Apakah menjadi religius atau spiritual membuat Anda lebih beretika dalam bekerja?

Komunitas multi agama di India adalah sebuah contoh sempurna akan bagaimana berbagai kepercayaan melebur ke dalam etika bekerja. Ben Dalton/Flickr, CC BY-SA

Dapatkah agama dan spiritualisme meningkatkan perilaku beretika di tempat kerja? Ini adalah hal yang masih diperdebatkan, tapi penelitian kami yang mewawancarai 40 eksekutif papan atas India menunjukkan bahwa ada korelasi positif.

Kami menemukan kebajikan yang ditanamkan melalui tradisi berbagai agama dan spiritualisme (Hinduisme, Jainisme, Islam, Sikhisme, Nasrani, dan Zoroastrianisme) berperan dalam pengambilan keputusan yang etis di tempat kerja.

Tiga puluh tiga eksekutif menjelaskan bahwa tradisi tersebut menekankan nilai-nilai seperti integritas, fleksibilitas, moral yang baik, toleransi, dan tanggung jawab. Seorang eksekutif di sektor otomotif merenungkan nilai fleksibilitas:

…agama Islam mengajarkan kami untuk tidak menutup diri pada pandangan orang lain. Saya menggunakan falsafah atau nilai ini dalam pekerjaan saya. Saya mendengarkan rekan-rekan saya. Kami mencari jalan keluar saat berbeda pandangan dan mencapai titik temu yang sama-sama bisa diterima setiap saat, kami berupaya menghargai kepercayaan masing-masing.

Beberapa eksekutif bahkan merasa bahwa mengundurkan diri dari jabatan mereka saat berhadapan dengan dilema etika adalah pilihan yang lebih baik.

Faravahar, simbol utama Zoroastrianisme yang menekankan ‘Pikiran yang Baik, Perkataan yang Baik, Perbuatan yang Baik’ sebagai prinsip dasar agama tersebut. Kevin McCormick/Wikimedia, CC BY-ND

Mereka mengaitkan keputusan tersebut dengan kebajikan etis yang ditanamkan oleh agama dan spiritualitas mereka saat mengambil keputusan yang sulit. Seorang eksekutif dari sektor TI menyebutkan bahwa dia meninggalkan pekerjaan sebelumnya karena latar belakang agamanya bertentangan dengan pelanggaran hak cipta yang dilakukan perusahaan tersebut secara terus menerus. Dia berpegang teguh pada integritasnya:

Saya tidak bisa tidur selama beberapa malam dan berbicara dengan penasehat agama Zoroaster saya yang menyarankan agar saya mencari pekerjaan di tempat lain. Saya meninggalkan perusahaan tersebut untuk bergabung di tempat saya saat ini dan saya merasa berhasil menghindari situasi yang tidak saya inginkan.

Namun, tujuh orang eksekutif yang tidak menganut agama atau spiritualitas tertentu mengusulkan kebajikan tidak berbasis agama yang menekankan pada pendekatan humanistik dan pragmatisme profesional juga perlu dianjurkan.

India memiliki masyarakat yang terdiri atas berbagai iman, maka ada pertimbangan bahwa pandangan tersebut akan membantu para pekerja untuk tetap bersikap netral. Seorang eksekutif di sektor media menyarankan agar orang-orang yang tidak religius dan tidak spiritual didorong untuk bergantung pada kepercayaan humanistik mereka sendiri:

Etika harus diterapkan pada tingkat manusia. Ketika kita menggunakan penafsiran agama, ada perdebatan dan kebingungan yang tak berujung. Etika bagi saya adalah topik sekuler. Anda harus peka dan menimbang konsekuensi dari tindakan bisnis Anda dalam membuat suatu kode etik. Agama dapat memberikan suatu gambaran, tapi bagi saya agama justru menjadi penghalang.

Dalam spiritualisme berbasis agama, inspirasi-inspirasi tertentu dari satu atau lebih tradisi agama dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

Dalam spiritualisme tidak berbasis agama biasanya ada ketiadaan kepercayaan pada agama. Spiritualisme yang demikian mendasarkan diri pada nilai-nilai sekuler atau humanistik, seperti keterkaitan dengan orang lain di tempat kerja atau di masyarakat dan memiliki tujuan yang lebih tinggi dalam hidup tanpa perlu merujuk pada Tuhan atau Sang Pencipta.

Kajian-kajian terbaru mengaitkan keagamaan dan spiritualisme dengan tanggung jawab sosial perusahaan, perilaku altruistik; dan perilaku pro-sosial dan etis.

Kajian-kajian lainnya justru bertentangan dengan kesimpulan-kesimpulan tersebut, dengan bukti-bukti temuan yang juga kontradiktif. Ada yang berargumen bahwa keagamaan dan spiritualisme berbasis agama dapat meningkatkan perilaku tidak etis. Misalnya, mendiskriminasi orang lain yang tidak memiliki kepercayaan yang sama. Hal ini bisa juga berdampak saat proses rekrutmen dan bagaimana seseorang berperilaku terhadap koleganya di tempat kerja.

