Menu Close

Laporan final perubahan iklim IPCC terbit, apa yang harus kita lakukan?

IISD/ENB/Anastasia Rodopoulou.

Perubahan iklim mengakibatkan dunia gonjang-ganjing. Namun, jika bekerja keras, masalah ini bisa kita atasi.

Itulah esensi Laporan Sintesis yang diterbitkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Laporan ini merupakan edisi pamungkas sebagai rangkuman asesmen mendalam IPCC tentang berbagai topik selama tujuh tahun belakangan.


Read more: Pakar menjawab: apa itu laporan IPCC dan apa pentingnya bagi ketahanan iklim suatu negara?


Laporan ini menyarikan poin-poin kunci dari enam laporan sebelumnya yang disusun oleh ratusan ahli. Tebalnya mencapai ribuan halaman. Ratusan ribu komentar dari pemerintah ataupun komunitas saintifik juga turut berperan meramaikan perbincangan laporan ini.

Laporan sintesis IPCC mengonfirmasi bahwa perbuatan manusia menyebabkan emisi gas rumah kaca terus naik. Temperatur bumi saat ini mencapai 1,1°C di atas level praindustri (sekitar tahun 1850). Kenaikannya bisa menyentuh 1,5°C pada awal dekade 2030-an.

IPCC

Pemanasan ini membuat perubahan yang cepat dan meluas, seperti kenaikan muka air laut ataupun cuaca ekstrem. Perubahan tersebut membahayakan kehidupan manusia dan makhluk lainnya, termasuk juga sistem alam.

Semakin jelas juga bahwa masyarakat rentan di negara berkembang, yang hanya berkontribusi sedikit terhadap emisi gas rumah kaca, kerap kejatuhan bencana terbesar karena perubahan iklim.

Ketidakadilan juga akan dirasakan generasi mendatang. Anak-anak yang lahir saat ini kemungkinan akan menderita berkali-kali lipat karena bencana iklim yang lebih sering dibandingkan era kakek-nenek mereka.

Dunia sedang di ujung tanduk - tapi kita masih bisa bergerak menjauhinya. Perubahan iklim memang memburuk, tapi ini berarti kita punya tujuan bersama dalam bertindak: menyelamatkan bumi.

mengatasi perubahan iklim
Perubahan iklim memang memburuk, tapi ini juga berarti kita punya tujuan bersama dalam bertindak: menyelamatkan bumi.. Shutterstock

Begitu banyak yang dipertaruhkan

Pada pekan lalu di Interlaken, Swiss, beberapa ratus perwakilan mayoritas negara di dunia bekerja menguliti laporan rangkuman IPCC setebal 35 halaman. Pemeriksaan ini amat mendetail: dari kalimat, kata per kata, hingga angka-angka–yang tak jarang menjadi perdebatan serius.

Kami terlibat dalam proses ini. Kami–para penulis laporan dan anggota biro IPCC–bertugas menjaga kebenaran ilmiah sekaligus menjadi juru damai atas beraneka pandangan dari delegasi negara-negara. Dalam penyusunan dokumen ilmiah, tahapan ini tergolong unik.

Di tahap persetujuan, negara-negara anggota biasanya langsung mengirimkan keputusannya, dalam rapat yang berlangsung sepanjang malam. Proses ini juga berlaku dalam Laporan Sintesis IPC. Waktu rapat bahkan diperpanjang hingga dua hari satu malam sehingga menambah lelah perwakilan negara dan maupun tim IPCC.

Proses di atas menggambarkan bahwa begitu banyak yang dipertaruhkan dalam laporan IPCC. Pasalnya, seluruh negara harus mengadopsi laporan ini. Pengaruh laporan IPCC juga sampai ke sektor swasta, misalnya dalam pengambilan keputusan direksi perusahaan ataupun penanaman modal.

people sit at rows of desks
Sesi IPCC di siang hari. Pertemuan dapat berlarut-larut hingga semalaman karena perdebatan kata-kata terakhir dalam laporan IPCC. IISD/ENB/Anastasia Rodopoulou

Kabar terbaru emisi bumi

Laporan Sintesis IPCC mengonfirmasi konsentrasi gas rumah kaca yang terlepas ataupun terkandung dalam atmosfer sudah sangat tinggi.

