Kota Ho Chi Minh, Vietnam, merupakan kota metropolitan yang baru tumbuh dan sedang berjuang melindungi warganya dari tembakau. Shutterstock

Cegah kematian 1 miliar orang, perang melawan tembakau harus dilakukan di kota-kota besar di dunia

New York dan London merupakan kota-kota pertama yang memulai kebijakan pengendalian tembakau yang efektif - seperti tempat kerja bebas dari asap rokok, layanan berhenti merokok, dan menaikkan cukai tembakau.

Kebijakan-kebijakan yang menyelamatkan nyawa ini dinilai sangat berhasil sehingga sebuah perjanjian internasional, disebut Framework Convention on Tobacco Control, pada 2003 dinegosiasikan untuk mempromosikan kebijakan berbasis kesuksesan ini kepada dunia. Sampai sekarang, banyak yang mengatakan bahwa 181 negara yang meratifikasi perjanjian itu memperoleh manfaat dari kebijakan ini.

Bulan ini kami menerbitkan penelitian baru dalam British Medical Journal yang menunjukkan bahwa penurunan konsumsi rokok global yang sudah ada sebelumnya tidak dipercepat oleh perjanjian pengendalian tembakau internasional ini.

Lebih buruk lagi, temuan kami menunjukkan bahwa walau konsumsi rokok kecil di negara-negara kaya seperti Amerika Serikat dan Inggris, konsumsi tembakau justru meningkat lebih dari 500 batang per orang dewasa di negara-negara yang lebih miskin seperti Cina, Indonesia, dan Vietnam.

Hasil tak terduga ini menimbulkan dua pertanyaan penting: apa yang menyebabkan disparitas global dalam pengendalian tembakau ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?

Cukai tembakau yang terlalu rendah

Disparitas global mungkin sebagian besar dapat dijelaskan dengan menggeser tren ekonomi dan berbagai kemampuan pemerintah dalam menerapkan kebijakan pengendalian tembakau.

Kota-kota metropolitan dengan pertumbuhan pesat seperti Beijing, Jakarta, dan Ho Chi Minh tidak memiliki keberhasilan yang sama dalam melindungi penduduk mereka dari bahaya tembakau seperti kota-kota negara maju yang lebih awal mengadopsi kebijakan ini.

Jakarta, Indonesia. Konsumsi tembakau meningkat sampai lebih dari 500 batang rokok per orang di negara yang lebih miskin seperti Indonesia dan Vietnam. (Shutterstock)

Satu alasan utama yang menyebabkan hal ini adalah cukai tembakau di kota-kota ini lebih kecil dari yang seharusnya (idealnya) dan cukai ini tidak meningkat sesuai naiknya pendapatan (masyarakat).

Hasilnya, kota-kota ini akan kehilangan miliaran dolar akibat hilangnya produktivitas dan pengeluaran layanan kesehatan karena rokok, serta kematian dini yang dapat dicegah akan bertambah buruk setiap tahun untuk ratusan juta orang.

Penghindaran pajak dan penyelundupan

Namun kota-kota di negara berkembang itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Penelitian kami, ketika digabung dengan penelitian-penelitian sebelumnya tentang industri tembakau, menghasilkan beberapa bukti kuantitatif pertama yang para ekonom sebut sebagai “efek keseimbangan” dalam pasar tembakau. Maksudnya, penerapan kebijakan pengendalian tembakau di negara-negara kaya memberi insentif kepada perusahaan tembakau untuk merelokasi kegiatan lobi, pemasaran, dan promosi mereka ke negara-negara yang lebih miskin dengan kebijakan yang jauh lebih longgar.

Kenyataannya, ada ironi tragis dari kisah ini: oligopoli yang mendominasi pasar tembakau global semuanya bermarkas di kota-kota yang merintis kebijakan pengendalian tembakau, dan kebijakan-kebijakan ini sekarang mendorong operasi industri ke kota-kota berkembang yang memiliki sedikit perlindungan terhadap produk mematikan ini.

Phillip Morris di New York. British American Tobacco dan Imperial Tobacco di London. Japan Tobacco di Tokyo. Tidak hanya perusahaan publik yang memanfaatkan modal dari investor kaya di kota-kota ini untuk memperburuk epidemi tembakau di luar negeri, mereka juga mengirim miliaran dolar ke kota-kota kaya ini melalui penghindaran pajak sistemik dan penyelundupan internasional yang terkoordinasi tingkat tinggi - semuanya dilakukan sambil secara agresif melawan kebijakan pengendalian tembakau yang efektif di seluruh dunia.

Perkiraan satu miliar kematian

Penelitian kami menunjukkan bahwa Framework Convention on Tobacco Control belum mengarah pada perlindungan yang adil terhadap bahaya tembakau bagi kota-kota besar di dunia.

Cukai tembakau di kota-kota seperti Beijing tidak naik secepat naiknya pendapatan. (Shutterstock)

Pada 2044 akan ada dua kali lebih banyak orang yang tinggal di kota-kota besar seperti di daerah pedesaan, yang berarti kita tidak dapat meninggalkan kota mana pun jika kita memiliki harapan untuk mengalahkan epidemi tembakau global.

Tahap selanjutnya dari perang panjang ini harus diperangi kota demi kota. Apakah itu berarti menaikkan cukai tembakau di Beijing, membatasi pemasaran industri di Jakarta, mewajibkan pengemasan rokok polos (tanpa merek rokok) di Kota Ho Chi Minh atau mengambil tindakan hukum di New York dan London - kita semua memiliki peran dalam pertempuran untuk mencegah satu miliar kematian akibat tembakau pada abad ke-21.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English