Kurangnya akses terhadap air minum bersih dan aman tampaknya juga turut mendorong kebiasaan negatif anak - anak mengonsumsi minuman manis. www.shutterstock.com

Survei: Anak-anak Indonesia beralih ke minuman manis ketika tidak ada akses air minum bersih

Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Anak Nasional Indonesia tanggal 23 Juli.


Anak-anak berhak untuk mendapatkan air minum yang bersih dan aman. Walaupun demikian, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tidak semua anak mampu mendapatkan akses air minum yang bersih dan aman.

Survei terbaru menunjukkan bahwa masalah akses air minum dapat mendorong anak-anak untuk mengkonsumsi minuman manis yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka.

Organisasi non-profit Project Child Indonesia melakukan survei terhadap 272 responden di 10 sekolah dasar di Yogyakarta dan Fakfak, Papua Barat. Survei menunjukkan bahwa sepertiga dari mereka memilih untuk mengkonsumsi minuman manis karena mereka kesulitan mendapatkan akses air minum di sekolah.

Jebakan manis

Konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko anak mengalami (obesitas, resistensi insulin, dan gigi berlubang).

Gencarnya iklan minuman manis dan berwarna juga turut berperan besar dalam mempengaruhi anak-anak mengkonsumsi minuman tersebut.

Kurangnya akses terhadap air minum bersih dan aman tampaknya juga turut mendorong kebiasaan negatif anak-anak mengonsumsi minuman manis. Karena kurangnya akses terhadap air minum bersih, harga air mineral kemasan bisa sama atau lebih mahal dibandingkan dengan minuman manis dan berwarna. Harga air minum dalam botol di Fakfak lebih mahal dua kali lipat daripada harga air minum dalam kemasan di Surabaya, Jawa Timur.

Solusi: menyediakan filter air minum di sekolah.

Project Child Indonesia melaksanakan survei dengan peneliti independen di Yogyakarta dan Fakfak tahun 2019 sebagai salah satu dasar untuk menyediakan air minum yang aman dan bersih di kedua kota tersebut.

Di Indonesia, sebuah penelitian oleh Project Child Indonesia menyatakan dari lebih 270.000 sekolah dasar di Indonesia, hanya sedikit yang menyediakan akses air minum gratis, bersih, dan aman bagi siswa-siswinya.

Kami percaya bahwa kondisi yang terjadi di Papua jauh lebih buruk karena lokasi geografis Papua yang terletak di paling timur dan ekonominya paling tertinggal dibanding daerah lain di Indonesia. Survei Sosial Ekonomi Nasional Indonesia pada tahun 2015 menunjukkan bahwa akses terhadap air minum masih kurang di Papua, walaupun terdapat kemajuan di Pulau Jawa dan Bali. Fakta ini menunjukkan bahwa anak-anak di Papua sangat kekurangan akses pada air minum bersih dan aman dibandingkan dengan daerah lainnya.

Sekolah-sekolah di Papua juga tidak menyediakan pendidikan yang cukup pada bidang lingkungan dan kesehatan yang berdampak pada minimnya pengetahuan anak-anak tentang kesadaran mengenai pentingnya konsumsi air minum bersih dan aman.

Dari tantangan tersebut, kami menyediakan instalasi penyaring air minum di delapan sekolah dasar di Fakfak, Papua Barat. Penyaring air minum ini merupakan infrastruktur yang sangat penting karena air minum bersih dan aman masih merupakan komoditas yang mahal di sana.

Adanya filter air minum di sekolah dapat membantu anak-anak di Papua untuk mendapatkan air minum yang lebih murah karena filter air ini dapat menyaring suplai air mentah dari air hujan atau dari PDAM. Sebelum dikonsumsi, air mentah dari kedua sumber tersebut perlu disaring untuk menghilangkan zat-zat kimiawi.

Kami juga merancang kampanye untuk membangun kebiasaan meminum air bersih dan aman. Kami mendirikan Komite Air Sekolah yang melibatkan orang tua murid, guru serta perwakilan dari komunitas lokal.

Komite tersebut bekerja bersama komunitas lokal seperti Fakfak Mengajar dan Kitong Bisa untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan program.

Dalam proyek ini, kami juga bekerja dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa usaha kolektif oleh berbagai macam pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa anak-anak dapat memiliki akses terhadap air minum bersih dan aman.


Muhammad Abie Zaidannas Suhud, Direktur Kerjasama Project Child Indonesia, turut berkontribusi dalam artikel ini

This article was originally published in English