Menu Close

The Night Comes for Us: Mendefinisikan ulang aliran film laga

Joe Taslim (tengah) memainkan karakter utama yang bernama Ito dalam sebuah film karya Timo Tjahjanto, The Night Comes for Us. XYZ Films, Author provided (no reuse)

Terlepas dari ulasan yang buruk, film terbaru Timo Tjahjanto, The Night Comes for Us, film pertama Indonesia yang dirilis secara global melalui Netflix, mendapat beberapa pujian atas kontribusinya menempatkan film Indonesia bergenre aksi di peta industri sinema global.

The Night Comes for Us seharusnya diapresiasi karena menghidupkan kembali genre film aksi Indonesia, meletakknya dalam peta industri perfilman dunia bersama dengan pendahulu-pendahulunya yang sukses seperti The Raid: Redemption dan The Raid 2.

Mengikuti resep sukses The Raid

Sulit untuk tidak membandingkan The Night Comes for Us dengan The Raid. Film The Night Comes for Us tampaknya mengikuti gaya dan resep sukses film pendahulunya. Tidak mengagetkan sebenarnya karena sutradara The Raid, Gareth Evans, juga terlibat dalam penulisan naskah film The Night Comes for Us.

The Raid berhasil karena dua elemen penting. Yang pertama, apabila dibandingkan dengan karya-karya yang serupa, The Raid menggunakan adegan aksi yang dilakukan dengan kontak penuh dengan intensitas tinggi. Adegan-adegan berkelahi dilakukan di blok apartemen kelas bawah yang sempit menciptakan sensasi klaustrofobia dan bahaya yang sangat menarik bagi penonton.

Intensitas seperti inilah yang sebenarnya dicari oleh para penggemar genre film laga. Para penggemar mendapatkan sensasi seperti ini dalam film laga, sehingga mungkin keutuhan narasi menjadi bukan yang utama lagi.

Yang kedua, sebagai bagian dari daya tarik The Raid , film ini mampu menanggalkan latar geografis dan sosial Indonesia, sehingga menciptakan suatu perwujudan generik tentang sebuah dunia yang penuh dengan kejahatan. Ini berarti bahwa The Raid dapat terjadi di mana saja.

Bentuk “de-teritorialisasi” tersebut telah membuat kritikus film ternama Roger Ebert mengesampingkan latar tempatnya: “Kita sedang berada di negara apa? Film ini tidak pernah bilang.”. Pertanyaan retoris ini menegaskan kesuksesan film tersebut dalam membangun suatu latar yang umum untuk para penonton.

Almarhum Ebert kemudian mengakui peran penanggalan wilayah sebagai salah satu kesuksesan film tersebut.

Kemudian datanglah Timo

Timo Tjahjanto telah membangun reputasinya dari berbagai film thriller dan horor seperti Rumah Dara (Macabre), Killers, dan Headshot. Seperti Evans, Timo sangat cakap dalam menyutradarai adegan perkelahian atau penggambaran adegan berdarah-darah dalam filmnya. Dibanding dengan Evans, Timo bahkan meningkatkan intensitas aksi berdarah-darah itu dengan semakin banyak darah, luka dan suara-suara berderak seakan-akan dia telah diberikan izin untuk memindahkan kampanye online satir Dumb Ways to Die yang meremehkan adegan-adegan sadis.

Gaya Timo lebih menekankan pada intensitas daripada narasi, dan gaya ini terbukti memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik tersebut dapat dilihat di karya-karya sutradara Jepang Takeshi Miike dan Sion Sono yang menggambarkan emosi manusia secara mendalam. Para sutradara tersebut bahkan terkadang menunjukkan tubuh manusia yang diukir dan dipotong-potong untuk meyakinkan penonton tentang makna rasa sakit.

The Night Comes for Us juga telah meng-upgrade pendekatan “wilayah generik” Evans dengan menambahkan elemen-elemen Asia (atau paling tidak Asia Tenggara) yang cukup dikenal oleh penonton internasional tanpa harus mereka tahu tentang geografi benua Asia.

Film tersebut menggunakan konsep “triad” atau organisasi kejahatan rahasia Cina dalam alur cerita utamanya. Bahasa Inggris, Indonesia dan Cina dipakai secara bergantian sepanjang film.

Menanggapi kritik

Kritikus film Makbul Mubarak mengatakan bahwa serial The Raid oleh beberapa kalangan orang Indonesia tidak dianggap sebagai film Indonesia. Serial tersebut dikecam karena memamerkan “citra buruk” dari Indonesia dan dianggap tidak mewakili budaya cinta damai Indonesia.

Komentar-komentar reaktif demikian dapat saja ditujukan pada The Night Comes for Us juga, mengingat bahwa film tersebut berasal dari satu genre yang dipenuhi oleh kekerasan.

Dalam kasus ini, mungkin penting untuk diingat bahwa kekerasan grafis telah mendominasi industri perfilman Indonesia sejak tahun 1980an. Serial Jaka Sembung dan film laga lainnya dipenuhi oleh adegan-adegan pemotongan kepala atau anggota badan lain yang berdarah-darah.

Saya dapat mengatakan bahwa The Night Comes for Us adalah sebuah peningkatan kualitas dibandingkan film sejenisnya. Film The Night Comes for Us menawarkan pengalaman menonton dengan sensasi dan intensitas yang lebih.

Beberapa pemeran genre baru ini telah pelan-pelan menjadi bintang terkenal dalam film laga. Iko Uwais, Joe Taslim (keduanya membintangi The Night Comes for Us) dan Yayan Ruhiyan (The Raid) telah terlibat dalam berbagai produksi film Hollywood. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Julie Estelle (yang juga bermain dalam The Night Comes for Us) untuk mendapatkan tawaran-tawaran serupa.

Namun, para kritikus film telah berpendapat bahwa The Night Comes for Us memiliki naskah dan pengembangan karakter yang buruk. Kritikus film, Leila S. Chudori, telah mengidentifikasi beberapa kekurangan dalam dialog di film tersebut akibat dari terjemahan dari bahasa Inggris yang canggung.

Saya setuju bahwa alur cerita yang lebih kuat dan hasil terjemahan bahasa Indonesia yang bisa membuat The Night Comes for Us lebih baik lagi. Tapi, jangan sampai lupa kalau The Night Comes for Us dan film-film lain dalam kelompok yang sama mampu menempatkan Indonesia di kancah perfilman dunia. Setelah The Raid, The Night Comes for Us telah membuat seni bela diri Indonesia pencak silat, menjadi bagian leksikon terbaru dalam genre film laga.

The Night Comes for Us adalah sebuah cerita sukses bagi perfilman Indonesia dalam menciptakan suatu tolak ukur baru yang dapat diikuti lainnya. Bahkan, mungkin kita harus menerima ide bahwa film tersebut telah meredefinisi ulang genre film laga dalam sinema dunia.


Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Rizkina Aliya.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 130,800 academics and researchers from 4,108 institutions.

Register now