhana untuk anak tingkat sekolah dasar, yang dinamai dengan “Pemantik” (Pengukuran Mandiri Numerasi dan Literasi PSPK).

Instrumen tersebut utamanya dirancang untuk mudah digunakan oleh orang tua dan masyarakat luas. Pemantik juga dapat digunakan untuk memantau pembelajaran anak di luar lingkungan sekolah formal.

Cara kerja Pemantik

Instrumen Pemantik bukanlah suatu ide yang orisinal, dan diadaptasi dari survei nasional pendidikan di India yang bernama Annual Status of Education Report (ASER). Survei tersebut mengukur capaian pembelajaran di setiap tingkat di sekolah dasar, di seluruh India.

Laporan ASER tahun 2016, contohnya, menunjukkan bahwa lebih dari setengah - sekitar 52.2% - anak kelas lima kesulitan membaca teks yang seharusnya dapat dibaca dengan mudah oleh anak kelas dua.

Peneliti di balik Pemantik, Nisa Felicia, mengatakan bahwa ASER dipilih sebagai model karena kemiripan India dengan Indonesia. Kedua negara memiliki ekonomi yang berkembang dengan tingkat ketimpangan pendidikan yang tinggi antar daerah.

Instrumennya sendiri cukup mudah, dan mengukur kemampuan pembelajaran dasar yakni kemampuan membaca dan berhitung.

“Pemantik ini 1-on-1 test, artinya satu penilai satu anak dan paper-based [dilakukan di atas kertas]. Banyak juga di pedesaan yang telah menggunakan,” katanya.

“Anak tersebut, katakan untuk literasi ya, pertama dikasih daftar huruf dan dia harus menyebutkan minimal 5 huruf dengan standar yang telah dipikirkan peneliti. Kalau sudah salah berarti Level 0, kalau benar Level 1 tercapai.”

Pemantik lebih lanjut mengelompokkan literasi dasar ke dalam empat level dari huruf ke paragraf, dan numerasi ke dalam lima level dari satuan hingga pembagian.

Panduan penilaian numerasi dari tes orisinal ASER yang dilakukan di India. Annual Status of Education Report 2018

Meskipun pelaksanaannya sangat sederhana, Nisa mengatakan bahwa proses perancangan Pemantik memerlukan riset yang mendalam karena harus diadaptasi ke dalam konteks Indonesia.

“Untuk kata, misalnya. Dalam bahasa Inggris ada school, tapi di kita tidak diterjemahin sekolah. Kenapa? Karena sekolah itu tiga suku kata, anak-anak belajar membaca itu biasanya hanya bisa sampai dua suku kata,” katanya.

“Huruf, kata, termasuk diftong seperti apa yang tepat untuk anak Indonesia, PSPK kajiannya di situ.”

Dari tahun 2016 sampai 2019, tim penelitian Nisa menerapkan instrumen tersebut di empat daerah, termasuk Batu di Jawa Timur dan juga Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat.

Persentasi siswa di setiap level literasi, pada tiap kelas. Sampel diambil dari sekolah-sekolah di Mentawai, Batu, Probolonggo dan Flores. Centre for Education and Policy Studies (PSPK)

Penelitian tersebut menghasilkan temuan yang mengkhawatirkan. Tampaknya hanya ada sedikit perkembangan dalam kemampuan literasi anak ketika anak naik kelas, misalnya, dari kelas empat ke kelas lima.

Mirip dengan situasi di India, studi tersebut juga menemukan bahwa sekitar 25% pelajar setinggi kelas lima masih kesulitan mengolah paragraf pendek yang harusnya dikuasai anak yang sudah lulus kelas tiga.

Tanpa instrumen penilai ini, kata Nisa, banyak anak-anak dapat dengan mudah naik ke tingkatan selanjutnya dalam keadaan belum menguasai kemampuan yang diharapkan.

“Banyak guru sekadar ngikutin buku teks bukan ngikutin anaknya sehingga mereka tidak mengajar pada level yang tepat,” katanya.

“Maka dari pemantik yang kami temukan bahwa anak-anak kelas tiga SD itu masih struggling [berjuang] dengan materi-materi di bawahnya seperti pengurangan dengan meminjam.”

Memberdayakan masyarakat

Goldy Fariz Dharmawan, seorang peneliti di pusat penelitian SMERU Institute di Jakarta, mengatakan bahwa banyak orang tua tidak mengikuti perkembangan capaian belajar anaknya.

Ia berdalih, suatu penelitian yang dilakukan organisasinya bersama dengan Bank Dunia di Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur mengindikasikan bahwa orang tua sebenarnya berkemauan besar berpartisipasi dalam proses pembelajaran anaknya.

Tapi, mereka tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukannya. Goldy mengatakan, instrumen Pemantik mengisi kekosongan ini dengan baik.


Read more: Darurat mutu pembelajaran, mengapa wali murid jarang protes ke sekolah dan pemerintah?


Misalnya, Nisa mengatakan timnya menerapkan Pemantik dalam suatu kegiatan orang tua dan anak di salah satu Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta.

“Kita pernah coba di RPTRA, kegiatan parenting [pola asuh] di taman yang ada komunitas dan pembinanya. Kita latih ibu-ibunya untuk pakai Pemantik, terus mereka coba uji anaknya. Ada beberapa yang kaget, udah kelas lima masih belum bisa hitungan pembagian,” katanya.

“Dengan ini orang tua bisa lebih aware [sadar]. Pemantik memberikan masyarakat dan orang tua kemampuan untuk mengetahui capaian anak, sehingga bisa mengevaluasi atau mendorong sekolah untuk lebih memperhatikan kualitas,” tambah Goldy.

Karena instrumen berbasis tulisan ini gratis dan sangat mudah dipakai, Nisa mengatakan bahwa Pemantik sangat pas digunakan untuk program-program komunitas seperti sekolah informal atau inisiatif lain di daerah pelosok.

“Sehingga artinya tes ini tidak harus dilakukan di sekolah secara formal, komunitas mana pun bisa memantau anak-anal di sekitarnya sebagai suatu community-based assessment [penilaian berbasis komunitas],” katanya.

Sejumlah organisasi telah menggunakan instrumen ini untuk berbagai program pendidikan informal. Di antaranya, terdapat organisasi sosial internasional Food for the Hungry. Ada juga Taman Bacaan Pelangi, organisasi nirlaba yang bertujuan untuk mendirikan perpustakaan untuk anak-anak di daerah timur Indonesia.

“Kita belum berkesempatan untuk monitor dampaknya, tapi banyak yang memberi feedback [umpan balik] ketemu anak yang sudah kelas empat SD tapi ternyata belum paham bacaan, dan ikut senaang karena mereka jadi tahu program apa yang harus di buat,” kata Nisa.


CATATAN: Bagi yang tertarik dengan instrumen Pemantik dapat menghubungi Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) melalui Nisa Felicia (nisa.faridz@pspk.web.id).

This article was originally published in English