File 20170829 10449 1yqk8nb.jpg?ixlib=rb 1.1

Apakah anak umur 4 tahun bisa jadi seksis?

Anak-anak di Yogyakarta. Anak-anak sudah terpapar dengan perbedaan gender dan ekspektasi sejak mereka lahir. Evantravel/Shutterstock

Apakah anak umur 4 tahun bisa jadi seksis?

Pemerintah negara bagian Victoria di Australia mengumumkan rencana pengajaran program Hubungan Saling Menghormati kepada anak-anak prasekolah, demi mencegah anak-anak usia 3 dan 4 tahun berperilaku seksis.

Program ini—sudah berjalan untuk remaja di sekolah—secara umum membahas isu kekerasan dalam keluarga dan dirancang untuk mengembangkan kemampuan sosial anak dan remaja sehingga mereka bisa memiliki hubungan yang saling menghormati.

Alasan program ini diperluas ke lingkungan prasekolah, menurut dokumen pemerintah, adalah

ketika anak-anak mulai belajar soal gender, mereka juga bisa saja mulai menjalankan nilai-nilai, keyakinan, dan sikap seksis, yang mungkin berkontribusi pada sikap saling tidak menghormati dan ketidaksetaraan gender.

Tetapi, apakah anak-anak usia semuda itu bisa seksis? Kapan sebenarnya anak-anak mulai sadar akan perbedaan gender—dan apa yang membuat mereka bersikap berdasar perbedaan itu?

Kapan anak-anak mulai sadar perbedaan gender?

Para peneliti menunjukkan bahwa saat anak berusia setahun (dan di penelitian lain bahkan sedini usia 3 bulan) anak-anak telah menunjukkan preferensi mainan yang konsisten dengan gender mereka (mis. truk untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan). Ini terjadi bahkan jika mereka hanya terpapar dengan mainan yang netral dari segi gender, atau bisa mengakses baik mainan “laki-laki” maupun “perempuan”.

Lantas, apa ini berarti anak semuda 3 bulan sudah sadar gender?

Tidak. Sebelum berumur kira-kira 3 tahun, anak-anak tidak paham identitas gender. Tetapi bahkan saat mulai paham pun, pemahaman mereka samar-samar saja.

Pada usia ini, ada anak-anak yang masih bingung soal gender—misalnya seorang anak perempuan berpikir dia akan tumbuh menjadi laki-laki, atau seorang anak laki-laki yang memanggil ibunya dengan sapaan untuk laki-laki (him).

Tetapi, kemunculan identitas dasar gender membantu kita menjelaskan mengapa pada usia 3 tahun anak-anak lebih memilih teman yang sama jenis kelaminnya dan terlibat dalam permainan yang diasosiasikan dengan gender tertentu.

Para peneliti mengatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa anak-anak mengerti perbedaan gender dan mereka sadar mereka lebih “cocok” dengan satu gender dibanding yang lain.

Pemahaman gender yang konstan—yaitu mengerti bahwa menjadi laki-laki atau perempuan adalah atribut pribadi yang tetap—tidak akan terbentuk secara lengkap hingga usia enam atau tujuh.

Pemahaman konstan akan gender terbentuk sebagai bagian dari perkembangan kognitif (kemampuan yang memungkinkan anak-anak mengerti konsep abstrak seperti gender), juga sebagai bagian pembelajaran mengenai ekspektasi sosial soal perilaku mereka. Psikolog menyebut ini sebagai “sosialisasi”.

Dua anak perempuan di desa Yenbuba, Pulau Mansuar, Papua Barat. Mulai usia 3 tahun, anak-anak lebih memilih bermain bersama teman berjenis kelamin sama. Michal Knitl/Shutterstock.com

…dan tentang perbedaan gender serta ekspektasi?

Hanya sedikit orang di Australia berpikir mereka mendorong permainan atau perilaku stereotip gender di anak-anak. Tapi ungkapan “lakukan seperti yang aku katakan, bukan seperti yang aku lakukan” cocok untuk menjelaskan perihal ini.

Anak-anak meniru perilaku orang-orang yang mereka anggap teladan dalam hidup: orang tua, pengasuh, dan guru.

Ini khususnya lebih berpengaruh ketika sang teladan berjenis kelamin sama. Anak perempuan lebih mungkin meniru orang dewasa perempuan dan anak laki-laki orang dewasa laki-laki.

Maka, meski kita mengatakan “anak perempuan bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan anak laki-laki”, jika mereka melihat hanya bapak yang mengurus mobil atau motor sementara ibunya tidak, maka kata-kata tidak akan terlalu berpengaruh.

Kejadiannya bukan seolah orang tua suatu hari bangun dan memutuskan “hari ini saya akan menunjukkan pada anak saya dengan jelas apa ekspektasi gender saya”. Yang terjadi tidak sedramatis itu.

