Benarkah gol? Bagaimana teknologi - bukan hanya asisten wasit video - mengubah olahraga

Pemain Manchester City memprotes keputusan wasit yang menganulir gol untuk timnya ketika menghadapi Spurs, Agustus 2019. EPA-EFE/Peter Powell

Gol Gabriel Jesus dianulir saat Manchester City bertemu Spurs dalam lanjutan Liga Primer Inggris. Saat itu, wasit, melalui video assistant referee (VAR) atau asisten wasit video, memberi keputusan handball (bola tersentuh tangan) yang kontroversial. Hal ini memicu perdebatan sengit tentang penggunaan teknologi VAR.

Peraturan mengenai bola bersentuhan dengan tangan (atau sebaliknya) diubah pada Maret 2019 akibat kemunculan VAR. Peraturan baru ini menyebutkan bahwa handball yang memberikan keuntungan kepada pemain yang sedang menguasai bola akan dihukum – meskipun tidak disengaja. Peraturan sebelumnya memberikan wasit keleluasaan untuk memutuskan apakah itu disengaja atau tidak disengaja. Penggunaan teknologi efektif dalam menghilangkan keleluasaan wasit. Kasus handball Gabriel Jesus adalah salah satunya.


Read more: Video Assistant Referee: in football, as in war, sometimes we need a human touch


VAR telah menjadi topik pembicaraan utama dalam sepak bola papan atas, setelah gol pemain City yang sama dianulir saat menghadapi West Ham pada minggu pertama, kali ini disebabkan keputusan offside.

Para pembuat peraturan perlu meninjau kembali pendekatan yang diambil dalam keputusan offside. Para wasit menyatakan offside hanya jika ada “kesalahan yang jelas”. Kemudian, timbul pertanyaan mengenai apakah teknologi tersebut cukup akurat untuk mengukur offside dalam sudut tertentu.

Sepak bola akhirnya mengikuti olahraga lain yang lebih dulu menggunakan teknologi. Liga Rugby menyediakan wasit video pada 1996. Kriket memasukkan sistem pelacak bola Hawk-eye sejak 2001. Persatuan Rugby memperkenalkan Television Match Official (TMO) pada 2001. Dan tenis mulai menggunakan Hawk-eye pada 2002 untuk meninjau keputusan hakim garis.

Mereka kira ini sudah selesai

Pengenalan teknologi apa pun bisa mengubah pengalaman penonton - dan tidak selalu menjadi lebih baik. Teknologi mengurangi kesalahan, ini sangat penting dalam pertandingan olahraga. Namun, hal ini juga berarti gol bisa dicetak, dirayakan, dan kemudian dianulir, artinya penonton di stadion tidak lagi bertindak secara spontan. Alih-alih bisa melompat kegirangan saat timnya mencetak gol, mereka malah harus menunggu teknologi. Ini pengalaman yang tidak lagi sama.

Kritik lain adalah penonton sering tidak tahu apa yang terjadi di lapangan ketika VAR digunakan. Penggunaan layar lebar dalam stadion untuk menampilkan keputusan VAR telah disetujui pada Liga Primer musim 2019-2020. Insiden di lapangan ditunjukkan kepada penonton agar mereka dapat memahami apa yang sedang terjadi.

Namun kritik terkait apakah penonton perlu diperlihatkan seluruh proses pengambilan keputusan VAR masih terus berlanjut.

Di rumah, penonton mendapat manfaat dari teknologi. Ada lebih banyak sudut kamera, gambar yang lebih tajam, dan keuntungan bahwa setiap tinjauan VAR segera dikomunikasikan dan dijelaskan. Seperti yang dicatat oleh BBC, banyak orang mulai berpikir, apakah tidak lebih baik untuk menonton lewat televisi dan menghemat uang. Bila ini terjadi, maka akan menjadi bencana.

Perilaku buruk para pemain

Kita tahu bahwa perubahan dalam interpretasi peraturan antarnegara dapat mengubah perilaku wasit dan pemain. Masih terlalu dini untuk mengatakan VAR akan mengubah sepak bola, tapi dapat kita lihat bahwa teknologi telah mengubah perilaku pemain dalam cabang olah raga kriket.

Sistem peninjau keputusan (DRS) diperkenalkan pada 2001, sistem ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi dalam mengambil keputusan untuk tangkapan, dan ditingkatkan pada 2008 untuk mendeteksi leg-before-wicket (ketika kaki pemukul menghentikan bola yang menyentuh tunggul). Banyak tim yang sekarang memanfaatkan peraturan ini dan menyusun taktik yang dapat mengubah ritme permainan dan mengganggu konsentrasi pemukul - tentu saja tidak menyalahi semangat permainan.

Ada juga insiden perilaku pemain yang mempengaruhi penghapusan teknologi. Hotspot adalah sistem pemancar inframerah yang digunakan untuk menunjukkan apakah bola telah terpukul oleh pemukul. Namun, peraturan ini kemudian dicabut dari DRS setelah diketahui bahwa menempatkan pita di sepanjang tepi tongkat dapat menipu kamera hotspot dalam mendeteksi panas oleh gesekan ketika bola mengenai tongkat, tidak peduli seberapa tipis.

Wasit juga manusia

Teknologi juga dapat memberi tekanan pada wasit dan berkontribusi pada kinerja buruk wasit. Laga Ashes - sebutan untuk pertandingan kriket antara Inggris dan Australia - pertama pada 2019 menunjukkan sejumlah keputusan wasit yang dibatalkan seiring dengan penggunaan DRS.

Wasit bertugas hingga lima hari selama pertandingan, dan karenanya sejumlah keputusan yang salah dapat menciptakan tekanan selama pertandingan. Tekanan ini semakin meningkat begitu mengetahui bahwa keputusan mereka dapat ditantang dan dibatalkan oleh teknologi setiap saat.

Tekanan kepada wasit kriket datang dari paparan media dan penggunaan teknologi dalam pertandingan. Ini juga berlaku untuk wasit sepak bola yang terpapar liputan media luas.

Level lapangan olahraga

Dengan segala tekanan yang telah diuraikan, sudah cukup sulit bagi para wasit untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Kemudian harus memperhitungkan bahwa olahraga yang berbeda di berbagai negara harus berhadapan dengan variasi penerapan teknologi. (Misalnya, kontroversi mengenai penjaga gawang yang keluar dari garis gawang ketika penalti diambil.)

Ada banyak uang dan karir yang dipertaruhkan dalam olahraga profesional. Pengurus olahraga perlu berhati-hati tentang dampak perubahan yang terjadi pada olahraga mereka, baik dalam bentuk “produk” yang dinikmati langsung atau pun yang disiarkan oleh televisi, mengingat penjualan hak siar TV yang mencapai jutaan pound di seluruh dunia.

Jika pendukung berhenti menonton, jika perusahaan televisi berhenti membayar, mereka akan memiliki masalah besar. Dengan teknologi, terkadang kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita inginkan.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 95,200 academics and researchers from 3,098 institutions.

Register now