Menu Close
Keberadaan berbagai platform kelas online (MOOC) seperti Coursera dan EdX meberikan peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi di luar bidang pendidikannya. (Unsplash/Patrick Amoy), CC BY

Universitas bisa gandeng platform kelas online untuk wujudkan visi #KampusMerdeka Nadiem

Salah satu poin penting dalam konsep #KampusMerdeka yang diperkenalkan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim pada awal tahun ini adalah diizinkannya mahasiswa untuk menempuh pembelajaran hingga tiga semester di luar program studi.

Bentuk pembelajaran luar kampus ini beragam, mulai dari magang, proyek sosial, hingga membangun bisnis.

Namun, salah satu bentuk yang juga diizinkan dalam Buku Panduan Penyusunan Kurikulum Kampus Merdeka yang selama ini belum banyak dibahas adalah pengambilan kelas secara online.

Pembelajaran di luar program studi ala Kampus Merdeka melalui pengambilan kelas online menawarkan kebebasan pada mahasiswa dalam memilih beragam materi yang ditawarkan baik dari kampus sendiri, kampus lain, maupun dari dunia industri, cukup dari rumah - suatu hal yang ideal dilakukan semasa pandemi COVID-19.

Saya berargumen bahwa cara terbaik bagi universitas untuk memfasilitasi hal ini adalah dengan menggandeng platform yang menyediakan kelas daring secara masif dan terbuka atau yang dikenal dengan istilah Massively Open Online Courses atau MOOC.

Beberapa contoh platform MOOC yang ternama di dunia, misalnya, adalah Coursera yang didirikan beberapa profesor dari Stanford University di Amerika Serikat (AS). Ada juga EdX buatan Harvard University dan MIT yang juga di AS.

Sementara untuk kelas berbahasa Indonesia di antaranya banyak terdapat di MOOC yang dibangun oleh Universitas Terbuka atau misalnya platform kelas online yang dikelola swasta, Indonesia X.

Berikut beberapa pelajaran terkait skema kolaborasi yang dilakukan kampus saya, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya) dengan Coursera.

Skema kolaborasi kampus-MOOC untuk mendukung Kampus Merdeka

Unika Atma Jaya menjalin kontrak dengan Coursera melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka dari Juni hingga September 2020.

Melalui Coursera, mahasiswa kami bisa mengakses lebih dari 4.500 kelas online bersertifikasi - yang bila dihitung secara kasar, kurang lebih setara dengan total 67.500-180.000 jam pembelajaran atau 1.600-4.250 SKS - di platform mereka secara gratis selama 5 bulan.

Bandingkan jumlah ini dengan program studi S1 di Indonesia yang sesuai Standar Nasional Pendidikan memiliki beban 144 SKS selama 8 semester

Pada akhir masa kerja sama, kami mencatat seluruh mahasiswa kami yang berpartisipasi mendaftar sebanyak 6.579 kelas online dengan total 20.142 jam belajar.


Read more: Tiga langkah strategis untuk dukung budaya pembelajaran daring pasca COVID-19


Di Coursera sendiri terdapat berbagai kelas yang disediakan oleh kampus ternama seperti Stanford University dan juga perusahaan teknologi seperti IBM. Di EdX, ada kelas dari Harvard University, Sorbonne University di Prancis, hingga University of Queensland di Australia.

Namun, tantangannya adalah bagaimana mengkonversi berbagai kelas online yang diambil mahasiswa di platform MOOC untuk diadopsi ke dalam sistem nilai yang diterapkan di kampus.

Untungnya, Buku Panduan Kampus Merdeka menyediakan jalan keluar, yakni dengan menyesuaikan apa yang disebut dengan kriteria atau “capaian pembelajaran lulusan” (CPL).

Seorang dosen bisa menyesuaikan suatu modul online yang diambil mahasiswa untuk mengganti nilai tugas atau nilai mata kuliah sepenuhnya.