Kenyataannya kita memperkuat perbedaan gender dan ekspektasi setiap hari tanpa sengaja, melalui proses belajar dan pengamatan.

Pikirkan hidup Anda sendiri. Adakah pekerjaan rumah tangga yang sepertinya khas gender tertentu? Membuang sampah, menyetrika, dan memasak, misalnya.

Saya ragu Anda sungguh pernah duduk membahas pemilahan pekerjaan berdasar gender. Mungkin ini perkara “kebiasaan”. Anda tak pernah sungguh-sungguh mempertanyakannya—sama dengan ekspektasi gender di kalangan anak-anak.

Anak-anak terpapar perbedaan gender dan ekspektasi sejak lahir. Sejalan dengan waktu, informasi ini diinternalisasi dan menjadi dasar pemahaman mereka tentang bagaimana dunia bekerja. Sementara, pemahaman dini mengenai perbedaan gender dan ekspektasi muncul sejak usia 3 tahun.

Mendorong proses ini adalah cara kita (kerap tanpa sengaja) memperkuat perilaku berdasar gender, misalnya mendukung perilaku yang kita pikir sesuai dengan gender masing-masing (mis. memuji anak laki-laki yang tidak menangis ketika kesakitan), dan melarang perilaku yang kita pikir tidak sesuai gender (mis. melarang anak perempuan koprol).

Ini artinya, ketika mereka berusia 6 atau 7 tahun—saat pemahaman konstan mereka tentang gender terbentuk lengkap—pemahaman mereka mengenai perbedaan gender dan ekspektasi telah mapan terbentuk.

Anak-anak adalah pembelajar yang cepat, bahkan saat kita tidak sadar bahwa ada proses pembelajaran yang terjadi.

Yang membuat lebih rumit adalah anak-anak menyaring informasi menurut apa yang masuk akal di otak mereka.

Sepeda pink=mainan anak perempuan? from www.shutterstock.com

Di usia 3 sampai 4 tahun, anak-anak masih berpikir “hitam putih"—hal-hal baik atau buruk, benar atau salah. Artinya untuk gender pun mereka berpikir "perempuan atau laki-laki”, dan mengelompokkan dunia mereka (mis. mainan, pakaian aktivitas) sesuai dengan itu.

Jika model pemikiran seperti ini dipertunjukkan orang dewasa, yang pola berpikirnya lebih fleksibel—mereka sudah bisa melihat nuansa abu-abu—maka ini bisa dikatakan seksis. Pada anak usia dini, ini normal.

Pada dirinya sendiri, ia bukan masalah tapi merupakan proses perkembangan normal. Masalah akan muncul ketika ekspektasi gender dan perbedaan gender mengarah pada ketidaksetaraan gender.

Ketidaksetaraan gender telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kekerasan yang berbasis gender.

Para pendukung program Hubungan Saling Menghormati mengatakan ini alasan mengapa programnya penting.

Dengan menyediakan lingkungan di mana kesetaraan gender diajarkan dan dicontohkan, maka keyakinan mengenai gender dan perbedaan gender bisa diubah untuk mendukung hubungan yang lebih saling menghormati sejak dini. Pada gilirannya, ini akan menurunkan risiko perilaku seksis dan kasar di kemudian hari.

Jika kita membahas tentang mendidik anak umur 4 tahun soal ini, maka urusannya lebih banyak soal apa yang mereka lihat ketimbang apa yang kita katakan.

Mereka tak perlu tahu apa itu sikap seksis—bahkan mereka pun tak akan paham jika Anda mencoba menjelaskan.

Yang penting adalah kita mendorong rasa hormat pada semua, tanpa membuat proses perkembangan normal seolah penyakit. Boleh-boleh saja anak laki-laki ingin bermain dengan anak laki-laki, dan anak perempuan dengan anak perempuan; tak masalah anak laki-laki main truk, dan anak perempuan main boneka. Ini bukan seksis, ini bagian normal dari perkembangan.

Lantas, apa anak kecil bisa sengaja seksis?

Kenyataan bahwa anak umur 4 tahun memiliki pemahaman dasar tentang perbedaan gender dan ekspektasi, dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan ini, tidak sama dengan sengaja bersikap seksis. Ini hanya mencerminkan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka mampu pahami.

Mereka hanya berusaha memahami bagaimana dunia bekerja dan bagaimana bisa menyesuaikan diri—bukan untuk menyakiti atau mengecilkan orang lain.

Kita hidup di dunia di mana tindakan lebih berarti daripada kata-kata. Jadi, bukan apa yang Anda katakan yang akan membentuk ekspektasi gender anak Anda. Jadilah teladan dan doronglah kesetaraan gender.

Saat usia 4 tahun mereka mungkin belum tahu apa itu perilaku seksis, tapi dengan teladan yang tepat, peluang mereka berperilaku seksis di usia 14 akan lebih kecil.

This article was originally published in English