Menu Close
Marcin Jozwiak/Unsplash, CC BY.

Jumlah emisi karbon tahun ini cetak rekor baru, tugas manusia semakin berat

Analisis para ilmuwan dunia menyatakan emisi karbon dioksida (CO2) global dari aktivitas manusia masih berada di titik tertingginya pada 2022. Emisi dari bahan bakar fosil juga naik, bahkan lebih tinggi dibandingkan level sebelum pandemi.

Analisis yang dilakukan oleh lembaga Global Carbon Project, secara rutin menghitung bujet karbon bumi atau carbon budget. Perhitungan bujet ini berbasiskan jumlah emisi CO2 yang dilepaskan manusia, dan emisi yang diserap dari atmosfer oleh ekosistem laut maupun darat.

Dari dua aspek tersebut, kami menghitung seberapa banyak karbon yang masih bisa dilepaskan ke atmosfer supaya kenaikan suhu bumi tidak melebihi batas 1.5°C dibandingkan era praindustri.

Tahun ini, aktivitas manusia diperkirakan akan melepaskan emisi CO2 sebesar 40,6 miliar ton. Angka ini sekaligus menandakan bahwa bumi – dalam batas amannya – hanya sanggup menampung emisi sebanyak 380 miliar ton CO2 pada beberapa tahun mendatang.

Jumlah emisi tahunan pada 2022 ini sangat berbahaya untuk stabilitas iklim global. Jika tren emisi tidak berubah, maka ada peluang 50% bahwa pemanasan suhu global rata-rata akan mencapai 1,5°C dalam waktu 9 tahun.

Dunia memang mengalami kemajuan signifikan dalam hal dekarbonisasi dan upaya pengurangan emisi di beberapa sektor dan negara, khususnya di pasokan listrik energi terbarukan.

Namun, tetap saja, meski pemimpin dunia berkumpul dalam konferensi iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (COP27) di Mesir pekan ini, upaya global untuk memangkas emisi masih jauh dari cukup.

Umat manusia mesti memangkas emisi global demi mempertahankan peluang bagi kita menghindari dampak terparah perubahan iklim.

Bujet karbon dunia menjadi 1,5°C, 1,7°C, dan 2°C suhu rata-rata global, dengan sisa emisi sebesar 380 miliar ton CO₂, 730 miliar ton CO₂, dan 1.230 miliar ton CO₂, masing-masing. Ini akan dikonsumsi dalam 9, 18, dan 30 tahun jika emisi saat ini bertahan, mulai tahun 2023. Global Carbon Project 2022

Emisi batu bara dan minyak bumi naik, gas bumi turun, dan deforestasi melambat

Berdasarkan data awal yang ada, kami menaksir emisi CO2 dari batu bara, gas bumi, minyak bumi, dan penggunaan semen (emisi sumber daya fosil) tahun 2022 bakal meningkat 1% atau sekitar 300 juta ton CO2 dibandingkan tahun lalu– yang angkanya pada 2021 mencapai 36,6 miliar ton CO2

Artinya, emisi bahan bakar fosil tahun ini merupakan yang paling tinggi dalam sejarah, di atas level sebelum pandemi sebesar 36,3 miliar ton (tahun 2019)

Mari melihat sejauh mana perbandingan pertumbuhan emisi 2021-2022 sebesar 1% dengan aspek lainnya:

  • pertumbuhan emisi 2022 setara dengan penambahan emisi dari 70 juta unit baru mobil pabrikan Amerika Serikat dalam setahun
  • pertumbuhan emisi 2022 lebih tinggi 0,5% dari rata-rata pertumbuhan emisi tahunan rata-rata sejak satu dekade silam (2012-2021)
  • pertumbuhan emisi 2022 lebih rendah 2,9% dari rata-rata pertumbuhan emisi tahunan sejak tahun 2000-an (angka yang tinggi pada periode tersebut kemungkinan besar karena cepatnya pertumbuhan ekonomi Cina)
  • pertumbuhan emisi 2022 juga lebih rendah 2,1% dibandingkan rata-rata pertumbuhan emisi tahunan sejak 60 tahun silam

Maka, secara relatif, terjadi perlambatan pertumbuhan emisi CO2 dari sumber daya fosil.


Read more: Empat masalah tentang kebakaran hutan yang bisa mengganjal target emisi Indonesia 2030


Pertumbuhan emisi bahan bakar fosil tahun ini kemungkinan besar terjadi karena penggunaan minyak bumi dan batu bara meningkat – khususnya minyak bumi karena industri penerbangan kembali bertumbuh.

Sementara, peningkatan emisi batu bara tahun ini adalah imbas dari kenaikan harga gas bumi, sekaligus karena pasokan gas yang seret. Ada juga kemungkinan (yang tidak terprediksi sebelumnya) bahwa emisi batu bara akan lebih tinggi dibandingkan 2014.

Sumber utama emisi CO2 lainnya berasal dari alih fungsi lahan – yang menekankan keseimbangan deforestasi dan reforestasi. Kami memprediksi, sekitar 3,9 miliar ton CO2 akan terlepaskan pada tahun ini. Namun, data emisi dari alih fungsi lahan lebih tidak menentu dibandingkan data emisi dari bahan bakar fosil.