Namun, lebih baik lagi apabila ini dilakukan secara sistemik dengan mendaftarkan secara resmi modul mana saja dalam MOOC untuk menggantikan mata kuliah yang ada.

Misalnya, mahasiswa kami yang mengambil kelas dari Rice University di Texas, AS berjudul “General Chemistry”, apabila lulus bisa mengkonversikan nilainya untuk digunakan sebagai nilai UTS mata kuliah Kimia Dasar. Dalam hal ini, konversi modul MOOC tersebut setara dengan 1,5 SKS Kimia Dasar.

Karena kolaborasi ini juga sifatnya satu universitas, pengambilan mata kuliah di luar program studi menjadi lebih mudah dilakukan secara online.

Mahasiswa di program studi yang terkait teknik, misalnya, dapat menyelesaikan mata kuliah terkait machine learning di Program Studi Sistem Informasi dengan cara mengambil suatu kelas online dengan topik serupa di platform MOOC yang capaian pembelajarannya sudah disesuaikan.

Mendorong lebih banyak kampus untuk menggandeng platform kelas online

Contoh yang dilakukan Unika Atma Jaya di atas baru sebatas kerja sama satu platform MOOC dengan satu universitas.

Apabila kolaborasi seperti ini dilakukan dalam skala yang lebih besar di Indonesia, tentu manfaatnya juga akan lebih besar.

Pertama, semakin banyak universitas yang berkolaborasi dengan berbagai platform MOOC - baik yang internasional maupun nasional - semakin banyak pula kampus yang terdorong untuk menyesuaikan capaian pembelajaran mata kuliah mereka dengan kelas online yang ada.

Artinya, mahasiswa di Indonesia akan punya lebih banyak pilihan untuk mengambil mata kuliah di luar program studi - salah satu tujuan pelaksanaan Kampus Merdeka.

Mereka bisa mengambil mata kuliah di kampus di Indonesia maupun internasional dengan lebih mudah karena kelas online yang setara dengan berbagai mata kuliah tersebut, tersedia di platform MOOC.

Kedua, selain mendukung Kampus Merdeka, kerja sama dengan platform MOOC memberikan peluang lebih besar untuk memperkenalkan kampus-kampus di Indonesia kepada mahasiswa di seluruh dunia.

Studi yang terbit September lalu dari University of Kashmir, India menjelaskan bagaimana pengaruh global atau “soft power” Amerika Serikat menguat akibat kontribusi berbagai universitas di Amerika Serikat pada platform Coursera.

Selain itu, di Coursera misalnya, jumlah modul berbahasa Indonesia (kurang dari 10) jauh lebih sedikit dari jumlah modul berbahasa Korea (173 modul). Presentasenya lebih sedikit lagi apabila dibandingkan dengan modul berbahasa Inggris.

Artinya, kolaborasi dengan MOOC adalah kesempatan bagi universitas di Indonesia untuk menyediakan bagi mahasiswa dunia berbagai kelas online yang bukan hanya dengan Bahasa Indonesia, tapi juga kelas online yang mengandung muatan dengan perspektif akademik yang khas Indonesia.

Untuk mewujudkan kolaborasi skala besar di Indonesia ini, selain mendorong kampus lain untuk mengikuti jejak Unika Atma Jaya, perguruan tinggi juga bisa saling berkolaborasi untuk mempromosikan modul online, misalnya melalui suatu konsorsium.

Sebagai contoh, studi mengenai tanaman asli Indonesia untuk kesehatan dan kedokteran bisa melibatkan berbagai pusat riset dan universitas, seperti Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Institute Teknologi Bandung di Jawa Barat, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian, dan Balitbang Kementerian Kesehatan.

Bila hasil riset berbagai pusat tersebut disatukan dalam konsorsium ini dan dikembangkan menjadi materi terpadu, tawaran untuk mengelola modul khas pemuliaan tanaman obat asli Indonesia dapat diperkenalkan kepada MOOC global.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,800 academics and researchers from 3,852 institutions.

Register now