Menu Close
Pavla Fenwick, Author provided

Antroposen mulai 1965, berdasarkan tanda dari “pohon paling kesepian” di dunia

Di Pulau Campbell di Lautan Selatan, sekitar 644 kilometer di selatan Selandia Baru, terdapat sebatang pohon cemara Sitka. Berdiri dengan jarak 274 kilometer lebih dari pohon lain mana pun, pohon Sitka itu dijuluki sebagai “pohon paling kesepian di dunia”.

Ditanam pada awal abad ke-20 oleh Lord Ranfurly, Gubernur Selandia Baru, kayu pohon itu merekam radiokarbon yang ditimbulkan oleh uji coba bom atom di atas permukaan tanah. Lapisan-lapisan tahunan (galih) pohon itu menunjukkan sebuah puncak pada 1965, tepat setelah uji coba nuklir dilarang. Jadilah pohon itu memberi kita penanda potensial bagi bermulanya Antroposen (abad manusia).

Mengapa 1965? Era 1960-an adalah dekade yang selamanya diasosiasikan dengan gerakan hippie dan kelahiran environtalisme modern, era matahari bersinar terang saat pendaratan Apollo di Bulan memberi kita citra ikonik sebuah planet yang rapuh dengan latar permukaan bulan yang gersang. Itulah dekade ketika dunia mengalami globalisasi dengan cepat, berikut pesatnya industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi yang mendorong ekspansi populasi dan peningkatan besar-besaran dampak kita terhadap lingkungan hidup.

Periode pasca-perang ini disebut “Akselerasi Besar”. Oleh karena itu, pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah apakah perubahan langkah dalam aktivitas manusia ini meninggalkan tanda tak terhapus pada planet kita. Sebuah tanda yang, jika kita musnah hari ini, akan meninggalkan guratan permanen dalam rekaman geologis.

Jika jejak-jejak uji coba nuklir bisa ditemukan bahkan di Pulau Campbell, bisa dipastikan bom itu punya dampak yang benar-benar global. Turney et al, Author provided

Konsep tentang zaman geologis yang didominasi manusia sudah ada sejak abad ke-19, tapi ide bahwa kita sudah menciptakan sebuah Antroposen belakangan ini menjadi semakin populer walau sebetulnya perubahan-perubahan global yang tidak “alami” sudah lama terjadi. Sesungguhnya, sudah lama manusia memberikan dampak terhadap planet ini di tingkat lokal dan bahkan kontinental, tapi skala perubahan modern sedemikian besar hingga para geolog merasa perlu mempertimbangkan bukti bagi pengakuan secara resmi Antroposen dalam skala waktu geologi.

Mereka menyodorkan tantangan besar kepada masyaraat ilmiah untuk menemukan penanda lingkungan berskala global atau “golden spike” yang merepresentasikan perubahan krusial ini.

Uji coba nuklir ‘Small boy’ di Nevada, Juli 1962. US National Nuclear Security Administration

Pesaing utama bagi pendefinisian permulaan zaman Antroposen adalah puncak dalam unsur-unsur radioaktif yang dihasilkan oleh uji coba bom termonuklir di atas permukaan tanah, yang kebanyakan dilakukan pada puncak Perang Dingin pada awal 1960-an. Yang menjadi persoalan, dari sudut pandang seorang geolog, adalah sebagian besar rekaman puncak radioaktivitas (misalnya yang tersimpan dalam sedimen danau dan lingkaran pertumbuhan tahunan pohon) dilaporkan dari Belahan Bumi Utara di mana mayoritas uji coba nuklir dilakukan.

Untuk menunjukkan sebuah dampak manusia yang benar-benar global dibutuhkan tanda dari lokasi terpencil dan perawan di Belahan Bumi Selatan yang muncul pada waktu yang sama dengan di utara. Di sinilah studi baru kami berperan.

Mengambil sampel dari Pohon Paling Kesepian di Dunia

Dalam jurnal Scientific Reports kami menerbitkan sebuah rekaman baru yang mengidentifikasi tanda radioaktif yang diambil tepat dari jenis tempat yang dimaksud: Pulau Campbell, sebuah properti langka di Lautan Selatan.

Selama Australasian Antarctic Expedition 2013-2014 kami mengambil sampel ilmiah di seluruh pulau untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang skala perubahan lingkungan di lokasi paling terpencil ini. Pohon cemara Sitka soliter itu berdiri di bagian selatan pulau. Spesies ini tumbuh alami di sepanjang pesisir barat Amerika Utara mulai dari Alaska hingga California—ia ada di Belahan Bumi Selatan karena ditanam manusia.

Tingkat radiokarbon yang terekam di Pulau Campbell berpuncak pada akhir 1965. Turney et al, Author provided

Kendati demikian, pohon Pulau Campbell itu tumbuh dengan sangat baik—rata-rata lima hingga sepuluh kali lebih cepat dari semak-semak asli yang tumbuh di sekitarnya—yang memberi kami banyak data untuk dikerjakan. Analisis detail terhadap pertumbuhan tahun demi tahun pohon itu menunjukkan memuncaknya unsur-unsur radioaktif terjadi antara Oktober dan Desember 1965, bertepatan dengan tanda yang sama di Belahan Bumi Utara.

Pohon cemara ini menunjukkan dengan tegas bahwa manusia meninggalkan dampak di planet ini, bahkan di lingkungan paling perawan ini, yang akan disimpan dalam rekaman geologis selama sepuluh milenia lebih.

Tampaknya penelitian kami akan menghidupkan kembali perdebatan seputar kapan manusia benar-benar menjadi superpower geologis. Perlukah kita mendefinisikan Antroposen menurut saat manusia menciptakan teknologi yang membuat dirinya punah itu? Jika perlu, berarti tanda bom nuklir yang terekam di pohon paling kesepian di planet itu menunjukkan bahwa Antroposen bermula pada 1965.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 135,500 academics and researchers from 4,195 institutions.

Register now