Banyak agama menekankan empati sebagai keyakinan inti. juggadery/Flickr, CC BY-ND

Mengembangkan keputusan yang etis

Makalah kami yang terbit pada Mei 2017 mengkaji peran keagamaan dalam pengembangan kebajikan etis di India. Kebajikan tersebut termasuk empati, keadilan, kesederhanaan, transparansi, nurani, kebijaksanaan, dan kekuatan moral.

Kebajikan tersebut berkembang menjadi kompetensi yang membantu meningkatkan perilaku-perilaku etis. Misalnya, empati terkait dengan bagaimana cara seseorang berhubungan dengan bawahannya dan membangun hubungan kerja yang berkualitas. Cara-cara tersebut termasuk “mengembangkan individu tersebut”, “membangun hubungan yang bersahabat”, dan “tidak memanfaatkan senioritas untuk membuat bawahan melakukan sesuatu yang tidak etis”.

Kesederhanaan menekankan pada integritas pribadi dan berperan dalam “menghindari kontak dengan seseorang yang berkepribadian meragukan” dan “tidak goyah dari prinsip-prinsip etis pribadi”.

Nurani meliputi kemampuan untuk tetap berperilaku etis saat berhadapan dengan godaan. Seorang eksekutif di sektor teknik menuturkan bahwa ketika koleganya menyarankannya untuk memanipulasi harga produk dengan mencantumkan mark up yang tidak masuk akal, dia menolaknya dan menyarankan:

Saya akan selalu berusaha untuk tidak mengelabui pelanggan saya. Saya akan memastikan mereka mendapatkan kualitas yang baik.

Dilema dan paradoks etika

Meskipun agama dan spiritualisme mengajak pengikutnya untuk turut menerima hal-hal buruk dalam hidup, perilaku tidak etis seperti korupsi, penyuapan, kroniisme, dan nepotisme tampak tak terkendali di India.

Pengunjuk rasa dalam aksi menolak korupsi, Pune, 2011. Nizardp/Wikimedia, CC BY-ND

Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada orang-orang yang mendalihkan perilaku tidak etis mereka sebagai akibat tekanan eksternal untuk menyesuaikan diri. Tekanan demikian yang dibarengi ketamakan pribadi bisa dibilang mengalahkan segala tujuan untuk tetap etis.

Pendidikan yang dilakukan secara berkala dalam bentuk seminar, lokakarya, pelatihan, dan studi kasus terkait kebajikan etis penting untuk dilaksanakan. Misalnya, seorang eksekutif di bidang jasa konsultasi menjelaskan:

“Perusahaan kami mengadakan lokakarya yang kami hadiri secara berkala dan kami membaca banyak buku dan jurnal. Kami menjumpai banyak isu terkait praktik dan apa saja yang terjadi di seluruh dunia. Itu cara kami untuk memperbarui diri kami dan berupaya memiliki pemikiran positif dalam praktik etika.”

Inisiatif demikian berdampak pada peningkatan pengambilan keputusan yang etis di tempat kerja ketika kebajikan berdasarkan agama dihilangkan.

Beberapa perusahaan multinasional India berbisnis di berbagai negara dan standar dan ekspektasi etika dapat bervariasi berdasarkan negara dan budaya.

Seorang eksekutif di sektor TI menyebutkan kecerdasan emosional dapat dimanfaatkan saat menghadapi dilema etika dalam konteks persilangan budaya. Hal ini termasuk menyadari dan menyelaraskan diri dengan orang lain serta memiliki pandangan ke depan bagaimana tindakannya berdampak pada orang lain.

Jelas kecerdasan emosional dapat memberikan pencerahan yang dibutuhkan untuk menentukan etis atau tidaknya suatu keputusan. Ini juga merupakan keahlian yang sangat diperlukan dalam pengembangan kepemimpinan diri.

Konsistensi dalam pengambilan keputusan serta memimpin dengan memberikan contoh perlu dilakukan agar etika dapat dikokohkan. Gaya pengambilan keputusan yang tidak konsisten, satu hari pemimpin memandang tinggi etika lalu keesokan harinya mengabaikan etika hanya memberikan kesan bahwa kompromi dapat diterima.

Globalisasi dan perpindahan tenaga kerja membuat banyak perusahaan baik di negara maju (Australia, Singapura) dan berkembang (Brasil, Malaysia) menjadi multikultural.

Di tempat kerja yang memiliki beragam iman seperti itu, memiliki pendekatan etika yang inklusif dan bergantung pada nilai-nilai dasar yang dikandung dalam keagamaan, spiritualisme, dan kemanusiaan dapat memberikan konsistensi dalam pengambilan keputusan yang etis.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 97,000 academics and researchers from 3,134 institutions.

Register now