Menu Close

Studi baru temukan deteksi dini risiko infeksi COVID-19 gejala berat

Petugas ambulans berada di luar Royal London Hospital di London, Inggris.
Andy Rain/EPA

Mengapa kebanyakan orang pengidap virus COVID-19 punya gejala ringan bahkan tidak sama sekali, sementara beberapa di antaranya menjadi sakit parah masih menjadi misteri dan para ilmuwan sedang berusaha keras mencari tahu jawabannya.

Memiliki obesitas atau masalah kesehatan lain, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi, diketahui dapat meningkatkan risiko terkena gejala COVID-19 berat. Tapi ini bukan keseluruhan cerita. Beberapa orang yang tampaknya sehat dapat menderita penyakit parah juga.

Pada awal 2020, para peneliti menemukan orang yang terkena COVID-19 kategori parah punya tingkat imun yang tidak wajar dalam darah.

Mereka termasuk sel-sel yang disebut “responden pertama”, seperti sel pembunuh alami, serta sel-sel yang berkembang setelah infeksi dan secara khusus menargetkan sel-sel yang terinfeksi coronavirus, seperti sel T.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa pasien ini memiliki perubahan pada beberapa sitokin - protein yang mengatur respons kekebalan tubuh.

Sistem imun yang “tidak sesuai” ini, bisa mengakibatkan kerusakan pada paru-paru dan juga organ lain seperti jantung, hati, dan otak.

Pada COVID-19 tingkat berat, kontrol yang biasa dilakukan pada sistem imun kita akan berubah. Namun, kerusakan pada organ tubuh bukan hanya disebabkan oleh virus saja melainkan oleh sistem kekebalan tubuh yang merespons virus.

Oleh karena itu, sangat penting mencari tahu siapa yang berisiko dan terkena respons hilangnya kekebalan tubuh ini sebelum gejala datang.

Respons yang berbeda

Sebuah riset baru yang belum dipublikasikan dalam jurnal sains, memberikan sedikit pencerahan atas hal ini. Peneliti dari Universitas Cambridge ini menemukan perubahan awal dari respons imun terhadap virus bisa digunakan untuk memprediksi siapa yang akan bergejala parah dan siapa yang tidak.

Penemuan tersebut dilakukan dengan mengambil 605 sampel dari 207 orang suspek COVID-19 dan 45 orang yang sehat. Kemudian sampel tersebut diukur respons imunnya selama 90 hari.

Pada tahap akhir riset, mereka membandingkan respons imun dari orang yang pernah bergejala berat COVID-19 dengan orang yang menderita penyakit ringan.

Mereka menemukan, di tahap infeksi awal, sistem imun dari orang suspek COVID-19 memproduksi sitokin inflamasi dalam tingkat yang lebih tinggi, seperti TNF-alpha, dibandingkan dengan gejala ringan.

Orang dengan penyakit parah juga memiliki lebih sedikit sel kekebalan tubuh yang diketahui secara khusus menargetkan virus, seperti sel T dan sel B.

Artinya, pada awal infeksi, orang-orang dengan penyakit parah memiliki jumlah sel kekebalan yang lebih rendah yang dapat menargetkan virus dan mereka memiliki tingkat peradangan yang lebih tinggi.

Dalam darah orang yang terkena dampak terburuk, para ilmuwan mengamati perubahan respons kekebalan tubuh mereka pada saat timbulnya gejala - jauh sebelum mereka dirawat di rumah sakit.

Mereka memeriksa lebih dari 30 jenis sel kekebalan yang berbeda dan menemukan bahwa perubahan ini terjadi pada mungkin 13 subset sel yang berbeda.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi berat punya tingkat inflamasi di titik lokasi gejala mereka berkembang. Berbagai perubahan ini banyak bertahan pada pasien yang paling sakit parah 60 hari setelah gejala mereka dimulai.

A patients blood pressure being taken by a doctor.
Beberapa faktor berisiko, seperti hipertensi, dapat dikenal. Namun, kenapa orang yang terlihat sehat ternyata mengidap COVID? kurhan/Shutterstock

Di sisi lain, pasien dengan gejala ringan atau bahkan tidak sama sekali ditemukan punya respons kekebalan adaptif awal dan kuat terhadap virus. Maksudnya, sistem kekebalan tubuh bisa mengidentifikasi infeksi dan kemudian menghasilkan sel T, sel B dan antibodi khusus untuk melawan virus.

Orang-orang ini menghasilkan komponen kekebalan tubuh pada minggu pertama infeksi dan dalam jumlah yang lebih besar daripada orang yang mengalami COVID yang lebih parah.

Setelah infeksi telah hilang, jumlah sel kekebalan tubuh yang merespons virus dengan cepat kembali normal. Tidak ada bukti pada orang-orang ini punya inflamasi sistemik yang dapat menyebabkan kerusakan organ.

Orang yang memiliki penyakit berat memiliki respons kekebalan yang lebih lambat terhadap virus. Pada saat mereka mengembangkan gejala, respons kekebalan tubuh mereka sangat berbeda dari mereka yang memiliki penyakit ringan. Yang krusial, perubahan ini dapat digunakan untuk memprediksi hasil penyakit.

Prediksi awal

Penemuan ini penting untuk bisa mengetahui dan memitigasi pasien yang berpotensi punya risiko tinggi gejala COVID-19. Jika kita dapat mengetahui lebih awal potensi penyebaran suspek, langkah cepat dapat diambil untuk bisa memberi obat yang pas guna menghindari risiko lebih parah.

Ada kemungkinan juga bahwa perubahan terus-menerus dalam sistem kekebalan tubuh ini dapat memberikan wawasan tentang berapa lama COVID-19 berkembang.

Wiliam Reynold menerjemahkan dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 122,100 academics and researchers from 3,916 institutions.

Register now