Menu Close
Siswa menjalani pemeriksaan suhu badan sebelum mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) sistem daring di SMP Negeri-9 Banda Aceh, 22 Mei 2021. ANTARA FOTO/Ampelsa/wsj.

Apakah membuka sekolah di tengah penyebaran varian baru SARS-CoV-2 berbahaya?

Rencana pemerintah Indonesia membuka kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka (PTM) mulai Juli, di tengah kasus COVID yang belum turun drastis dan ada temuan setidaknya 54 kasus varian baru virus corona yang lebih ganas, perlu kita tinjau dengan kritis.

Sejumlah negara di Eropa yang membuka sekolah tahun lalu, kembali menutupnya karena tingginya penularan COVID varian baru pada siswa.

Penelitian terbaru di Inggris menunjukkan terjadinya peningkatan kerentanan pada anak-anak untuk terinfeksi virus penyebab COVID-19 varian baru B.1.1.7, yang kini telah menyebar di Indonesia.

Pemerintah perlu memikirkan ulang rencana tersebut. Beberapa sekolah yang sudah membuka atau sedang dalam tahap merencanakan pembukaan sekolah juga perlu menimbang lagi risiko-risiko kesehatan bagi siswa, guru, dan lingkungan.

Infeksi B.1.1.7 lebih menular pada anak

Pada 2 Maret 2021, Kementerian Kesehatan Indonesia mengumumkan 2 kasus pertama COVID-19 akibat varian B.1.1.7 di negeri ini. Varian B.1.1.7 yang ditemukan pertama di Inggris, telah terbukti lebih menular dan menyebabkan angka kematian 55% lebih tinggi.

Hingga 4 Mei 2021, telah dilaporkan total 13 kasus dengan varian B.1.1.7 di Indonesia. Angka ini diperkirakan jauh lebih rendah dari angka riil di lapangan karena kemampuan deteksi genomik kita yang belum aktual.

Studi terbaru di Inggris menemukan adanya peningkatan angka reproduksi (penularan) virus. Ini merupakan indikasi potensi penularan suatu virus pada kelompok anak-anak usia sekolah, pada saat varian B.1.1.7 menyebar.

Pada akhir Desember tahun lalu di Belanda, 123 (15%) orang positif COVID-19 dari 818 murid, guru, dan orang tua murid yang dites. Hasil pengurutan genomik menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka terinfeksi varian B.1.1.7.

Di Israel, varian B.1.1.7 ditemukan pertama pada Desember 2020 dan menjadi varian dominan pada Januari 2021. Proporsi kasus harian baru anak-anak berusia di bawah 10 tahun meningkat 23% sejak kemunculannya hingga beberapa rumah sakit khusus anak harus membuka ICU baru.

Sebelumnya, banyak penelitian membuktikan bahwa jika dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak tidak terlalu rentan terinfeksi galur murni virus penyebab COVID-19. Sebuah studi meta‐analysis menunjukkan bahwa apabila terjangkit, kasus COVID-19 pada anak termasuk ke dalam kategori tanpa gejala (20%), ringan (33%) atau sedang (51%). Namun varian baru telah meningkatkan risiko infeksi pada anak-anak.

Sekolah di Eropa kembali ditutup akibat varian B.1.1.7

Di Jerman, sekolah telah dibuka kembali pada pertengahan 2020.

Namun, sejak Desember 2020 sekolah kembali ditutup akibat kasus varian baru B.1.1.7 yang telah mendominasi 90% kasus COVID-19 di Jerman. Varian baru ini menyebabkan angka kasus baru infeksi lebih dari 165 per 100.000 penduduk.

Inggris, negara yang pertama kali melaporkan varian B.1.1.7, juga menutup kembali sekolah sejak Desember 2020 hingga waktu yang belum ditentukan.

Selain itu, negara-negara lain di Eropa seperti Denmark, Austria, Irlandia, Portugal, Belanda, dan Belgia juga menutup kembali sekolah untuk menekan penyebaran varian baru B.1.1.7., yang level penularannya tinggi pada anak-anak.

Panduan dari WHO sebelum buka kembali PTM di Indonesia

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan pedoman yang memuat hal-hal yang harus dinilai sebelum memutuskan membuka pembelajaran tatap muka.

Pedoman ini relevan dengan rencana Kementerian Pendidikan Indonesia membuka pembelajaran offline.

