Menu Close

9 bulan pandemi: mengapa penting menemukan makna hidup di tengah penderitaan akibat COVID-19

Relawan Satuan Tugas Jaga Tangga RW mengantar makanan untuk 106 warga yang menjalani karantina di Bumi Laweyan, Solo, Jawa Tengah, 27 Oktober 2020. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/hp

Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian tulisan ‘Sembilan Bulan Pandemi COVID-19 di Indonesia’.


Pandemi COVID-19 di Indonesia telah melewati sembilan bulan dan belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Sepanjang waktu ini, banyak orang - baik orang yang terinfeksi virus corona maupun mereka yang berisiko terinfeksi dan orang-orang yang terdampak dalam berbagai sektor kehidupan - mengalami depresi dan kecemasan.

Seseorang yang dikonfirmasi positif terinfeksi COVID-19 awalnya mengalami berbagai perasaan negatif seperti tidak percaya, marah, menolak, bahkan mungkin depresi.

Sebuah riset menunjukkan depresi saat pandemi naik tiga kali lipat dibanding sebelum masa pandemi. Riset lainnya juga berkesimpulan kecemasan dan depresi juga dialami oleh para penderita penyakit seperti jantung dan darah tinggi yang menunda ke rumah sakit karena keadaan pandemi COVID-19.

Walau tidak mudah, kita perlu menemukan makna hidup di tengah keadaan pandemi. Makna hidup ini akan mendorong kita tetap produktif walau ada banyak hambatan dan kesulitan.

Petugas memasak di dapur umum Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Kota Yogyakarta di Umbulharjo, Yogyakarta, 2 Oktobe 2020. Mereka memasak dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan makanan pasien isolasi COVID-19 di rumah susun Bener Yogyakarta. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/pras.

Logoterapi, terapi makna hidup

Salah satu teori psikologi yang kerap dipakai untuk terapi menemukan makna hidup di tengah penderitaan adalah logoterapi (penyembuhan). Teori dari Viktor E Frankl ini menyediakan panduan untuk menjalani hidup secara bermakna meski dalam penderitaan.

Viktor Frankl, psikiater berkebangsaan Austria, menemukan logoterapi tersebut saat ia berada di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz Polandia. Kamp konsentrasi seolah menjadi “laboratorium hidup” karena fasilitas sangat minim, manusia dalam keadaan kelaparan, dan sakit.

Salah satu kegiatan rutin para tahanan adalah kerja paksa seperti memasang rel kereta api bahkan mengubur mayat-mayat sesama tahanan. Frankl sebagai dokter psikiatri, selain ditugaskan di poliklinik juga menjalani kerja paksa seperti tahanan lainnya.

Berdasarkan pengalaman penderitaan tersebut, Frankl menyatakan meski dalam penderitaan dan tak dapat melihat indahnya dunia, masih tersisa sesuatu yang memberi makna pada eksistensi manusia: memikul penderitaan hidup dengan penuh keberanian dan harga diri.

Frankl, korban yang selamat dari penyiksaan itu, menyaksikan ada dua kecenderungan manusia dalam menghadapi situasi kamp konsentrasi. Kelompok pertama, mereka berperilaku serakah, beringas, mementingkan diri dan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Mereka putus asa dan bahkan bunuh diri saat menghadapi penderitaan.

Sebaliknya ada kelompok kedua yang berperilaku seperti orang kudus. Dalam puncak penderitaan, mereka masih dapat membagikan makanan, membantu sesama tahanan, merawat orang sakit, berbagi kue terakhir, menghibur mereka yang putus asa, dan mendoakan sesama tahanan yang menanti ajal.

Logoterapi dapat membantu seseorang melakukan hal yang bermakna, bahkan jika ia meninggal, ia akan pergi selamanya dengan perasaan berharga.

Hal serupa bisa terjadi pada masa isolasi pasien COVID-19 baik di rumah sakit maupun rumah. Mereka dalam kesendirian, tidak boleh menerima kunjungan, bahkan seandainya meninggal pun dalam kesendirian. Hal ini sangat mencekam dan menakutkan bagi orang yang tidak siap menghadapinya.

Dengan pendekatan logoterapi, walau sedang terinfeksi COVID dan terisolasi, tidak ada yang dapat merenggut kebebasan manusia untuk memaknai hidup. Pemaknaan hidup dapat bersumber dari spiritualitas, cinta, seni dan kreativitas.

Hal ini memungkinkan seseorang dapat menghargai kehidupannya dengan hal-hal positif yang akan membawanya pada kesadaran bahwa hidup begitu berharga dan inilah saatnya menghargai kehidupan. Ia akan mengisi hidupnya dengan hal yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain.

