File 20171102 26456 qvmw5k.jpg?ixlib=rb 1.1

Komuter dengan kereta bawah tanah? Anda perlu mengetahui kualitas udara di sekitar kereta

Sao Paulo, Brazil, 2013. Kereta bawah tanah penuh dengan partikel-partikel halus yang dihasilkan oleh rem atau kereta. Diego Torres Silvestre/Flickr,

Komuter dengan kereta bawah tanah? Anda perlu mengetahui kualitas udara di sekitar kereta

Pemerintah India mengumumkan, empat lagi kota besar di India akan segera memiliki jalur metro sendiri. Di sisi lain Himalaya, Shanghai sedang membangun jalur metro ke-15, rencananya dibuka pada 2020, menambah 38,5 kilometer dan 32 stasiun di jaringan kereta bawah tanah terbesar di dunia. Dan penghuni New York akhirnya bisa menikmati jalur Second Avenue Subway mereka setelah menunggu nyaris 100 tahun hingga itu terjadi.

Di Eropa saja, para komuter di lebih dari 60 kota menggunakan kereta bawah tanah. Secara internasional, lebih dari 120 juta orang pulang-pergi kerja dengan kereta bawah tanah setiap hari. Kami menghitung sekitar 4,8 juta pengguna per hari di London, 5,3 juta di Paris, 6,8 juta di Tokyo, 9,7 juta di Moskow, dan 10 juta di Beijing.

Kereta bawah tanah adalah transportasi vital untuk pulang-pergi kerja di kota-kota padat, sesuatu yang akan makin penting lagi seiring waktu — berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa 2014, setengah dari populasi dunia sekarang adalah orang kota. Mereka juga bisa berperan dalam mengurangi polusi udara luar di kota-kota besar dengan membantu mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Sejumlah besar partikel yang bisa terhirup (particulate matter, atau PM) dan nitrogen dioksida (NO2), yang diproduksi oleh emisi industri dan lalu lintas, bertanggung jawab terhadap memendeknya masa hidup penghuni kota. Sistem transportasi publik seperti kereta bawah tanah, tampaknya telah menjadi solusi untuk mengurangi polusi udara di lingkungan kota.

Namun seperti apa udara yang kita hirup di bawah tanah, di peron kereta, dan di dalam kereta?

Kualitas udara campuran

Selama lebih dari dekade terakhir, beberapa studi pionir telah memantau kualitas udara bawah tanah di berbagai kota di Eropa, Asia, dan Amerika. Basis datanya belum lengkap, tapi terus berkembang dan sudah bernilai.

Subway, Tokyo, 2016. Mildiou/Flickr, CC BY-SA

Contohnya, membandingkan kualitas udara di perjalanan dengan kereta bawah tanah, bus, trem, dan berjalan kaki dari tempat yang sama ke tujuan yang sama di Barcelona, menemukan bahwa udara bawah tanah memiliki kadar polusi udara yang lebih tinggi daripada di trem atau berjalan di jalan, tapi sedikit lebih rendah ketimbang di bus. Nilai rendah yang serupa untuk lingkungan kereta bawah tanah dibandingkan moda transportasi publik lainnya, telah ditunjukkan oleh studi di Hong Kong, Mexico City, Istanbul, dan Santiago de Chile.

Mengenai roda dan rem

Beberapa perbedaan telah dihubungkan dengan materi roda dan mekanisme rem yang berbeda, serta variasi pada ventilasi dan sistem pengatur suhu udara. Namun mungkin juga berkaitan dengan perbedaan dalam protokol kampanye pengukuran dan pemilihan tempat pengambilan sampel.

Second Avenue Subway dalam proses pembangunan, New York, 2013. MTA Capital Construction/Rehema Trimiew/Wikimedia, CC BY-SA

Faktor kunci yang mempengaruhi polusi udara bawah tanah mencakup kedalaman stasiun, waktu konstruksi, tipe ventilasi (alami/AC), jenis rem (elektromagnetik atau bantalan rem konvensional) serta roda (karet atau baja) yang digunakan kereta, frekuensi kereta, dan yang terkini, ada atau tidaknya sistem pintu kaca di peron.