Guna menjaga pemanasan tak lebih dari 2°C pada 2050, emisi gas rumah kaca global harus berkurang sekitar 21% pada 2030 dan 35% pada 2035. Jika kita menginginkan pemanasan tak melebihi 1,5°C, upaya pengurangan emisi bumi harus lebih besar lagi.

Upaya tersebut tak mudah, apalagi jika berkaca pada kenaikan emisi tahun-tahun sebelumnya. Pada 2019, emisi global tahunan mencapai 12% lebih tinggi pada 2010, dan 54% lebih tinggi dibandingkan 1990.

IPCC

Kesuksesan kita mengurangi emisi sebenarnya mulai terlihat. IPCC menyatakan: kebijakan, aturan, teknologi, maupun upaya yang dilakukan di seluruh dunia berhasil mengurangi beberapa miliar ton emisi CO2 ataupun gas rumah kaca lainnya. Ini dibandingkan jika kita tidak mengupayakan pengurangan emisi sama sekali.

Yang jelas, emisi global benar-benar bisa kita pangkas jika kebijakan pengurangannya diperkuat dan diterapkan secara luas. Laporan IPCC menunjukkan, di berbagai belahan dunia, berbagai opsi menjanjikan sudah tersedia untuk mengurangi emisi.

Banyak pula di antara opsi tersebut yang berbiaya murah dan menciptakan manfaat lanjutan, seperti mengurangi polusi udara. Jika seluruh opsi ini digunakan, emisi global dapat dipangkas hingga separuhnya pada 2030–tanpa menambah biaya besar.


Read more: Jumlah emisi karbon tahun ini cetak rekor baru, tugas manusia semakin berat


Sebagaimana laporan IPCC, manfaat ekonomi dari pembatasan pemanasan bumi di 2°C jauh lebih besar dibandingkan biaya pengurangan emisinya. Apalagi, manfaat ini belum dihitung manfaat karena kita bisa menghindari kerugian akibat bencana iklim yang lebih parah.

Kita memiliki pengalaman bersama dalam membalik keadaan. Sebagaimana dituliskan dalam laporan, banyak instrumen kebijakan maupun ekonomi yang sukses. Kita juga tahu bagaimana mendesain kebijakan iklim yang bisa diterima secara politis dan tidak merugikan masyarakat miskin.

Laporan IPCC juga menekankan pentingnya institusi yang baik dalam tata kelola perubahan iklim, seperti penegakan hukum dan lembaga independen. Aspek tata kelola juga harus mencakup partisipasi yang berarti dari seluruh kelompok di masyarakat.

polusi mengakibatkan perubahan iklim
Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terus mencapai titik tertinggi. Olivia Zhang/AP

Adaptasi masih sulit

Sejauh ini, aksi cepat menangani perubahan iklim adalah langkah yang paling ekonomis. Sebab, jika kita gagal mengurangi emisi, perubahan iklim akan semakin parah dan dampak bencananya akan kian mahal. Kegagalan ini juga membuat efektivitas langkah adaptasi kita semakin berkurang.

Jika bumi terus memanas, bencana seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, kebakaran, dan badai juga akan semakin intens. Kemungkinan besar dua atau lebih bencana besar akan terjadi dalam satu waktu.

Sementara, upaya dunia untuk beradaptasi tak mampu menyaingi kecepatan iklim yang berubah. Kebanyakan respons kita masih terpisah-pisah, bersifat pelengkap, ataupun terbatas di satu sektor ekonomi saja. Kebanyakan upaya adaptasi juga tidak tersebar merata di seluruh daerah, dengan efektivitas yang tak sama.

Kita sudah mengetahui hambatan untuk meningkatkan efektivitas adaptasi iklim. Salah satu yang terbesar kesenjangan ongkos adaptasi dengan alokasi anggarannya.

Kita semestinya bisa berbuat lebih baik.