Meski angka emisi dari alih fungsi lahan tetap tinggi, kita menyaksikan trennya sedikit menurun sejak dua dekade silam. Ini kemungkinan besar terjadi karena reforestasi yang meningkat, karena angka deforestasi di tingkat global masih cukup tinggi.

Secara kumulatif, bahan bakar fosil dan alih fungsi lahan bertanggung jawab atas pelepasan 40,6 miliar ton emisi CO2.

Emisi CO₂ dari bahan bakar fosil dan alih fungsi lahan (Gigaton CO₂ = miliar ton CO₂). Proyek Karbon Global 2022

Respons negara-negara di tengah kekacauan

Amerika Serikat dan India bertanggung jawab atas peningkatan emisi CO2 dari bahan bakar fosil tahun ini.

Emisi AS diprediksi meningkat 1,5%. Tahun ini, emisi dari migas lebih tinggi, tapi emisi batu bara tetap melanjutkan tren penurunannya.

Sedangkan emisi bahan bakar fosil dari India diprediksi meningkat 6%, kemungkinan karena naiknya penggunaan batu bara.

Sementara, emisi dari bahan bakar fosil di Cina dan Uni Eropa diprediksi menurun tahun ini, masing-masing sekitar 0,9 dan 0,8%.


Read more: PLTU fleksibel: solusi sementara Indonesia untuk mengurangi emisi batu bara, apa itu?


Penurunan emisi Cina kemungkinan terjadi karena kebijakan lockdown yang berlanjut, hingga meredam aktivitas perekonomian, termasuk di antaranya sektor konstruksi dan turunannya, sehingga turut menurunkan produksi semen.

Invasi Rusia ke Ukraina bakal berimbas pada penurunan emisi CO2 dari gas alam sebesar 10% di Uni Eropa. Ini terjadi karena kelangkaan pasokan gas dari Rusia. Namun, gangguan pasokan malah meningkatkan pembakaran batu bara, yang diprediksi meningkatkan emisinya hingga 6,7% di Eropa.

Belahan dunia lainnya, yang bertanggung jawab atas 42% emisi CO2 global dari bahan bakar fosil. Emisi ini diperkirakan tumbuh 1,7% pada 2022.

Di sektor alih fungsi lahan, Indonesia, Brazil, dan Republik Demokratik Kongo berkontribusi 58% atas emisi global.

Emisi CO₂ fosil global dari penghasil emisi teratas dan seluruh dunia, dengan perkiraan awal untuk tahun 2022 (GtCO₂ = miliar ton CO₂). Sumber: Friedlinsgtein et al. 2022; Proyek Karbon Global 2022.

Penyerapan karbon oleh alam semakin besar, tapi pemanasan tetap berlanjut

Lautan dan daratan berfungsi sebagai penyerap CO2 (carbon sinks). Laut menyerap CO2 yang terlarut dalam air. Di darat, tumbuhan menyerap CO2 ke dalam batang, cabang, daun, hingga tanah.

Karena itulah, penyerapan karbon oleh laut dan darat sangat penting untuk mengendalikan iklim global. Data kami menunjukkan, secara rata-rata, laut dan darat menyerap 50% emisi CO2 dari aktivitas manusia, seperti diskon 50% dari perubahan iklim.


Read more: Indeks risiko iklim terbaru tunjukkan sebanyak 90 persen spesies laut dalam bahaya


Meski kita mendapat ‘pertolongan’ dari alam, konsentrasi CO2 di atmosfer tetap saja naik. Pada 2022, konsentrasi CO2 diprediksi mencapai 417,2 parts per million (ppm). Angka ini naik sebesar 51% dibandingkan pada era praindustri, dan tertinggi sejak 800 ribu tahun silam.

Penyerapan CO2 semestinya semakin besar karena ada lebih banyak CO2 unntuk diserap. Namun, perubahan iklim (seperti pemanasan suhu, kenaikan cuaca ekstrem, dan perubahan sirkulasi laut) memperkecil kemampuan laut dan darat menyerap CO2, masing-masing sekitar 14 dan 14% selama 2012-2021.

Sungai berkelok-kelok melalui hutan
Carbon sink, seperti hutan hujan, menyerap setengah emisi CO₂ yang dilepaskan oleh aktivitas manusia. Ivars Utinans/Unsplash, CC BY

Ada kemajuan signifikan tahun ini dalam pengembangan energi terbarukan, kebijakan pembangunan, dan komitmen dari para pemerintah dan perusahaan untuk meningkatkan ambisi pengurangan emisi.

Kita harus segera mencapai kondisi bebas emisi untuk menjaga pemanasan global tak sampai 2°C pada akhir abad ini. Tetapi emisi besar-besaran yang dilepaskan umat manusia pada 2022 membuat tugas ini jadi semakin berat dan dan mendesak di masa depan.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 182,300 academics and researchers from 4,941 institutions.

Register now