Secara khusus, banyak komponen kereta bawah tanah berasal dari bagian kereta yang bergerak seperti roda dan bantalan rem, serta dari jalur baja dan komponen sumber daya listrik, menjadikan partikelnya secara dominan mengandung besi.

Saat ini, tidak ada indikasi epidemiologis yang jelas mengenai efek kesehatan abnormal yang mengenai pekerja bawah tanah dan para komuter. Pekerja kereta bawah tanah di New York telah terpapar udara seperti itu tanpa dampak signifikan yang terlihat pada kesehatan mereka, dan tidak ditemukan adanya peningkatan risiko kanker paru pada masinis kereta bawah tanah di sistem kereta bawah tanah Stockholm.

Namun catatan peringatan dikemukakan oleh pengamatan peneliti yang menemukan bahwa pekerja yang bekerja di peron bawah tanah di Stockholm, tempat konsentrasi PM tertinggi, cenderung memiliki kadar yang lebih tinggi untuk penanda untuk penyakit kardiovaskular ketimbang penjual tiket dan masinis.

Partikel besi yang dominan bercampur dengan partikel dari berbagai sumber lainnya, termasuk batuan pemberat dari jalur rel, aerosol biologis (seperti bakteri dan virus), dan udara dari luar, dan didorong melalui sistem terowongan pada arus udara turbulensi yang dihasilkan oleh kereta itu sendiri atau sistem ventilasinya.

Membandingkan peron

Program pengukuran yang paling ekstensif di peron kereta bawah tanah, sekarang ini dilakukan di sistem kereta bawah tanah Barcelona. Di sana terdapat 30 stasiun dengan rancangan yang berbeda, diteliti di bawah kerangka proyek IMPROVE LIFE dengan dukungan tambahan dari AXA Research Fund.

Penelitian tersebut mengungkap variasi substansial pada konsentasi komponen partikel. Stasiun-stasiun dengan hanya satu terowongan dengan satu jalur rel yang terpisah dari peron oleh sistem penghalang kaca menunjukkan rata-rata setengah konsentrasi dari partikel tersebut dibandingkan dengan stasiun konvensional, yang tidak memiliki penghalang antara peron dan jalur rel. Penggunaan AC telah terlihat memproduksi konsentrasi komponen partikel yang lebih rendah dalam gerbong.

Di dalam kereta yang memungkinkan jendela dibuka, seperti di Atena, konsentrasi partikel secara umum bisa terlihat meningkat di dalam ketika kereta melintasi terowongan, dan secara lebih spesifik ketika kereta melintasi terowongan dengan kecepatan tinggi.

Berdasarkan material bangunan mereka, Anda mungkin menghirup berbagai jenis partikel berbeda di berbagai peron di dunia. London Tube/Wikimedia, CC BY-SA

Memantau stasiun

Meski tidak ada kontrol legal mengenai kualitas udara di lingkungan kereta bawah tanah, riset seharusnya bergerak maju menuju metode realistis mengenai pengurangan polusi partikel. Pengalaman kami di sistem kereta api Barcelona, dengan berbagai rancangan stasiun dan sistem ventilasi berbeda, menunjukkan tiap peron memiliki lingkungan mikro atmosfer tersendiri.

Untuk merancang solusi, seseorang perlu mempertimbangkan kondisi lokal dari setiap stasiun. Hanya dengan cara itu peneliti bisa menilai pengaruh populasi yang dihasilkan dari bagian kereta yang bergerak.

Riset seperti itu masih terus berkembang dan akan meningkat karena perusahaan yang mengoperasikan kereta bawah tanah kini lebih peduli tentang bagaimana udara yang lebih bersih, secara langsung membuat komuter kota yang lebih sehat.

This article was originally published in English