Menu Close

Survei: pandemi COVID-19 naikkan popularitas dan durasi olahraga di rumah

Selama pandemi, berolahraga di dalam rumah bisa mengurangi stres dan pada saat yang sama meningkatkan kekebalan tubuh. Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Pembatasan sosial, lebih banyak beraktivitas di rumah, menjaga jarak sosial, dan menghindari kerumuman merupakan cara-cara ampuh untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 di luar rumah.

Masalahnya, kegiatan isolasi mandiri di rumah cenderung memberi efek negatif terhadap kesehatan mental seseorang. Kegiatan isolasi mandiri yang disertai dengan rasa takut tertular COVID-19 dan paparan informasi hoaks yang berlebihan dapat memberikan efek kecemasan dan depresi.

Untuk mengurangi rasa bosan dan kecemasan akibat isolasi mendiri, banyak orang mulai berusaha membangun rutinitas sehari-hari yang menyenangkan. Salah satunya, mereka memulai aktivitas olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh agar kebal dari serangan virus.

Survei online yang kami lakukan pada awal Desember 2020 terhadap 321 responden menunjukkan 1 dari 5 orang yang sebelumnya tidak berolahraga, memulai kebiasaan berolahraga saat pandemi COVID-19 melanda.

Selain itu, hampir separuh dari responden yang sudah berolahraga sejak sebelum pandemi, mengubah aktivitas olahraganya menjadi lebih baik. Mereka meningkatkan durasi berolahraga dan menambah jenis olahraga yang dilakukan.

Aktivitas olahraga memang terbukti dapat mengurangi efek stres untuk mempertahankan fungsi kekebalan tubuh karena aktivitas fisik tersebut mampu mengurangi efek kecemasan yang nyatanya terus menghantui kita selama berdiam diri di rumah.

Momentum hidup lebih sehat

Jauh sebelum pandemi COVID-19 terjadi, banyak orang telah menjalani gaya hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik yang dapat berakibat buruk pada kesehatan.

Motivasi yang lemah menjadi salah satu kendala utama untuk menerapkan gaya hidup sehat melalui berolahraga. Namun, survei kami menemukan bahwa memulai gaya hidup sehat dan meningkatkan imunitas tubuh pada masa pandemi ini menjadi motivasi utama bagi para responden untuk berolahraga. Hal ini cukup penting mengingat membangun kebiasaan olahraga sebelum pandemi masih menjadi tantangan bagi sebagian orang karena terbatasnya waktu dan kurangnya motivasi.

Selama pandemi COVID-19, lari dan berolahraga di rumah (home workout) menjadi jenis olahraga yang paling populer yang dilakukan responden (79%). Walau demikian, permainan olahraga berkelompok seperti sepak bola, bulu tangkis, voli, dan lain-lain, juga masih cukup populer di kalangan responden (43%).

Kegiatan olahraga tersebut biasanya dilakukan di area rumah dan sekitarnya (40,2%), di luar rumah (31,8%), atau di dalam gedung lainnya yang bukan rumah (28%).

Dampak baik yang dirasakan responden setelah memiliki kebiasaan berolahraga adalah tubuh menjadi lebih sehat, baik secara fisik maupun mental. Olahraga teratur dapat berperan dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan pertahanan tubuh terhadap serangan COVID-19.

Sebagian besar responden berolahraga selama 30-60 menit dengan frekuensi satu sampai dua kali dalam seminggu. Olahraga dengan intensitas sedang hingga kuat selama kurang dari 60 menit seperti yang dilakukan oleh sebagian besar responden telah sesuai dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Latihan dengan pola tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan sistem kekebalan karena merangsang pertukaran subtipe sel imun yang berbeda antara sirkulasi dan jaringan.

Selain itu, kebiasaan berolahraga dengan intensitas sedang, selama kurang lebih 60 menit, adalah kebiasaan olahraga yang paling mudah untuk dilakukan.

Tak hanya kabar baik yang kami dapatkan.

Di lain pihak, beberapa upaya pencegahan penularan virus penyebab COVID-19 seperti penutupan fasilitas gym, anjuran menjaga jarak dan menjauhi kerumunan menjadi kendala tersendiri bagi responden yang ingin berolahraga.

Pandemi COVID-19 membuat 1 dari 3 orang responden menurunkan kuantitas dan kualitas aktivitas olahraganya. Penutupan fasilitas olahraga, berkurangnya teman olahraga, dan penurunan motivasi menjadi alasan mengapa responden memilih untuk tidak berolahraga sehingga mengurangi aktivitas berolahraga selama pandemi.

Saatnya promosi olahraga aman dan murah

Pandemi COVID-19 telah berlangsung hampir satu tahun dan menyerang lebih dari 100 juta penduduk dunia.

Di Indonesia, dari 250 juta penduduk, lebih satu juta di antaranya telah terkonfirmasi positif COVID-19 per 7 Februari 2021.

Vaksinasi yang dimulai pertengahan Januari lalu tidak akan menghentikan penyebaran virus penyebab COVID-19 secara cepat. Perlu waktu lama untuk mencapai kekebalan komunitas.

Berolahraga di rumah (misalnya home workout), dapat mejadi salah satu pilihan olahraga untuk mereka yang menghindari interaksi sosial dalam upaya pencegahan COVID-19.

Dalam pelaksanaannya, olahraga di dalam rumah termasuk dalam kategori olahraga yang aman, mudah dan murah. Program ini termasuk aerobik (misalnya: berjalan di rumah atau sekitarnya), pelatihan kekuatan otot, latihan peregangan otot (stretching), dan kombinasi penguatan dan peregangan otot.

Video-video olahraga di YouTube bisa diikuti untuk meningkatkan motivasi berolahraga di saat pandemi.

Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi olahraga di telepon pintar dapat memberikan efek “menantang”) bagi para penggunanya. Rekam jejak aktivitas fisik dalam fitur aplikasi tersebut membuat para pengguna semakin tertantang untuk meningkatkan aktivitas fisiknya.

Misalnya, dalam fitur aplikasi tercatat bahwa pengguna telah berjalan 2000 langkah hari ini. Esoknya, pengguna akan menantang dirinya untuk bisa melakukan lebih jauh atau paling tidak sama dengan hari kemarin.

Karena itu, kami menyarankan kepada masyarakat agar tetap mempertahankan kebiasaan berolahraganya dengan dibantu berbagai dukungan teknologi yang mudah diakses.

Bagaimana pun berolahraga di dalam gedung lain selain di rumah dan berolahraga secara berkelompok dapat meningkatkan risiko untuk tertular virus penyebab COVID-19.

Oleh karena itu, penerapan protokol kesehatan secara disiplin menjadi penting agar kegiatan berolahraga tidak menjadi pedang bermata dua bagi setiap orang yang berolahraga. Ketika berolahraga, di mana pun itu, penerapan protokol kesehatan adalah hal yang utama.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 122,300 academics and researchers from 3,923 institutions.

Register now