Mengukur potensi penggunaan teknologi tersebut untuk penelitian perencanaan kota serta melihat tantangan yang dihadapi. www.shutterstock.com

Penggunaan drone dalam penelitian perencanaan kota di Indonesia

Sejak pertama kali istilah drone diperkenalkan di Inggris tahun 1944, teknologi kendaraan udara tanpa manusia tersebut kini akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.

Awalnya drone memang digunakan sebagai alat militer. Baru pada tahun 2000-an,penggunaan drone sipil meluas.

Saat ini, orang-orang menggunakan drone tidak hanya sebagai alat dokumentasi di tempat wisata, tapi juga alat pemantauan lalu lintas, bencana dan pengantaran barang.

Penggunaan teknologi drone di Indonesia juga beragam, mulai dari kebutuhan wisata, pemantauan bencana dan lalu lintas.

Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, penerapan teknologi drone sangat bermanfaat untuk pemetaan daerah. Dengan keunggulan drone, saya mengukur potensi penggunaan teknologi tersebut untuk penelitian perencanaan kota serta melihat tantangan yang dihadapi.

Penggunaan drone dalam penelitian perencanaan kota

Aspek perencanaan kota meliputi banyak aspek. Ketika merencanakan kota, kita harus memikirkan sejumlah bidang terkait dengan keberlanjutan kota seperti transportasi, perumahan, budaya, pariwisata, bencana alam, pertanian dan sebagainya.

Pada dasarnya, perencanaan yang baik haruslah didasarkan pada penelitian.

Penggunaan drone dalam perencanaan kota dianggap penting karena membantu meningkatkan kualitas penelitian yang akan dijadikan bahan dasar untuk perencanaan kota dan wilayah.

Sejumlah kasus penerapan drone dalam penelitian perkotaan sudah diterapkan di negara lain.

Contohnya, Caroline M. Gevaert di Universitas Twente di Belanda menemukan beberapa manfaat dari penggunaan drone dari proyek penelitiannya tentang permukiman informal di Rwanda di Afrika. Menurut dia, kelebihan penggunaan drone dalam penelitiannya antara lain adalah kualitas gambar yang lebih tinggi dan adanya informasi tambahan dari data yang dihasilkan seperti data elevasi.

Karena kelebihannya, baru-baru ini, seorang profesor arsitektur lanskap dan perencanaan lingkungan di Universitas Negeri Utah yang bernama Keunhyun Park, dengan rekan penelitinya, menganjurkan agar drone digunakan seperti alat pemantauan yang andal bagi pejalan kaki dan pengguna taman di samping pemantauan yang dilakukan mata telanjang. Berdasarkan data yang dikumpulkan dengan drone berteknologi canggih tersebut, pemerintah dapat melakukan intervensi spasial yang tepat.

Penggunaan drone dalam penelitian di Indonesia

Untuk pemetaan kota, alat digital yang selama ini digunakan pemerintah adalah Google Maps, OpenStreetMap, sistem informasi geografis (GIS) dan penginderaan jarak jauh. Tapi hasil yang berbeda dari setiap alat dan perbedaan interpretasi dari data-data yang ada menyebabkan persoalan baru.

Akibatnya, pemerintahan Joko “Jokowi” Widodo meresmikan Kebijakan Satu Peta untuk penyelesaian tumpang tindih pemanfaatan lahan. Luasnya tumpang tindih pemanfaatan lahan telah menyebabkan tingginya konflik lahan di Indonesia. Hingga bulan Mei 2018, Kantor Staf Presiden menerima 334 kasus konflik agraria yang melibatkan lebih dari 96.000 kepala keluarga dengan total lahan konflik seluas 233.000 hektar.

Geoportal Kebijakan Satu Peta yang diluncurkan Badan Informasi Geospasial baru-baru ini pada akhir tahun lalu merupakan hasil pertama untuk menyeragamkan beragam peta resmi yang ada di atas menjadi satu versi peta dasar.

Dalam upaya menyelesaikan konflik tanah yang ada, Yayasan Institut Sumber Daya Dunia Indonesia (WRI Indonesia) merekomendasikan penggunaan teknologi terkini yang mudah dan murah untuk menciptakan peta yang lebih rinci dengan cara lebih transparan dan melibatkan semua pihak. Drone adalah salah satu teknologi tersebut.

Drone dapat berperan dalam melaksanakan kebijakan pemerintah untuk memperbaiki kualitas informasi spasial. Di samping penggunaan gambar satelit dari Google Maps atau dengan GIS, kita dapat menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi secara real-time dengan memakai drone.

Selain itu, pemodelan 3D bangunan dan wilayah juga bisa dilakukan dengan gambar berbasis drone. Deni Suwardhi, dosen Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, sudah berhasil memanfaatkan drone untuk pemodelan 3D Candi Borobudur. Dalam proyeknya, Deni bekerjasama dengan Balai Konservasi Borobudur untuk melakukan dokumentasi digital.

Semakin banyak akademisi di berbagai universitas dan lembaga swadaya masyarakat memulai menggunakan drone dalam penelitian dan proyek mereka untuk mendukung pemerintah maupun masyarakat.

Contohnya, Yayasan Caritra atau yang dikenal dengan Housing Resource Center (HRC) telah memakai drone dalam beberapa program dan proyek penelitian tentang penyusunan profil kampung dan revitalisasi pascabencana.

Menurut perwakilan dari HRC Mahditia Paramita dalam sebuah wawancara yang saya lakukan untuk menyusun kurikulum drone di Indonesia, penggunaan drone sangat berguna untuk menghasilkan data yang lebih tepat melalui tampilan udara. Tanpa drone, menurutnya proses pemetaannya akan sulit karena banyak area yang jauh dan terpencil.

Irenda Radjawali, analis geospasial dan peneliti di Institut Studi Oriental dan Asia di Universitas Bonn, Jerman, juga pernah memakai drone untuk memetakan tanah adat di Pulau Kalimantan untuk melindungi hak-hak tanah dari upaya penggundulan hutan dan perkebunan.

Tantangan mengajar penerapan drone dalam perencanaan kota

Namun, walaupun penggunaan drone dalam penelitian perencanaan kota dan wilayah sudah semakin banyak, kelas untuk mengajar bagaimana menggunakan drone untuk tata kota masih berada dalam tahap awal. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat.

Salah satu tantangannya adalah penggunaan pendekatan interdisipliner antar ilmu termasuk geografi, teknik geodesi dan teknik sipil.

Saat ini belum ada mata kuliah resmi untuk drone dalam jurusan tata kota dan wilayah di universitas-universitas Indonesia.

Untuk mengisi kekosongan ini, banyak situs kuliah online yang ditawarkan gratis untuk mempelajari teknik pengoperasian drone. Namun, perlu ada kurikulum yang lebih khusus untuk mahasiswa perencanaan kota dan wilayah.

Departemen Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada baru mulai menawarkan seminar intensif tentang penggunaan drone dalam penelitian di mana saya menyusun kurikulum itu dan mengajarkannya. Semoga seminar tersebut menjadi langkah awal untuk merintis penggunaan teknologi drone dalam perencanaan tata kota.

Mahasiswa di Universitas Gadjah Mada belajar cara menyiapkan drone sebelum menerbangkannya. Jaehyeon Park