Cara menemukan hoaks tentang sains dan membaca berita seperti ilmuwan

LightField Studios/Shutterstock

Banyak berita yang menyesatkan, mulai dari coronavirus (penyebab COVID-19) hingga perubahan iklim.

Saat berita bohong, pemberitaan yang salah dan fakta alternatif ada di mana-mana, membaca berita bisa menjadi sebuah tantangan. Tidak hanya banyak misinformasi tentang pandemi coronavirus, perubahan iklim dan juga isu spesifik lainnya yang beredar di media sosial, Anda juga harus berhati-hati membaca artikel-artikel sains, bahkan dari publikasi ternama.

Kita sudah banyak melihat judul berita yang memberitakan vaksin coronavirus sebentar lagi akan ditemukan, padahal peneliti berusaha keras untuk menjaga ekspektasi bahwa kemungkinan besar vaksin akan memakan waktu lebih dari setahun sebelum bisa digunakan. Lalu bagaimana kita bisa membaca berita sains seperti ilmuwan, melihat di balik sensasi dan menemukan faktanya?

Dalam penelitian terbaru, kami menganalisis 520 penelitian akademik dan artikel berita yang melaporkan hasil penelitian mereka. Kami ingin mencari tahu bagaimana pengetahuan saintifik diolah dari para peneliti kepada publik melalui media.


Read more: We're climate researchers and our work was turned into fake news


Kami menemukan bahwa pengetahuan saintifik kerap diproduksi ulang, seringkali diinterpretasi kembali dan pada prosesnya membuat maknanya menjadi berubah. Berdasarkan penelitian ini, kami merasa ada beberapa hal penting yang bisa dilakukan pembaca untuk menemukan berita bohong dan mencari fakta sebenarnya.

Dalam penelitian ini kami melihat bahwa transformasi konten yang dilakukan media bisa dilakukan dalam beberapa cara. Tujuan utama sebuah penelitian seringkali berubah menjadi asumsi bagaimana hasil penelitian tersebut bisa berdampak bagi masyarakat. Seperti pada penelitian tentang tikus, seringkali dianggap memiliki dampak kepada manusia.

Penggunaan bahasa ilmiah yang terkesan teknis juga turut berganti menjadi kalimat umum yang lebih menggugah, bahkan sensasional. Diagram dan grafik digantikan dengan gambar, membuat artikel terlihat memiliki hubungan dengan eksperimen atau aplikasinya pada manusia, meski tidak ada hubungannya dengan artikel yang ditampilkan.

Eksperimen pada tikus seringkali dianggap memiliki dampak yang sama pada manusia. Gorodenkoff/Shutterstock

Salah satu contohnya adalah pemberitaan di situs Mail Online pada 2016.

Dalam tulisannya, berita ini menyatakan bahwa “peneliti sudah mencoba implan otak pada tikus untuk membangun ‘indra keenam’ yang bisa membuat mereka mendeteksi dan bereaksi dengan sumber cahaya yang umumnya tidak terlihat”. Artikel tersebut juga menyatakan bahwa penelitian ini memungkinkan dilakukan pada otak orang dewasa dan membuat manusia memiliki kekuatan super.

Memang penemuan yang mengejutkan. Namun, mengapa terobosan baru yang ditemukan dalam penelitian tersebut tidak banyak diangkat oleh media?

Penelitian tersebut awalnya dipublikasikan di Journal of Neuroscience oleh sebuah kelompok peneliti di Pusat Medis Duke University, Amerika Serikat. Penelitian mereka mencari tahu bagaimana kita bisa dengan mudah mengganti proses sensorik pada tikus dewasa. Dengan mengimplan otak tikus dengan sebuah alat, mereka bisa mengajarkan tikus dewasa untuk mengidentifikasi lokasi sumber cahaya infra merah. Penelitian ini sukses, bahkan tim peneliti bisa mengajarkan tikus tersebut dalam kurang dari empat hari.

Peneliti yang menyusun penelitian ini menyarankan penemuan mereka bisa memberikan dampak penting untuk ilmu syaraf dasar dan pengobatan rehabilitasi. Sayangnya, artikel dari Mail Online membuat hasil penelitian ini ke tingkat selanjutnya dengan mengartikannya sebagai kemungkinan untuk manusia memiliki kekuatan super.

Sebelumnya, penelitian ini sudah pernah ditulis di New Scientist, yang kelihatannya menjadi salah satu referensi tulisan yang ditampilkan di Mail Online. Kebalikan dengan artikel di Mail Online, laporan di New Scientist fokus pada tikus dan mencantumkan bahwa riset ini membuka jalan bagi augmentasi otak manusia. Artikel ini menggunakan gambar-gambar yang mengilustrasikan kontrol pikiran oleh manusia. Artikel tersebut kurang bombastis dibanding Mail Online yang melaporkan penelitian tersebut sebagai sebuah tahapan memberikan manusia kekuatan super.

Segala jenis pemberitaan ini membuat pembaca harus mencari tahu berita mana yang akurat dan tidak. Penting untuk mengajarkan masyarakat bagaimana cara untuk membaca berita seperti seorang ilmuwan, tanpa pelatihan yang sama.

Langkah-langkah untuk membaca seperti ilmuwan

Lantas, bagaimana caranya kita membaca berita dari sudut pandang sains? Berdasarkan riset, kami sudah merumuskan enam langkah untuk membantu Anda lebih kritis dengan informasi saintifik.

  1. Selalu waspada dengan interpretasi yang berbeda dari sumber utama. Informasi yang kita dapatkan bisa saja diinterpretasi ulang, dimodifikasi atau bahkan tidak dihiraukan. Berita yang kita baca bergantung pada pemahaman dan informasi yang ditampilkan oleh seorang jurnalis selaku penulis artikel. Ini seperti bermain permainan “telepon” yakni pemain memberikan sebuah pesan ke pemain lainnya dengan berbisik.

  2. Khususnya, Anda sebaiknya curiga pada klaim yang mengejutkan dan dilebih-lebihkan (seperti memberikan seseorang “Indera keenam”). Klaim yang luar biasa juga membutuhkan bukti yang luar biasa.

  3. Cek akurasi dan kejelasan detail yang disampaikan pada artikel tentang sebuah penelitian. Fakta yang sudah dibuktikan dalam sebuah eksperimen lebih kuat daripada hanya menyatakan sesuatu yang mungkin terjadi pada masa depan.

  4. Cari referensi atau tautan sumber asli dari bacaan Anda, seperti yang diberikan pada tulisan ini. Hal ini menunjukkan bahwa jurnalis tersebut sudah membaca hasil penelitiannya dan paham apa yang seharusnya dimasukkan dalam artikel.

  5. Cek apakah argumen pada artikel muncul dari peneliti yang melakukan riset tersebut. Anda bisa mencari kutipan atau membandingkannya dengan publikasi penelitian yang asli. Tentu jika Anda bisa melakukannya.

  6. Lihat media lain yang memberitakan cerita yang sama. Anda berhak skeptis jika hanya satu media yang menulis tentang penelitian luar biasa itu. Ini saatnya Anda mempunyai skeptisisme yang sedikit berlebih.

Mengembangkan keahlian ini bisa membantu Anda mengetahui berita bohong dan memahami sumber mana yang seharusnya Anda percayai. Bahkan sumber tepercaya bisa saja melebih-lebihkan atau salah mengartikan sesuatu.

Nashya Tamara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 106,300 academics and researchers from 3,430 institutions.

Register now