Cara tingkatkan perilaku daur ulang: berikan diskon, promosi dan koneksi sosial kepada konsumen

Apakah Anda selalu bingung memutuskan sampah masuk ke bagian daur ulang, untuk kompos, atau ke TPA untuk dibakar? Anda tidak sendirian. Kebanyakan orang AS juga masih bingung dengan konsep daur ulang.

Akibat Cina yang menolak menerima lagi impor scrap metal dari negara lain menimbulkan krisis dan memperparah keadaan.

Situasi semacam ini membuat orang tidak yakin apakah barang yang dimaksudkan untuk daur ulang benar-benar didaur ulang.

Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang AS akhirnya tidak memilah sampah mereka untuk didaur ulang. Atau, mereka hanya terjebak pada ‘daur ulang semu’ dengan hanya memasukkan sampah yang tidak bisa didaur ulang ke tempat sampah. Meskipun, kebanyakan sampah ini akhirnya tidak didaur ulang. Akhirnya, kebanyakan orang merasa terintimidasi dengan tugas mendaur ulang.

Rata-rata orang AS menghasilkan sekitar 4,5 pound sampah setiap hari.

Namun, hanya 1,5 pound yang bisa didaur ulang atau menjadi kompos.

Artinya, satu orang di AS akan mengirimkan sekitar 67.000 pound sampah ke TPA dalam rentang waktu 78,7 tahun. Ini setara dengan dua kali berat jangkar sebuah kapal pesiar.

Material scrap menumpuk di pusat daur ulang AS karena tidak bisa lagi dikirim ke Cina. AP Photo/Charles Krupa

Meskipun banyak komunitas dan advokat yang telah mengadopsi peraturan dan rencana aksi terkait dengan ekonomi sirkuler, namun tantangan terbesar masih membuat orang susah untuk mengurangi, menggunakan ulang, dan mendaur ulang.

Kebijakan yang ada dirancang berdasarkan penilaian dari para teknisi dan ekonom, dan menyisakan sedikit pemahaman tentang ulah manusia di level individu yang bisa cocok dengan sistem.

Saya bersama kolega menggunakan ilmu tentang perilaku untuk melihat target dari konservasi energi hingga solidaritas komunitas.

Dalam tulisan terbaru, bersama dengan Marieke Huysentruyt dan ekonom Emma Barnosky, kandidat Ph.D., saya mengungkapkan adanya solusi menjanjikan atas krisis daur ulang yang didorong oleh keuntungan personal dan koneksi sosial.

Mengapa daur ulang sangat berat

Mengapa sangat susah membuat orang AS untuk mendaur ulang? Pertama, kebanyakan dari mereka tidak mengerti persoalan sampah dan strategi daur ulang. Hanya beberapa yang paham tentang masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah, dan kebanyakan kesulitan mengaitkan aksi individu kepada masalah sampah.

Mereka tidak tahu kemana sampah mereka akan berakhir, baik yang sudah didaur ulang atau yang menjadi produk sampingan. Mereka mungkin tahu jadwal membuang sampah dan mendaur ulang, tapi tidak tahu mana material yang akan diterima oleh perusahaan.

Dalam sebuah survei tahun 2019, dari sekitar 2000 orang AS, 53% dari mereka beranggapan bahwa boks bekas pizza harus didaur ulang dan 68% berpikir hal yang sama untuk peralatan makan berbahan plastik.

Panduan yang kompleks membuat para konsumen sulit untuk mendaur ulang secara benar. Town of Danvers, Mass.

Sekitar 39% dari responden menyatakan ketidaknyamanan dan kurangnya akses ke fasilitas daur ulang sebagai tantangan terbesar. Warga California membayar biaya sekitar 5 hingga 10 sen untuk setiap kaleng minuman, tapi fasilitas yang tersedia sangat jauh untuk dijangkau.

Contohnya, fasilitas daur ulang terdekat di rumah saya di Los Angeles jaraknya 8 mil, atau satu jam berkendara mobil. Ini tidak sepadan hanya untuk mengantarkan beberapa kaleng sampah.

Tentu saja, kebanyakan konsumen di AS tidak suka dengan polusi, namun riset menunjukkan bahwa mereka tidak menganggap diri mereka sebagai kontributor yang signifikan terhadap polusi tersebut.

Sebagai pembayar pajak, mereka justru menaruh tanggung jawab kepada pemerintah setempat untuk daur ulang. Banyak yang tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan, atau apakah aksi mereka membuat perubahan.

Pentingnya motivasi

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi rintangan-rintangan ini? Menyampaikan pesan yang lebih baik, misalnya menekankan bagaimana sampah dapat diubah ke obyek baru dan bisa membuat perubahan.