IPCC

Laporan IPCC menjelaskan tiga jalan supaya adaptasi iklim kita semakin efektif. Kita membutuhkan lebih banyak investasi pada riset dan pengembangan. Perencanaan yang berfokus pada tujuan jangka panjang dengan pendekatan adaptasi iklim yang inklusif serta merata (untuk mengakomodasi beraneka ragam pengetahuan) juga penting.

Banyak upaya adaptasi yang menciptakan manfaat lanjutan. Perbaikan sistem insulasi (peredam panas) rumah, misalnya, bisa membantu kita menghadapi cuaca ekstrem sekaligus mengurangi biaya pemanasan ataupun pendinginan sehingga emisi gas rumah kaca bisa dikurangi.

Relokasi warga dari kawasan rawan banjir bisa mengembalikan fungsi alami kawasan tersebut sekaligus meredam risiko banjir. Manfaat lainnya adalah naiknya keanekaragaman hayati maupun kapasitas penyimpanan karbon di tumbuhan serta tanah.

Kebijakan adaptasi iklim yang memprioritaskan keadilan sosial, kesetaraan, dan peralihan yang adil, juga menyokong pencapaian target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa Bangsa.

dampak perubahan iklim terhadap pangan
Kebijakan adaptasi iklim yang memprioritaskan keadilan sosial juga membantu pencapaian target global lainnya. Asim Tanveer/AP

Menekan ketimpangan

Dalam upaya meredam (mitigasi) dan menanggulangi dampak (adaptasi) perubahan iklim, masih ada kesenjangan antara kebutuhan dengan apa yang telah dilakukan.

Negara-negara, misalnya, tidak menambah komitmen iklim mereka untuk memastikan pemanasan tak melebihi 2°C. Bagi sebagian besar negara, laju emisi saat ini juga akan melampaui batas aman dalam target mereka.

Terlebih lagi, menurut pemodelan, total investasi teknologi dan sistem rendah emisi saat ini masih 3-6 kali lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk menjaga suhu hingga 1,5 °C atau 2 °C.

Secara keseluruhan, upaya yang dilakukan untuk memahami, menyiapkan, dan menerapkan langkah adaptasi iklim masih belum cukup. Kesenjangan terbesar umumnya ada di negara-negara berkembang. Kemampuan mereka untuk menangani perubahan iklim jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara kaya.

Negara berkembang menuntut pendanaan iklim berskala besar dari negara maju. Sayangnya, belum ada tanda-tanda tuntutan ini akan terpenuhi.


Read more: Negara kaya ingkari janji pendanaan iklim negara berkembang, apa akibatnya bagi Indonesia?


Seakan bisa ditebak, masalah kesetaraan dan keadilan antarnegara termasuk yang paling sulit disepakati dalam persetujuan Laporan Sintesis. Versi terakhir dari laporan IPCC membingkai masalah kesetaraan bukan sebagai konflik yang tidak dapat diselesaikan, tapi sebagai peluang untuk “mengubah jalur pembangunan yang keberlanjutan”.

Sebagian besar pemerintah memiliki visi pencapaian standar hidup yang tinggi dengan teknologi, sistem, dan pola konsumsi yang “netral iklim” atau ramah lingkungan. Sistem harus dibangun agar kuat menghadapi perubahan iklim pada masa depan, termasuk kejutan buruk yang mungkin datang.

Visi itu harus dan bisa dicapai. Pada umumnya, kita tahu bagaimana melakukannya – dan secara ekonomi masuk akal. Dalam Laporan Sintesis IPCC ini, pemerintah dari seluruh dunia telah mengakuinya.

Frank Jotzo adalah Penulis Utama laporan penilaian terbaru IPCC tentang mitigasi perubahan iklim dan anggota tim penulis inti untuk Laporan Sintesis. Mark Howden adalah Wakil Ketua Kelompok Kerja IPCC tentang dampak dan adaptasi iklim dan Editor Peninjau Laporan Sintesis. Keduanya terlibat dalam sesi persetujuan pemerintah untuk Laporan Sintesis IPCC.


This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 185,200 academics and researchers from 4,982 institutions.

Register now