Menu Close

Apakah vaksinasi 180 juta penduduk Indonesia cukup untuk membuat masyarakat kebal COVID-19?

Pemuka agama antre mengikuti vaksinasi COVID-19 massal di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Bali, 16 Maret 2021. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.

Target pemerintah Indonesia untuk memberi vaksin COVID-19 pada 180 juta warga negara (66,7% penduduk) berpotensi belum cukup untuk menciptakan kekebalan masyarakat atau herd immunity.

Kekebalan masyarakat atau herd immunity adalah kondisi ketika cukup banyak populasi kebal terhadap penyakit menular sehingga mereka dapat memberikan perlindungan pada semua penduduk termasuk yang belum kebal atau mereka yang tidak dapat membentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Penentuan angka cakupan vaksinasi seharusnya didasarkan pada jenis vaksin yang digunakan, efikasi dari vaksin tersebut, serta varian galur virus yang dominan di daerah tersebut.

Hingga saat ini, terdapat setidaknya 3 jenis varian virus penyebab COVID-19, yang menimbulkan keresahan para ahli kesehatan dunia.

Varian B.1.1.7 yang ditemukan pertama di Inggris, telah terbukti lebih menular dan menyebabkan angka kematian 55% lebih tinggi.

Varian B.1.351 yang terdeteksi pertama kali di Afrika Selatan memiliki potensi penularan antarindividu 30-80% lebih tinggi dibandingkan dengan galur murni.

Varian P.1 yang diidentifikasi di Brasil, terbukti 1.4–2.2 kali lebih menular dibandingkan dengan galur murni,

Semakin menular suatu infeksi dan semakin rendahnya efikasi vaksin, maka semakin tinggi cakupan vaksinasi yang dibutuhkan untuk mencapai kekebalan masyarakat.

Melihat perkembangan mutasi virus dan penyebarannya, maka untuk memastikan terwujudnya herd immunity, penentuan cakupan vaksin pada masyarakat seharusnya disesuaikan dengan varian virus yang dominan menyebar di masyarakat.

Pemerintah perlu meningkatkan cakupan vaksinasi

Dalam sebuah studi pemodelan, diketahui untuk dapat mencapai kekebalan masyarakat dibutuhkan setidaknya vaksinasi pada 69% populasi (dengan pemberian vaksin produksi Pfizer efikasi 94,8%) atau 93% populasi (dengan pemberian vaksin produksi Oxford-AstraZeneca efikasi 70,4%).

Penelitian lain menunjukkan bahwa dengan efikasi vaksin 90%, kekebalan masyarakat dapat dicapai dengan memvaksinasi 66% populasi. Namun, vaksin dengan efikasi kurang dari 70% tidak dapat mencapai kekebalan masyarakat dan dapat mengakibatkan terjadinya wabah yang berkelanjutan.

Hasil penelitian-penelitian ini dijadikan dasar pengambilan kebijakan cakupan vaksinasi di Australia. Di negeri Kanguru cakupan vaksinasi bukan suatu angka yang mutlak.

Dari hasil penelitian yang tergambar pada Tabel 1, dengan efikasi vaksin buatan Sinovac hanya 65,3%, setidaknya 70% warga Indonesia harus divaksin (mempertimbangkan jumlah populasi yang belum bisa divaksin seperti anak-anak).

Perhitungan tersebut harus dilakukan ulang apabila jenis vaksin yang diberikan berbeda dan atau varian virus jenis lain menjadi dominan di Indonesia.

Tabel 1. Cakupan vaksin yang diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok berdasarkan efikasi vaksin

Varian baru SARS-CoV 2 dan implikasinya pada perkembangan vaksin

Keberadaan tiga varian baru virus COVID-19 merupakan peringatan bagi dunia, termasuk Indonesia, untuk segera mempercepat pelaksanaan vaksinasi.

Sebanyak 94 negara telah melaporkan keberadaan varian B.1.1.7, termasuk Indonesia.

Sebuah riset menunjukkan bahwa setidaknya dibutuhkan 82% populasi tervaksinasi untuk mengendalikan penyebaran varian B.1.1.7, dengan pemberian vaksin produksi Pfizer.

Selain itu, sebuah riset terbaru berbasis laboratorium berkesimpulan bahwa antibodi yang tercipta dari vaksinasi Moderna kelihatan sedikit kurang ampuh dalam membendung varian baru B.1.351. Pabrik pengembang vaksin Moderna tengah menyiapkan produksi booster(penguat) untuk mengatasi kurang ampuhnya vaksin dalam melawan varian baru B.1.351.

Riset lainnya yang lebih baru lagi (belum ditelaah rekan sejawat) menyatakan varian P.1 dapat lolos dari kekebalan yang dipicu oleh vaksin buatan Sinovac, vaksin yang kini juga dipakai di Indonesia.

Sinovac belum menanggapi permintaan komentar terkait hal ini.

Sementara itu, pemberian vaksin produksi Oxford-Astra Zeneca tidak dapat mencapai kekebalan masyarakat pada populasi yang dominan varian B.1.1.7.

Peran masyarakat untuk cegah penularan varian baru

Penularan yang tidak terkendali (akibat gagalnya upaya mitigasi seperti tes, pelacakan, dan isolasi, dan tingginya mobilitas manusia) turut membantu virus ini bermutasi dengan lebih cepat.

Varian baru menyebar dengan cara yang sama dengan galur aslinya, yaitu melalui kontak dekat antarmanusia, terutama di lingkungan yang ramai dan atau berventilasi buruk.

Oleh karena itu, langkah-langkah yang telah terbukti dapat mencegah penularan virus SARS-CoV-2 harus semakin diperkuat. Individu harus memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi (5M). Sedangkan pemerintah harus meningkatkan upaya test, tracing, dan treatment (3T).

Selain itu, pemerintah juga perlu memperluas dan menambah surveilans genomik dengan cepat dalam upaya mendeteksi mutasi-mutasi jenis baru pada masa depan.

Jangan sampai kecepatan virus bermutasi lebih tinggi daripada kecepatan penanganan pandemi ini.

Selain itu, salah satu variabel penting dalam kesuksesan cakupan vaksinasi COVID-19 adalah penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi.

Makin banyak masyarakat yang bersedia divaksin, makin besar cakupannya.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,500 academics and researchers from 3,992 institutions.

Register now