Namun, saya berargumen di buku saya di tahun 2018, The Green Bundle: Pairing the Market With the Planet,” bahwa informasi saja tidak dapat mendorong perilaku yang berkelanjutan. Orang harus memiliki motivasi dan motivasi yang terbaik adalah dengan menyatukan keuntungan lingkungan dengan personal, seperti hadiah ekonomi, meningkatkan koneksi status atau sosial.

Dalam sebuah survei di tahun 2014, sekitar 41% responden mengatakan bahwa uang atau hadiah merupakan cara efektif bagi mereka untuk daur ulang. Sistem take-back (ambil kembali), misalnya dengan deposit kaleng dan botol, terbukti efektif untuk beberapa konteks. Meskipun sistem semacam itu harus lebih nyaman lagi bisa diterapkan.

Mengembalikan botol-botol ke toko adalah satu kemungkinan, namun strategi yang lebih baik lagi sedang dikembangkan di seluruh negeri, yaitu pay-as-you-throw“ (bayar saat kau buang), sebuah kebijakan yang membuat konsumen membayar setara dengan sampah padat yang mereka buang, sehingga memberikan insentif bagi pengurangan sampah, menggunakan kembali, dan lebih ke arah pembelian yang berkelanjutan.

Recyclebank, sebuah perusahaan berbasis di New York, sudah menawarkan hadiah kepada konsumen yang mendaur ulang dengan diskon dan tawaran kepada pebisnis lokal dan nasional.

Status dan dukungan

Status sosial juga memotivasi orang. Gaya hidup nol-sampah telah menjadi sensasi tersendiri di media sosial, meningkatkan nama para influencer di Instagram seperti Bea Johnson, Lauren Singer dan Kathryn Kellogg, yang kini sedang berkompetisi siapa yang meninggalkan sampah paling sedikit. Visibilitas dari perilaku konservasi itu penting, dan bisa menjadi komponen kuat dalam skema pay-as-you-throw.

Bea Johnson, seorang minimalis, mengklaim bahwa gaya hidup nol sampah mengurangi banyak hal : kurangi sampah dan kurangi daur ulang.

Jadi, cukup baik bila mendapatkan dukungan. Organisasi yang mau membantu, atau grup-grup yang digerakkan oleh komunitas, bisa mendorong adanya perubahan perilaku melalui koneksi sosial dan interaksi langsung. Mereka memiliki potensi untuk mentransfer informasi yang berdaya guna dan bertahan dalam komitmen jangka panjang.

Salah satu contoh terkenal adalah Alcoholics Anonymous, sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang bermasalah dengan ketergantungan alkohol. Kelompok ini menitikberatkan kepada keahlian para anggota ketimbang instruksi dari petugas kesehatan.

Contoh lain, Weight Watchers, sebuah grup yang fokus kepada komunikasi terbuka, dan yang mendukung keberhasilan kemajuan penurunan berat badan dan hubungan yang saling mendukung antar anggota.

Sebuah perusahaan rintisan asal Prancis, Yoyo, yang didirikan pada tahun 2017, telah mengaplikasikan strategi ini untuk daur ulang. Yoyo menghubungkan para partisipan dengan para pelatih, baik individu maupun dari kalangan bisnis, untuk membantu mereka memilah barang-barang untuk daur ulang. Para pelatih ini akan melatih dan mendorong para pemilah, yang akan mendapatkan poin dan hadiah, seperti tiket nonton.

Proses tersebut juga memberikan status tersendiri, memberikan para pemilah dengan visibilitas sosial yang positif untuk pekerjaan yang biasanya tidak ada ucapan terima kasih.

Dan, karena hadiah cenderung bersifat lokal, maka infrastruktur Yoyo memiliki potensial untuk meningkatkan koneksi antara anggota di komunitas tersebut, mempererat kedudukan sosial di grup tersebut.

Sistem ini menawarkan pendekatan yang nyaman, bersifat sosial dan berdasarkan insentif. Dalam dua tahun ke depan, komunitas tersebut telah tumbuh menjadi 450 pelatih dan 14.500 pemilah dan pengumpul dengan hampir 4,3 juta botol plastik.

Namun, program yang berdasarkan kepada perilaku tersebut tidak bisa memecahkan masalah dari krisis sampah global, antara lain kapasitas daur ulang dan harga material scraps yang fluktuatif. Meski demikian, riset kami menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan teknologi dan sikap manusia, maka sains tentang yang fluktuatif. Meski demikian, riset kami menunjukkan bahwa memanfaatkan teknologi dan perilaku manusia, maka ilmu perilaku bisa mendorong orang untuk mendaur ulang lebih efektif ketimbang kampanye atau slogan.

This article was originally published in English