Misalnya, Bima Arya, Wali Kota Bogor, yang terinfeksi virus corona pada awal-awal wabah Maret lalu dan menjalani isolasi selama 22 hari di rumah sakit. Selain mengupayakan kesembuhannya, ia juga menulis pengalamannya dalam bentuk buku Positif! yang dapat dibaca dan menambah wawasan masyarakat.

Pemaknaan serupa bisa dilakukan oleh mereka yang kehilangan pekerjaan atau harus bekerja dari rumah, siswa yang harus belajar online, maupun mereka yang kehilangan anggota keluarga, atau yang bisnisnya surut akibat pandemi.

Cara memaknai penderitaan

Bagaimana cara menemukan hidup bermakna di tengah penderitaan?

Hal yang ditekankan dalam logoterapi adalah manusia memiliki hasrat untuk hidup bermakna dan manusia dapat menemukan makna hidup. Kedua hal itu memotivasi seseorang untuk mencapai kehidupan bermakna.

Prinsip pertama logoterapi adalah hidup tetap memiliki makna dalam setiap situasi bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Apabila makna hidup berhasil ditemukan, maka hidup menjadi berarti dan rasa bahagia menyertai.

Seseorang yang dapat menemukan makna hidup akan terhindar dari rasa putus asa dan berani menghadapi berbagai tantangan hidup. Misalnya sebuah riset menunjukkan ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga memaknai hidupnya dengan terus bertekun dalam tujuan hidup yaitu bertahan untuk membesarkan anaknya sebagai upaya memperoleh hidup bermakna.

Prinsip kedua, setiap manusia memiliki kebebasan yang ‘tak terbatas’ untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup tidak diberikan oleh siapapun.

Makna hidup dapat ditemukan sendiri oleh setiap orang yang bersumber pada nilai dan penghayatan seperti pekerjaan dan karya bakti yang selama ini telah dilakukan. Seseorang juga memiliki kreativitas dan kekhasannya untuk dapat memberikan diri kepada sesama. Dalam kreativitas dan kekhasannya, seseorang tak dapat digantikan orang lain.

Keyakinan terhadap harapan dan kebenaran memungkinkan manusia tidak putus asa dan terus mencari kebenaran. Penghayatan atas keindahan, iman, dan cinta kasih akan terwujud dalam tindakan nyata yang menjadikan hidup berharga bagi dirinya, keluarga, sesama, dan ciptaan lainnya.

Prinsip terakhir, ketika manusia tidak mungkin mengubah keadaan tragis, manusia dapat mengubah sikap terhadap keadaan itu. Manusia sering kali tidak dapat mengendalikan apa yang akan menimpanya, tetapi manusia dapat mengontrol dirinya dalam bersikap.

Misalnya, sebuah riset menyatakan keluarga dapat meraih hidup bermakna meski salah satu anggota keluarga mengalami gangguan jiwa. Riset lainnya menunjukkan perempuan yang telah didiagnosis tertular HIV juga dapat meraih hidup bermakna.

Mereka tabah menjalani hidup, tidak kehilangan harapan, dan kehormatan diri. Mereka mengalami penderitaan luar biasa, tapi kepribadian tetap utuh dan berupaya menghayati hidup secara bermakna sehingga manusia menuju puncak eksistensi.

Meraih makna hidup

Berbagai situasi penderitaan akibat COVID-19 tidak dapat dihindarkan. Namun tak dapat dipungkiri bahwa berbagai terobosan baru muncul sebagai buah dari sikap positif terhadap situasi pandemi. Meski tidak mudah dan bahkan memerlukan pengorbanan, telah tercipta berbagai realitas baru yang mengagumkan.

Misalnya, muncul kreativitas dalam karya dan pekerjaan. Dunia pendidikan, memakai media pembelajaran online yang menciptakan pendidikan yang menarik dan penuh kejutan.

Pekerja seni yang mampu mencipta karya virtual dan menghibur secara virtual. Penyedia layanan barang dan jasa yang menyelesaikan transaksi dan pengiriman barang dalam genggaman handphone.

Ada juga harapan yang senantiasa terpelihara dengan berbagai perbuatan baik yang diupayakan oleh banyak orang. Para pemuka agama yang menebar kesejukan dengan seruan ke umat untuk beribadah di rumah, para ilmuwan yang terus berupaya menemukan obat dan juga para pemimpin masyarakat yang dengan tulus dan kerja keras mengupayakan keselamatan rakyatnya.

Lahir solidaritas antarmanusia yang tumbuh di kalangan masyarakat dan diupayakan oleh banyak pihak termasuk petugas medis yang tak menyerah untuk menyelamatkan jiwa. Kita masing-masing berjuang dan bertekun pada tujuan hidup dan nilai luhur sehingga hidup lebih bermakna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bahkan bagi bangsa dan negara.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,800 academics and researchers from 3,852 institutions.

Register now