Menu Close

Bagaimana pandemi COVID-19 bisa membatasi proses belajar bahasa anak-anak

(Unsplash/Aaron Burden), CC BY

Pandemi COVID-19 membatasi mobilitas fisik manusia. Walaupun ini baik untuk meredam persebaran virus, pembatasan ini bisa berdampak pada proses pembelajaran bahasa pada bayi dan anak-anak.

Berbagai studi dan pendapat ahli, misalnya dari profesor ilmu bahasa di Amerika Serikat, Patricia Kuhl (2017), menunjukkan bahwa interaksi sosial menunjang proses anak belajar bahasa. Interaksi yang lebih intensif dengan lingkungan beragam akan membuat pemerolehan kosakata menjadi lebih cepat.

Namun ketika interaksi sosial anak-anak menjadi terbatas selama pandemi maka mereka tidak lagi mendapatkan referensi berbahasa yang bervariasi.

Hal tersebut tentunya akan berdampak pada kemampuan anak-anak dalam memperoleh kosakata baru. Temuan penelitian dari India dan Kanada mengungkap bahwa stimulasi pada masa emas pertumbuhan bayi atau anak, yakni tiga tahun pertama, sangat penting dalam menjamin lancarnya proses pemerolehan bahasa anak-anak di kemudian hari.

Ketika interaksi berkurang, apa dampaknya pada kemampuan bahasa anak?

Psikolog dari Amerika Serikat, B.F Skinner melalui teori perilakunya mengemukakan bahwa bahasa diperoleh melalui interaksi dengan sumber bahasa di sekitar anak.

B.F. Skinner, psikolog Harvard University di AS yang mengusung teori behaviorisme dalam pemerolehan bahasa anak. (Wikimedia Commons), CC BY

Artinya, potensi alamiah yang ada dalam otak bayi dan anak hanya akan berkembang lebih baik dan lebih cepat apabila mendapat stimulasi lingkungan melalui interaksi sosial.

Dari teori tersebut, kita bisa memahami bahwa terbatasnya interaksi bayi dengan orang di lingkungan sekitar akibat COVID-19 berpengaruh negatif terhadap proses pemerolehan bahasanya.

Pertama, akses anak terhadap guru berbahasa yang “alami” menjadi terbatas.

Selama pandemi, bayi dan anak hanya bisa belajar dari orang tua, saudara, dan sumber digital di internet.

Di luar ini, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dari sumber selain guru utama mereka, yakni orang tua. Sumber lain ini di antaranya adalah anggota keluarga besar, tetangga, bahkan orang-orang tidak dikenal yang bertemu tanpa sengaja.

Padahal, keberagaman sumber belajar ini - baik secara usia, gender, maupun latar belakang sosial dan budayanya - bermanfaat untuk pembelajaran bahasa anak dalam setidaknya tiga aspek.

Misalnya, secara fonologis (bunyi bahasa), anak memperoleh rujukan bunyi bahasa yang beragam untuk ditirukan. Secara kosakata, anak juga berpotensi mendapat kata yang lebih bervariasi karena keluarga dan budaya yang berbeda umumnya juga memiliki kosakata yang khas.

Sementara itu, secara semantik (makna bahasa) dan pragmatik (bahasa dalam praktik sehari-hari), anak juga dapat memahami aneka arti kata dalam berbagai konteks.

Misalnya, kata “bapak” memiliki makna yang luas. Jika di rumah kata itu hanya bermakna “ayah”, di masyarakat maknanya bisa atasan atau orang lain yang dihormati.

Dalam keluarga, sifat alamiah dari hubungan anak dan orang tua juga membuat komunikasi keduanya seringkali dibatasi kesantunan. Sementara di luar keluarga, kosakata yang diserap anak bisa lebih ekspresif dan kasual.

Ini terlihat saat memilih kata ganti orang kedua. Di rumah, pilihan kata sapaan relatif terbatas dalam hubungan keluarga, misalnya “ayah”, “bapak”, “ibu”, atau “mama”. Jika anak bergaul dengan beragam orang, sapaannya bisa bervariasi menjadi “kamu”, “kau”, “kalian”, bahkan serapan bahasa daerah dan asing seperti “sampeyan” atau “antum”.

Interaksi antara anak dengan berbagai orang yang beragam - dari tamu di rumah hingga pedagang di jalanan - membantu proses pemerolehan bahasa mereka. (Unsplash/Nghĩa Nguyễn), CC BY

Kedua, kesempatan interaksi bahasa dengan anak usia sebaya menjadi berkurang.

Penelitian tahun 2018 dari Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah menunjukkan lingkungan sosial yang baik membuat anak-anak lebih cepat mengembangkan kemampuan berbahasanya.

Salah satu aspek penting dari hal ini adalah adanya teman sebaya sebagai mitra belajar anak. Berhubungan dengan teman sebaya berkontribusi memicu kemampuan berbahasa anak karena mereka memiliki kesamaan.

Riset terhadap anak-anak usia prasekolah tahun 2009 di Amerika Serikat juga menunjukkan pertukaran verbal yang baik dengan teman sebaya akan menstimulasi anak di sekitarnya untuk lebih aktif berbicara dan mendengarkan.

Ketiga, tidak semua orang tua memiliki wawasan dan daya kreativitas yang tinggi untuk memfasilitasi stimulasi bahasa yang kaya untuk anak di rumah, terutama selama pandemi COVID-19 ini.

Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa orang tua kerap mengalami kendala dalam mendampingi anaknya belajar di rumah pada masa COVID-19.

Misalnya, tidak setiap orang tua tahu cara memberi stimulasi yang tepat kepada anak. Mereka juga kesulitan menumbuhkan minat belajar anak dan kerap tidak sabar dalam mendampingi anak-anak.

Padahal, di tengah minimnya interaksi, pengkondisian suasana di rumah sangat penting untuk memenuhi kebutuhan anak dalam mempelajari bahasa.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Dampak negatif pandemi COVID-19 menuntut peran orang tua untuk meningkatkan intensitas berkomunikasi dengan anak.

Perhatian serius dan kerja sama dari pemerhati perkembangan anak, akademisi, orang tua, pemerintah perlu diberikan untuk memenuhi hak anak mencapai perkembangan bahasa yang optimal.

Di saat ahli dan peneliti terus memperbarui wawasan tentang metode pemerolehan bahasa yang paling efektif untuk anak, maka orang tua dapat melakukan sejumlah tindakan sederhana dan praktis.

Orang tua bisa mengajak anak berbicara, menunjuk dan menamai benda-benda, serta membacakan dongeng setiap hari sebelum tidur. Untuk memperkenalkan keragaman bahasa di masyarakat, orang tua juga bisa bermain peran sembari mengenalkan tokoh-tokoh dengan berbagai latar belakang yang berbeda.

Orang tua bisa menggunakan alat bantu seperti rekaman dialog dan lagu secara selektif untuk mengganti interaksi anak-anak dengan lingkungannya. Tapi, film dan video Youtube sebaiknya dihindari untuk menghindari stimulasi yang berlebihan dan mencegah anak kecanduan gawai.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,100 academics and researchers from 3,982 institutions.

Register now