Kita bisa belajar tentang cara api dari suku Aborigin. Matthew Newton/RUMMIN Productions

Ilmu modern tidak mampu mengatasi kebakaran lahan; kita perlu belajar pada masyarakat adat

Kebakaran lahan besar minggu lalu di pantai timur Australia, dan kemungkinan lanjutannya, akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Seiring semakin jelas tantangan yang dihadapi dalam mengurangi bahaya kebakaran modern, kita perlu belajar dari praktik kuno pembakaran lahan dari suku Aborigin.

Masyarakat adat sudah lama belajar memanfaatkan dan mengendalikan api, termasuk kebakaran hutan. Mereka membakar lahan dalam ukuran kecil dan saat musim kering, sehingga menghasilkan rupa-rupa pola mosaik kelompok tumbuhan dan bahan bakar.

Kebakaran lahan besar jarang terjadi, dan cara ini meningkatkan produksi tanaman dan pakan ternak.


Read more: A surprising answer to a hot question: controlled burns often fail to slow a bushfire


Dewasa ini, para pemadam api berusaha menurunkan risiko kebakaran lahan dengan mengurangi jumlah bahan bakar potensial, dengan cara menjatuhkan bahan pemantik api dari kapal terbang yang lebih murah.

Namun, metode tersebut justru memperparah laju penurunan keanekaragaman hayati dan sering tidak berhasil mencegah kebakaran.

Kebakaran semakin sering dan ekstrim, sudah saatnya kita kembali kepada pemahaman tentang api menurut masyarakat adat.

Bagian terbakar di daerah Midlands, Tasmania. Teknik ini dipakai oleh suku Aborigin dan bisa membantu tata kelola kebakaran hutan. Alan McFetridge

Keahlian kuno yang lambat

Praktik pembakaran tradisional oleh suku Aborigin berdasarkan pada pengetahuan lokal dan hubungan spiritual dengan tanah.

Sebelum orang kulit putih datang, suku Aborigin merupakan penghuni lama dan sudah melakukan praktik bakar tradisional di negeri ini. Artinya, mereka bisa mengontrol waktu dan penyebaran api, serta dampak terhadap ekologi.

Sebaliknya, program manajemen api modern bersifat kaku dan responsif.

Pembakaran dilakukan pada hari kerja saat musim dan cuaca tertentu. Api akan disulut dari udara, terutama untuk pembakaran skala besar di daerah-daerah. Hasilnya, area yang dibakar lebih luas dengan api yang lebih besar ketimbang yang dilakukan oleh suku Aborigin.


Read more: Grattan on Friday: When the firies call him out on climate change, Scott Morrison should listen


Pembakar modern akan mengurangi bahan bakar apabila daerah yang ingin dibakar lebih kecil. Para pekerja akan langsung membakar di lapangan. Mereka biasanya bekerja pada cuaca tertentu, misalnya ada kabut dan suhu lebih sejuk untuk menjaga level api serta melindungi kawasan sensitif.

Metode ini kelihatannya mirip dengan teknik tradisional Aborigin yang menghasilkan api lebih kecil dibandingkan dengan teknik penyulutan dari udara. Namun, sebenarnya metode ini menggunakan alat yang berbeda.

Metode modern menggunakan drip torches, semacam tabung yang diisi bahan bakar untuk menyulut api yang bisa membakar dalam pola persegi.

Sebagai pembanding, teknik tradisional Aborigin menggunakan metode yang lebih lambat, seperti menggosokkan tongkat dengan semak yang menghasilkan pola pembakaran spiral atau garis untuk mencapai efek mosaik.

Operasi pemadaman api oleh Balai Taman Nasional NSW di Blue Mountains. Sekitar 120 hektare terbakar. Mick Tsikas/AAP

Belajar dari sejarah

Invasi bangsa Eropa di Australia sempat menghilangkan praktik pembakaran tradisional suku Aborigin. Namun, Firestick Alliance, yaitu sebuah aliansi yang dipimpin oleh masyarakat adat setempat memulai inisiatif pengenalan kembali teknik tradisional tersebut.

Mereka memberikan pelatihan dan melakukan praktik lapangan serta pemantauan ilmiah untuk mempelajari efek pembakaran tradisional.

Berkaitan dengan hal tersebut, ada kesempatan untuk mengembangkan teknik pembakaran tradisional tersebut dengan ilmu pengetahuan modern.

Program kami di sebuah peternakan di Tasmania bisa menjadi contoh. Sejak 2017, peneliti kami sudah bekerja bersama dengan petani dan komunitas Aborigin untuk mengenalkan kembali praktik pembakaran tradisional di lahan rumput setempat (lihat video di bawah).

Awalnya, proyek riset ini terkait manajemen api di hutan eukaliptus yang terancam punah. Namun, berkembang saat pemilik lahan mensyaratkan agar komunitas Aborigin dapat dilibatkan dalam proyek tersebut. Kami pun mempekerjakan penjaga hutan Aborigin dalam proses eksperimen pembakaran.

Kami tidak melakukan pendekatan antropologi yang biasa dilakukan untuk mempelajari praktik pembakaran Aborigin. Sebaliknya, proyek ini menjadi sebuah kolaborasi bersama di mana kami bisa saling belajar.

Hasilnya, proyek tersebut mengalami perubahan arah penelitian.

Sebagai contoh, pembakaran awal dilakukan hanya pada unit yang sudah ditentukan. Namun, tahun kedua, para penjaga hutan Aborigin lebih selektif memilih area yang dibakar dan menghasilkan pola yang lebih tersebar dan variatif.


Read more: Bushfires can make kids scared and anxious: here are 5 steps to help them cope


Proyek kolaborasi ini masih berjalan dan belum ada hasil yang final. Meski demikian, kami berhasil mencapai tujuan penting : kerjasama antar budaya.

Tujuan ini bukan sesuatu hal terbentuk secara terburu-buru. Butuh waktu yang lama untuk bisa mendekati komunitas Aborigin, menumbuhkan rasa saling percaya antara dua pihak yang belum pernah bekerja sama.

Proyek ini dilakukan atas permintaan pemilik lahan, yang juga bertanggung jawab atas seluruh aktivitas dengan suku Aborigin.

Proyek kecil akan bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan anggota suku Aborigin dan membawa mereka mengenal kembali tanah leluhur mereka.

Apabila sukses dalam skala kecil, pelaksanaan proyek skala kecil ini juga bisa menjadi dasar argumentasi untuk pelaksanaan program serupa di lahan yang lebih luas, seperti di Taman Nasional.

Pembakaran secara adat di Tasmania. Matthew Newton/RUMMIN Productions

Peluang masa depan

Ada perbedaan mendasar antara praktik manajemen api tradisional dan modern, yang berakar dari perbedaan pemahaman modern dan tradisional akan kepemilikan, tempat, sejarah, nilai, dan metafisika.

Melihat perkembangan krisis api yang ada, sudah saatnya dunia sains modern dan ilmu pengetahuan Aborigin bersama-sama memastikan bahwa lingkungan kita bisa bebas api.

Pendanaan berkelanjutan untuk pengembangan program manajemen api tradisional dan pelatihan antar budaya baik untuk masyarakat adat maupun pemadam api modern. Keduanya sangat dibutuhkan untuk mencapai visi bebas api tersebut.

Stefanus Agustino Sitor menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 100,300 academics and researchers from 3,206 institutions.

Register now