Pertama, kondisi epidemiologi COVID-19 di tiap daerah. Bagaimana pengendalian penularan lokal? Apakah persentase hasil positif dari total jumlah tes (percent positivite rate) di daerah tersebut di bawah 5%? Apakah Satuan Tugas Penanganan COVID-19 (Satgas COVID-19) tiap daerah mampu menganalisis epidemiologi dan surveillance genomik yang aktual? Apakah mampu untuk menganalisis varian apa yang tengah dominan di masyarakat?

Kedua, analisis risiko dan manfaat baik bagi tenaga pendidik maupun siswa-siswi. Kemampuan penularan COVID-19 dan analisis terkait varian apa yang dominan pada suatu daerah harus dilakukan untuk mengetahui risiko penularan.

Selain itu, dampak keseluruhan penutupan PTM pada siswa-siswi termasuk dampak pada hasil capaian belajar, dampak ekonomi, hingga dampak pada kesehatan fisik dan mental harus dinilai.

Ketiga, deteksi dan respons. Apakah Satgas COVID-19 daerah mampu bertindak dan mengambil keputusan dengan cepat apabila terdapat satu saja kasus positif COVID-19 akibat pembukaan kembali PTM? Apakah mampu untuk terbuka dan mengumumkan hasil tersebut ke masyarakat?

Keempat, kapasitas sekolah/institusi pendidikan untuk beroperasi dengan aman. Adakah fasilitas cuci tangan, sanitasi dan desinfektan yang cukup di sekolah? Bagaimana penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker dan pembatasan jumlah murid di kelas? Adakah sirkulasi udara yang terbuka? Adakah pemeriksaan rutin standar emas (tes swab PCR) baik pada tenaga pendidik maupun murid?

Kelima, kolaborasi dan koordinasi. Apakah sekolah bekerja sama dengan Satgas COVID-19 daerah setempat? Apakah sekolah bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan rutin dan lacak kontak?

Terakhir, penerapan protokol kesehatan yang ketat pada lingkungan di luar sekolah. Bagaimana anak-anak dan tenaga pendidik menerapkan protokol kesehatan di lingkungan luar sekolah?

Pertanyaan di atas harus dijawab oleh pemerintah pusat, daerah, dinas pendidikan dan dinas kesehatan, sekolah dan guru, serta orang tua. Sebagai peneliti epidemiologi, saya melihat keenam poin dalam panduan tersebut belum mampu diterapkan di Indonesia.

Vaksinasi guru dan dampaknya pada murid

Wacana membuka kembali kegiatan PTM di sekolah muncul setelah adanya rencana vaksinasi guru yang diharapkan rampung pada Juni 2021.

Program vaksinasi guru ini dilakukan oleh banyak negara di dunia sebagai upaya melindungi kesehatan dan keselamatan guru sehingga kegiatan PTM di sekolah dapat kembali dilakukan.

Harapannya, vaksinasi guru ini dapat membantu menekan penyebaran infeksi COVID-19 di sekolah. Namun, pemberian vaksin Sinovac hingga saat ini belum diketahui apakah mampu mencegah penyebaran virus varian baru SARS-CoV-2 di komunitas atau hanya mencegah individu bergejala berat apabila terinfeksi.

Selain itu, perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana virus corona varian B.1.1.7 menginfeksi anak-anak dan remaja serta berapa besar peran anak-anak dan remaja dalam penularan varian baru ini.

Ada baiknya orang tua kembali waspada akan kemungkinan penularan dan mengevaluasi kembali keputusan untuk anak berkegiatan dan kembali belajar offline di sekolah.

Opsi solusi blended learning

Masuknya varian baru dan dibukanya sekolah tanpa adanya vaksinasi anak akan menyebabkan kenaikan kasus COVID-19. Terutama jika transmisi lokal tidak terkendali yang ditandai dengan percent positive rate di atas 5%.

Jika kegiatan pembelajaran tatap muka tetap dimulai, maka pihak penyelenggara harus menyiapkan pembelajaran campuran (blended learning). Sekolah perlu memberi kebebasan anak dan orang tua untuk memilih metode pembelajaran luring (offline) atau daring (online).

Selain itu, dinas pendidikan dan sekolah perlu mencari inovasi baru dalam proses belajar mengajar. Misalnya, memanfaatkan belajar di ruang terbuka seperti taman, lapangan, atau sekolah di alam terbuka.

Keadaan ini memang sulit dan kita harus berhati-hati sebelum mengambil keputusan yang dapat menyebabkan risiko kesehatan anak-anak, guru, dan orang tua, bahkan kematian.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 128,600 academics and researchers from 4,060 institutions.

Register now